Bertani dengan Hati - Analisis - www.indonesiana.id
x

Kadir Ruslan

Civil Servant. Area of expertise: statistics and econometrics. Interested in socio-economic issues. kadirsst@gmail.com.
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Bertani dengan Hati

    Rahasia keberhasilan Daeng Tata ternyata sederhana. Ia bertani dengan hati, bahkan dengan sepenuh hati. Baginya, tanaman jagungnya ibarat seorang istri, ya

    Dibaca : 9.350 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Syahdan, suatu ketika, datanglah sejumlah peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), ke Desa Tanrara, Kecamatan Botonompo Selatan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Mereka ingin melakukan uji coba sekaligus memperkenalkan jagung variates baru yang konon hasil produksinya sangat menggembirakan.

    Agar produksinya maksimal, jagung varietas baru tersebut harus ditanam dengan teknik tertentu. Dan, teknik tersebut sedikit berbeda dengan teknik bercocok tanam yang selama ini diterapkan oleh petani setempat. Salah seorang petani, yang telah puluhan tahun bertani jagung, pun merasa tertantang. Ia adalah Daeng Tata.

    Daeng Tata memang bukan sarjana pertanian. Tapi, pengalamannya bertani selama puluhan tahun adalah rangkaian proses eksperimen yang tak bakal didapatkan di bangku kuliahan, di kampus manapun. Bagi Daeng Tata, secanggih apa pun sebuah teori, kebenaran di lapangan juga yang bakal membuktikannya.

    Maka, dilakukanlah “uji tanding” bercocok tanam jagung kala itu: peneliti IPB melawan Daeng Tata. Benih yang digunakan sama, varietas unggul baru dari IPB. Luas lahannya pun sama, sebidang untuk Daeng Tata, sebidang lagi untuk peneliti IPB. Yang berbeda hanyalah teknik bercocok tanamnya: hasil percobaan di laboratorium melawan pengalaman bertani jagung selama puluhan tahun di pedalaman Gowa.

    Singkat waktu, saat panen pun tiba. Secara mengejutkan, hasil panen jagung Daeng Tata ternyata lebih banyak. Ia unggul sekitar 300 kg jagung ontongan basah dari peneliti IPB untuk luasan panen yang sama. Itu artinya, berdasarkan teori efisiensi usaha tani, cara bertani Daeng Tata lebih efisien.

    Para peneliti IPB hanya bisa geleng-geleng kepala seraya mengacungkan jempol kepada Daeng Tata, sebuah pengakuan bahwa ia—yang pernah diganjar penghargaan sebagai petani jagung terbaik se-Sulawesi Selatan itu—memang petani hebat. Cara bertani jagungnya yang rada janggal menurut teori yang dipahami para peneliti IPB ternyata terbukti lebih unggul.

    Rahasia keberhasilan Daeng Tata ternyata sederhana. Ia bertani dengan hati, bahkan dengan sepenuh hati. Baginya, tanaman jagungnya ibarat seorang istri, yang harus selalu dipenuhi nafkahnya, lahir dan batin.

    Secara lahir, menurutnya, tanaman jagung membutuhkan suplai air dan hara yang cukup dan berimbang. Pengalaman bertani selama puluhan tahun menjadikan Daeng Tata tahu betul kebutuhan air dan pupuk yang pas untuk tanaman jagungnya.

    Secara batin, sama halnya seorang istri, tanaman jagung juga butuh kasih sayang dan kehangatan. Karena itu, tanaman jagung harus sering dikunjungi dan dibelai dengan mesra.

    Agar lebih dekat dengan tanaman jagungnya, Daeng Tata melakukan pengaturan jarak tanam. Sejumlah baris sengaja dikosongkan dengan pola yang teratur sebagai tempat ia berlalu lalang, bercengkrama dengan tanaman jagungnya.

    Dalam ilmu pertanian moderen, pola tanam Daeng Tata memang sangat ampuh dalam meningkatkan produksi melalui yang namanya border effect atau efek pinggir. Hal itu terjadi karena tanaman yang tumbuh di tepi bakal memperoleh suplai hara yang maksimal dan tumbuh lebih bebas. Semakin banyak tepinya, semakin besar efek pinggirnya.

    Pertanyaannya, kenapa perumpamaannya harus seorang istri? Begini kawan, seperti kata Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), lelaki Bugis-Makassar, seperti Daeng Tata, konon memiliki motif yang sederhana dan mudah ditebak dalam mengumpulkan materi. Pertama, jika uang sudah terkumpul banyak ia akan naik haji. Kedua, jika sudah naik haji, ia akan cari istri lagi.

    Hahaha...mudah-mudahan hal tersebut hanya kelakar Pak JK yang terlahir dari seorang saudagar Bugis, Haji Kalla, yang kebetulan beristri dua. (*)

    Ikuti tulisan menarik Kadir Ruslan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: museisman

    2 hari lalu

    Superior

    Dibaca : 186 kali