x

Ahok memberikan baju batiknya untuk Manajer Persib, Umuh Muchtar di Polda Metro Jaya, 18 Oktober 2015. Batik tersebut akan digunakan saat bertemu dengan Presiden Joko Widodo nanti. Tempo/Vindry Florentin

Iklan

Agus Supriyatna

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Ketika Pujian Untuk Pak Ahok 'Diambil' Kang Emil

Ya, mungkin Pak Ahok tak mau, hanya karena soal sungai, nama Kang Emil lebih berkibar.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tadi malam, Kamis, 22 Oktober 2015, menjelang habis tengah malam, saya baca berita di portal jpnn.com. Ini situs berita punyanya Grup Jawa Pos, grup media yang dimiliki Pak Dahlan Iskan. 
 
Berita yang saya baca soal sebuah lajur sungai di kawasan Epicentrum, Kuningan Jakarta Selatan. Lajur sungai itu awalnya dipuji habis oleh para netizen, karena memang penataannya bikin decak kagum. Rapi, nyeni, dan nampak resik. Dan para netizen pun ramai-ramai memuji Pak Ahok atau Pak Basuki Tjahaja Purnama, karena menyangka itu buah kerja Gubernur Jakarta tersebut. Namun kemudian, muncul cuitan Kang Ridwan Kamil atau biasa disapa Kang Emil, Wali Kota Bandung. Dalam cuitannya, Kang Emil menjelaskan, bahwa lajur sungai yang dipuji habis oleh para netizen itu bukan buah kerja Pak Ahok, tapi hasil dari rancangan dia dan kawan-kawannya. Dan, itu dikerjakan saat Pak Fauzi Bowo atau Pak Foke masih jadi Gubernur. 
 
Di berita itu pula, dituliskan Pak Ahok mengeluarkan pernyataan menanggapi kisah salah puji para netizen. Menurut berita yang saya baca di jpnn.com, Pak Ahok mengatakan, bahwa para arsitek itu hanya melakukan tipuan. Jadi yang dikerjakan Kang Emil bukan membersihkan sungai. Sayang, di berita itu tak ada kutipan langsung dari Pak Ahok.
 
Nah, pernyataan Pak Ahok itu dapat tanggapan balik dari Kang Emil. Lewat Twitter, Kang Emil membalas pernyataan Pak Ahok. Kata Kang Emil, walau dihina, arsitek itu kerjanya mulia, bereksperimen cari solusi. Kata Kang Emil lagi dalam cuitannya, lebih baik berupaya walau tak sempurna daripada diam. 
 
Masih lewat akun twitternya @ridwankamil, Kang Emil mengatakan, jangan mengklaim yang bukan karyanya. Dan, masalah sungai Epicentrum itu inovasi atau bukan, lebih baik debatnya di seminar. Dan cuitan penutupnya yang sangat menohok. Menurut Kang Emil, bukannya saling mendukung, tapi  energinya habis mencari kejelekan orang lain. Pantesan kata Kang Emil, negeri ini susah majunya. 
 
Membaca berita dan cuitan Kang Emil, saya hanya tersenyum. Kang Emil, hapunten pisan bila saya ikut nimbrung. Pak Ahok itu Kang, mungkin agak jengkel, sudah dipuji habis oleh para netizen, ternyata ada orang yang seharusnya dapat pujian sebenarnya. Ya, tadinya sudah bungah, mau busung dada, akhirnya tak jadi. Lha ini kan bikin dongkol. Dan, sialnya lagi orang yang seharusnya dipuji itu adalah Akang, Wali Kota Bandung, yang selalu dibandingkan dengan Pak Ahok. Akang itu, sosok yang dianggap punya talenta kepemimpinan yang hebat sama seperti Pak Ahok. 
 
Banyak pengamat, jika sudah bicara tentang pemimpin yang 'ideal' selalu memasukan nama Akang, Pak Ahok, juga Bu Risma, Wali Kota Surabaya. Jadi harap maklum saja, bila Pak Ahok agak 'sensi' soal sungai Epicentrum, karena ada nama Akang di situ. Mungkin akan lain ceritanya, bila yang rancang sungai nan elok di Epicentrum itu bukan Akang. Pak Ahok sepertinya tak akan se-sensitif seperti itu. Lha ini yang rancang sungai Epicentrum adalah Akang. Kan berabe Kang, kalau Akang yang kemudian malah yang dipuji-puji warga Jakarta. Lebih berabe lagi, kalau Akang di elu-elukan jadi Gubernur Jakarta. 
 
Ya, mungkin Pak Ahok tak mau, hanya karena soal sungai, nama Kang Emil lebih berkibar. Lebih banyak dapat pujian. Dan Akang kemudian yang justru jadi 'media darling'. Mungkin, karena kekhawatiran itu, maka Pak Ahok mengeluarkan pernyataan yang membuat Akang mesti mengeluarkan cuitan balasan. Tapi itu mungkin lho Kang, karena hanya terkaan saya saja. Bisa salah, bisa keliru. Tapi boleh jadi benar adanya.  Namanya juga terkaan, dari orang biasa pula.
 
Kang, karena sungai itu di Jakarta, Akang harus maklum, Pak Ahok mesti yang nomor satu. Dan, pujian pun mesti pertama untuk Pak Ahok. Jadi Akang maklumi saja, walau itu salah puji. Tapi sudahlah, Akang telah mengungkapkan fakta sebenarnya. Dan, karena itu pujian untuk Pak Ahok ditarik kembali. Mungkin, karena itu pula Pak Ahok jengkel hingga keluar pernyataan arsitek kerjanya buat tipuan, bukan membersihkan sungai. 
 
Ya Pak Ahok benar, arsitek memang kerjanya bukan membersihkan sungai. Karena yang diberi tanggungjawab membersihkan sungai, adalah kepala daerah. Operasional ya dinas terkait. Teknis lapangannya ya petugas yang bersihkan sungai. Arsitek tugasnya mendesain sebuah tata ruang, apakah itu rumah, lanskap kota, jadi indah, menarik, serta nyaman.  
 
Namun terus terang Kang, saya suka cuitan pamungkas akang. Saling mendukung yang diperlukan. Bukan saling menyalahkan. Apalagi energi habis untuk menyalahkan orang lain. Ya, Akang benar, bila energi habis hanya untuk cari kambing hitam, negeri ini tak maju-maju. Saya demen Kang dengan cuitan itu. Tapi Kang, jangan seterus terang begitu. Nanti Akang 'disalahkan' lagi. Kan, hanya nambah gaduh saja. 
 
Tapi, mohon maaf Kang, kok ada pertanyaan yang menyelinap begitu saja di pikiran saya. Saya kok menduga-duga tak karuan. Jangan-jangan, soal sungai di Epicentrum, adalah pemanasan dari sebuah persaingan sebenarnya. Persaingan antara Akang dengan Pak Ahok. Jangan-jangan lho Kang. Ini hanya dugaan saya yang tak karuan. Tapi kalau itu benar, ya mungkin lebih baik. Dengan begitu, publik tak salah memuji. Namun jika dugaan saya keliru, ya tidak apa-apa juga. Akang bekerja dan berkarya saja di Kota Kembang. Dan, pesan saya, jangan suka mencari kejelekan orang lain. Nanti, malah pujian ditarik kembali. 
 

Ikuti tulisan menarik Agus Supriyatna lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler