Tobong, Dulu Pamit Mati, Sekarang Horniman South Balcony - Analisa - www.indonesiana.id
x

Wulung Dian Pertiwi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Tobong, Dulu Pamit Mati, Sekarang Horniman South Balcony

    Dibaca : 6.442 kali

    Dari 12 yang dipamerkan di situs, foto berjudul Dunes terlihat menarik. Seorang pemain dengan kostum prabu menumpangkan kaki kanan ndlamak, tanpa alas, pada kotak fiber berwarna merah yang di tengah salah satu sisinya berlabel Coca Cola. Latarnya lautan pasir sedikit membukit, di Pantai Parangtritis, Yogyakarta, tertulis di uraian, di samping kanan. Karena keseluruhan tema adalah anakronisme, maka gambaran raja masa lalu dengan kotak Coca Cola akan paling cepat tercerna, menurut saya.

    Dekontekstual, terutama anakronisme, dipilih juru foto menggambarkan perjalan tobong, yang menjadi bidikan utama. Obyek-obyek tidak nyambung, dari waktu yang kontras, sengaja dimunculkan satu bingkai mewakili ide sang seniman menyuguhkan rekaman nasib kelompok terakhir kethoprak tobong. Di Museum Horniman, London, Inggris, pameran foto ini sedang berlangsung.

    Era tobong boleh dikatakan lewat, tapi pameran foto seperti itu ibarat menjawab tantangan jaman menurut saya. Jika biasanya media tobong adalah pentas, maka foto kemungkinan ruang lain. Keberhasilannya sama untuk ukuran ekspresi seni, karena di panggung atau dalam potret, keduanya tertampil. Ini cerdas.

    Harus rela diakui tobong punah sekarang. Dulu, seni ini populer jaman jarang hiburan. Menurut banyak catatan, tobong lahir 1920 bersama arus seni pertunjukan yang masuk ke Indonesia. Tobong adalah kethoprak, karena dulu kethoprak selalu pentas keliling jadilah istilah tobong lebih identik.

    Tobong maksudnya bangunan dari anyaman bambu yang dipakai di tiap pentas kethoprak dulu. Tobong melingkupi seluruh aktifitas seniman-seniman kethoprak, mulai jadi panggung pertunjukan, arena latihan, sampai tempat tinggal. Kurang lebih tiga purnama kelompok kethoprak tobong menetap di suatu tempat, setelahnya mereka hijrah. Menemukan tempat baru, membangun tobong lagi, mementaskan pertunjukan lagi, lalu pindah lagi, demikian siklusnya, silih-berganti.

    Bisa ditebak akhirnya tobong mati gara-gara biaya produksi demikian mahal makin tak sebanding dengan pendapatan, yang seluruhnya mengandalkan penjualan karcis pertunjukan. Silahkan dihitung, berapa biaya angkutan seluruh peralatan, pemain, dan kru yang memang selalu berupa rombongan lengkap, dan berapa pendapatan yang paling lima ribu rupiah perpemirsa sekali pementasan. Belum biaya hidup. Tuntutan bertahan terasa tidak adil dengan pamor makin redup akibat kondisi. Generasi terus diseret menuju internasionalisasi, yang menuntut serba sama, sampai kita tahu muaranya siapa lagi penonton tobong akhirnya.

    Seperti ditulis banyak media pada Mei 2010, Kethoprak Kelana Bakti Budaya, tobong terakhir, pamit mati dengan mementaskan lakon Ronggolawe Gugur di alun-alun Yogyakarta. Ini klimaks setelah sepuluh tahun, bermula di Kediri lalu mengembara ke Tulungagung, Nganjuk, Ngawi, Magetan, Cepu, mereka berjuang menghidupi diri sendiri dan menghidupkan seni tradisi. Toh, upaya menggalang simpati dan pertolongan itu tak merubah banyak. Kelana Bakti Budaya benar-benar harus undur diri.

    Tobong ini baru menjadi pusat perhatian setelah Helen Marshall, seniman Inggris, memotretnya dan mempublikasikan dalam pameran-pameran termasuk di Museum Horniman, sekarang. Helen terhubung ke Kelana Bakti Budaya karena Risang Yuwono. Pertemuan Helen dengan Risang bisa dibilang tidak sengaja.

    Menurut tulisan di situs-situs terkait, Risang Yuwono, fotografer lulusan Institut Kesenian Jakarta, yang juga anak Dwi Tartiyasa, pemain Kelana Bakti Budaya, bertemu Helen di Toraja saat sama-sama mengambil dokumentasi. Dari diskusi nyambung karena sesama seniman dan fotografer, Risang menawarkan Kelana Bakti Budaya menjadi objek bidik. Hasilnya 12 foto karya Risang dan Helen diikuti usaha membesarkan kembali Tobong. Sebelum di Horniman, Project Tobong telah dipamerkan di Rich Mix Photovoice PICS Festival, Delhi Photo Festival 2013, dan Kuala Lumpur Photo Awards 2014.

    Selain foto, Helen dan Risang luas menyebarkan Tobong. Di situs resmi mereka, projecttobong.com, paling tidak ada uraian singkat Tobong dan Kethoprak yang lumayan memberi pemahaman menurut saya. Situs ini didukung British Council bahkan dilengkapi kritik seniman dan ilmuwan seni teater Universitas Royal Holloway, London, Profesor Matthew Isaac Cohen.

    Terima kasih Helen, terima kasih Prof, bekerja keras untuk budaya Indonesia yang adi luhung.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.