x

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto berjalan keluar ruangan seusai menjalani sidang etik Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 7 Desember 2015. Sidang etik tersebut terkait pencatuta

Iklan

sono rumungso

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Setya Novanto Mundur, Sudah Puas?

Kita sering menjadi hakim bagi orang lain, padahal kita sendirilah terdakwanya, namun tidak pernah menyadarinya

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mundurnya Setya Novanto (SN) dari pucuk pmpinan DPR karena skandal Freeport, merupakan harapan dari rakyat Indonesia, demikian pendapat banyak kalangan. Mundurnya SN sebagai ketua DPR adalah sebuah konsekuensi dan sikap yang dianggap kesatria sebagai bentuk pertanggung jawaban moral atas ‘ketidakpantasan’ yang dilakukannya terkait dengan perpanjangan kontrak Freeprot. Lebih dari itu, SN dianggap telah melanggar tata krama dengan mencatut nama Presiden untuk mendapatkan keuntungan secara pribadi. Kita merasa muak dan jijik melihat apa yang telah dilakukan oleh SN yang terkuak lebar-lebar di hadapan kita.

Sidang Majelis Kehormatan Dewan (MKD) DPR yang menyidangkan kasus Setya Novanto mendapatkan pemberitaan yang paling besar dari media di Indonesia selama sepekan dengan pemberitaan yang negatif (BBC, 16 Desember 2015). Kita menikmati moment-moment di dalamnya dan  mendiskusikan serta menghujat keburukan yang terjadi ketika berada di tengah teman-teman kita.

Sejujurnya, banyak dari kita tidak mendapati kerugian secara langsung dari apa yang telah dilakukan oleh SN. Namun, kita tampak begitu marah dan ikut-ikutan memberikan hujatan, makian yang kita alamatkan tidak hanya kepada SN, tetapi juga kepada para Hakim MKD yang kita anggap hanya melakukan lawakan dalam menyidangkan kasus SN.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Mata kita sangat tajam dalam melihat hal-hal yang negatif yang jauh dari kehidupan kita. Sementara, rasanya kita menjadi rabun melihat hal-hal yang buruk yang ada di sekeliling kita dan kita juga berkontribusi di dalam keburukan yang terjadi di sekitar kita. Ada banyak hal buruk yang kita lakukan dalam kehidupan kita yang tidak kita sadari merugikan orang lain. Kitapun mungkin sama dengan SN dalam skala yang kecil.

Ketika kita sangat marah kepada SN dan para hakim MKD, selayaknyalah kita juga marah pada diri kita yang tidak lebih baik dari mereka. Banyak dari kita yang bukan bagian dari solusi tapi bagian dari persoalan yang mengakibatkan penderitaan bagi orang lain.  Seberapa banyak dari kita yang tidak korupsi waktu di tempat kerja, memanfaatkan fasilitas kantor untuk kepentingan sendiri, menggunakan bahan bakar untuk mobil kita yang mestinya diperuntukkan kepada orang lain, memasuki jalur bus way, memberikan suap untuk mengurus SIM dsb. Seberapa banyak dari kita mempersilahkan orang lain yang lebih berhak untuk duduk di kursi yang kita tempati ketika berada di transportasi umum. Seberapa banyak dari kita mendahulukan orang lain ketika kita akan boarding ke pesawat.

Masih ingat kita dengan penumpang yang menyandera pesawat Lion Air yang siap-siap akan take off, karena pesawat mereka tidak kunjung berangkat. Kitapun acapkali melakukan perilaku-perilaku yang tidak pantas sebagai orang yang terpelajar. Anehnya, kita tidak malu dan tidak marah pada diri sendiri.

Ketika Setya Novanto mundur sebagai Pimpinan DPR karena apa yang telah dilakukannya, puaskah kita? Tidakkah kita ikut merasa malu? Seharusnya.

Ikuti tulisan menarik sono rumungso lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB