x

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso memperlihatkan kartu cerdas BNN dan brosur anti narkoba di Bundaran HI, Jakarta, 8 November 2015. Aksi tersebut merupakan rangkaian acara kampanye anti narkoba yang bertujuan mengajak masyarakat untuk

Iklan

Agus Supriyatna

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Jenderal 'Budi Buaya' di Mata Menteri Tjahjo

Siang itu, wajah Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo tampak sumringah. Senyumnya terulas di sudut bibirnya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Selasa siang, 1 Desember 2015...
Siang itu, wajah Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo tampak sumringah. Senyumnya terulas di sudut bibirnya. Di dekatnya duduk beberapa tokoh yang wajahnya kerap menghias halaman koran dan layar kaca. Ada Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo yang tampil sederhana dengan baju batiknya. Lalu, ada Komisaris Jenderal Budi Waseso, mantan Kabareskrim yang kini jadi Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Ketua Otoritas Jasa Keuangan, Muliaman Hadad, Wakil Ketua MPR, Oesman Sapta Odang, Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini, pakar komunikasi dari Universitas Indonesia, Effendi Ghazali dan yang lainnya. 
 
Hari itu, Menteri Tjahjo jadi tuan rumah launching buku berjudul, "Politik Hukum Pilkada Serentak" yang ditulisnya sendiri. Launching buku ini berbarengan dengan peringatan hari ulang tahun Menteri Tjahjo yang memang jatuh pada tanggal 1 Desember. Mantan Sekjen PDIP itu sendiri memang lahir pada 1 Desember 1957 di Surakarta, Jawa Tengah. 
 
Tentu, merayakan ulang tahun sembari melaunching buku, adalah momen yang membanggakan bagi siapa pun. Karena buku, bisa dikatakan adalah jejak pencapaian sebuah kerja intelektual seseorang. Tentunya, akan sangat terasa bermakna dan penuh kesan, bila jejak kerja intelektual itu di publish tepat pada saat tanggal lahir, tanggal dimana seseorang pertama kali diberi mandat oleh Tuhan untuk menjalani kehidupannya di dunia. Maka wajar bila kemudian Menteri Tjahjo tampak sumringah. 
 
Acara launching buku pun berlangsung dengan meriah dan cair. Effendi Ghazali yang didaulat untuk mengulas, cukup sukses mengupas isi buku dengan bahasa yang ringan, renyah dan menyegarkan. Setelah Effendi tampil, acara dilanjutkan dengan pidato sambutan Menteri Tjahjo sebagai penulis. Kemudian, usai itu dilakukan penyerahan buku kepada para tokoh yang hadir. 
 
Dan, saat tiba menyerahkan buku kepada Jenderal Budi Waseso, ada pernyataan menarik dari Menteri Tjahjo. Menurut mantan Sekjen PDIP itu, Jenderal yang akrab di panggil Buwas, dipindah dari Bareskrim ke BNN, bukan karena dia berbuat salah. Tapi, Buwas dipindah, karena bertindak benar. "Berani menentukan sikap, siapa lawan siapa kawan," kata Menteri Tjahjo. 
 
Jenderal Buwas yang dikomentari, seperti biasa hanya melempar senyum khasnya. Setelah itu, pembagian buku dilanjutkan. Dan, ada lagi satu pernyataan yang menarik di acara itu. Pernyataan menarik itu datang dari Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. 
 
Kata Jenderal Gatot, Budi Waseso tak pantas lagi dapat julukan Buwas. Julukan yang pantas bagi mantan Kabareskrim itu sekarang adalah BuYa, atau 'Budi Buaya', kata Jenderal Gatot sambil tertawa. Jenderal Buwas pun ikut tertawa. Tentu, pernyataan Jenderal Gatot, hanya becanda. Mungkin dia dapat inspirasi mengganti Buwas dengan BuYa, setelah mencermati wacana penjara yang dikeliling buaya yang memang disuarakan Jenderal Buwas.
 
 
 
 

 

Ikuti tulisan menarik Agus Supriyatna lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler