x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Jenius Nash, Schizophrenia, dan Kematian Tragis

Sekitar seminggu setelah menerima Abel Prize, John Nash, Jr. meninggal. Dalam masa yang panjang, ia pernah menjadi tawanan Schizophrenia.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ketika mengajukan lamaran untuk mengikuti program doktor, John Forbes Nash., Jr. membawa serta rekomendasi dari seorang profesor. Tertulis di situ: “Orang ini jenius.” Nash menjadi doktor pada usia 21 tahun dengan disertasi setebal 27 halaman, itupun sudah termasuk satu halaman untuk ucapan terima kasih dan daftar pustaka. Daftar pustaka inipun hanya memuat dua sumber. Pertama, karya John von Neumann dan Oskar Morgenstern, Theory of Games and Economic Behavior, dan yang kedua tulisan Nash sendiri di sebuah jurnal.

Hadiah Nobel Ekonomi yang diberikan pada 1994 kepada John Nash merupakan pengakuan terhadap besarnya pengaruh pikiran Nash terhadap bidang ekonomi. Meskipun, pertama-tama dan terutama, ia seorang matematikawan. Pengaruh Nash sesungguhnya lebih luas lagi, memasuki wilayah biologi evolusioner, strategi politik dan militer, dan bidang lain yang melibatkan kompetisi di dalamnya.

Teori permainan modern diartikulasikan pertama kali oleh von Neumann dan Morgenstern dalam buku rujukan disertasi Nash. Von Neumann berusaha memahami dan memprediksi interaksi di antara para pesaing dalam lingkungan tertentu. Ketika Perang Dingin berlangsung, teori permainan begitu fashionable dan amat bermanfaat.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Von Neumman dan Morgenstern mengasumsikan adanya ‘zero-sum game’: dalam suatu kompetisi pada akhirnya hanya ada satu pemenang dan lainnya pecundang. Nash punya sudut pandang lain. Menurut Nash, hanya sedikit permainan dengan gaya zero sum game seperti itu.

Nash mengembangkan teori sendiri yang mencakup cooperative game (kesepakatan dapat dibuat) dan non-cooperative game (kesepakatan tidak dapat dibuat). Negosiasi itu akan mencapai titik tertentu, inilah yang dikenal sebagai Nash euqilibrium. Studi Nash ini dimanfaatkan dalam konteks pembuatan keputusan dalam situasi konflik yang kemudian menjadi salah satu the most celebrated work dalam teori permainan.

Gagasannya itu banyak dikutip dan diaplikasikan ke berbagai bidang. Di usia muda, ia telah dianggap matematikawan hebat karena orisinalitas pemikirannya. Harold W. Kuhn, sejawat Nash yang meninggal pada 2014, mengatakan “Sejujurnya saya berpikir bahwa tidak banyak gagasan hebat abad ke-20 dalam ekonomi dan, di antara 10 teratas terdapat keseimbangan Nash.” Roger Myerson, ekonom University of Chicago, membandingkan dampak keseimbangan  Nash pada ekonomi dengan ‘penemuan DNA double helix dalam ilmu hayati.’

Namun paranoid schizophrenia merenggut Nash di tengah masa kecemerlangannya itu saat ia bekerja di Massachusetts Institute of Technology, Boston, dan tengah memelajari teori kuantum. Delusi, halusinasi, dan impresi tengah dibuntuti terus oleh seseorang terus menghantui hidup Nash selama hampir 25 tahun. Ia tenggelam dalam dunianya sendiri: memburu angka-angka untuk menemukan pesan tersembunyi dari makhluk angkasa luar.

“Bagaimana bisa, seorang matematikawan yang berpegang kepada nalar dan bukti logis seperti Anda memercayai bahwa makhluk angkasa luar mengirimi Anda pesan-pesan?” tanya sejawatnya.

Kejeniusan dan gangguan mental sudah lama menjadi wilayah kajian yang didalami oleh banyak ahli. Mereka ingin mengetahui, mengapa banyak jenius yang harus pula bergulat dengan ketidakstabilan mental atau memiliki kencondongan yang aneh. Perpaduan itu bukan hanya dijumpai pada jenius seni, seperti pelukis Vincent van Gogh, penyair Sylvia Plath, ataupun novelis Virginia Wolf, tapi juga pada ilmuwan seperti Nash dan Ludwig Eduard Boltzmann.

Boltzmann, fisikawan Austria, memberi sumbangan penting bagi mekanika statistik. Meraih gelar doktor fisika di usia 22 tahun dan menjadi profesor tiga tahun kemudian di Universitas Wina, Boltzmann menjalani hidup yang tidak mudah. Beragam penyakit menemani Boltzmann, dan yang paling buruk ialah bipolar disorder.

September 1906, saat berlibur ke Itali bersama keluarganya, dunia dikejutkan oleh tindakan Boltzmann yang menggantung diri di kamarnya. Ia ditemukan oleh putrinya seusai berenang. “Bunuh diri ini harus diletakkan di urutan pertama tragedi besar dalam sejarah sains,” tulis seorang ilmuwan.

Lain dengan Nash. Ia berhasil lepas dari cengkeraman schizophrenia berkat dukungan orang-orang di sekelilingya, khususnya isterinya—mereka sempat bercerai untuk kemudian menikah kembali. Dan semasa perceraian itu, isterinya tetap merawat Nash.

Memasuki kembali dunia normal tidaklah mudah. Pada pertengahan 1980an, Nash kembali ke dunia akademik. “Ini bukan sepenuhnya masalah kesenangan sebagaimana seseorang kembali dari ketidakmampuan fisik kepada kesehatan fisik yang baik,” ujar Nash mengomentari kembalinya ke dunia keilmuan yang rasional.

“Tanpa kegilaan,” tulis Nash, “Zarathustra hanya menjadi salah satu di antara jutaan atau miliaran individu manusia yang tinggal dan kemudian dilupakan.”

Sekitar pertengahan Mei lalu, Nash menerima Abel Prize dari Pemerintah Norwegia, bersama Louis Nirenberg, sebagai penghargaan atas karyanya tentang persamaan diferensial parsial nonlinier. Itulah penghargaan terakhir yang ia terima selagi hidup. Pada 23 Mei 2015, kematian menjemput Nash dan isterinya. Mereka terlempar dari taksi yang mengalami kecelakaan. (sbr foto: ishareimage.com) ***

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu