Menteri yang Ikut Antri

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sabar mengantri harus diakui belum jadi budaya di tengah masyarakat Indonesia. Banyak cerita tentang orang tak sabaran mengantri, lalu menyerobot antrian

Sabar mengantri harus diakui belum jadi budaya di tengah masyarakat Indonesia. Banyak cerita tentang orang yang tak sabaran mengantri, lalu menyerobot barisan.

Banyak juga kisah tentang orang karena jabatannya lantas diistimewakan. Padahal, publik butuh contoh atau teladan dari orang yang sedang punya 'tuah jabatan'. Dari mereka, para elit atau pejabat harusnya contoh budaya antri ditularkan. Jangan lantas sikap aji mumpung yang diperlihatkan.

Tapi ternyata, ada pejabat yang tak aji mumpung karena merasa dia sedang punya tuah jabatan. Saya punya cerita tentang itu. Cerita saya ini tentang menteri yang ikut ngantri bersama penumpang saat hendak masuk pesawat.

Ketika itu, Kamis, 21 Januari 2016, saya ditugaskan kantor meliput kegiatan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo yang hendak melakukan kunjungan kerja ke Bengkulu. Saat hendak terbang, di bandara Soekarno-Hatta, saya bertemu dengan Menteri Tjahjo. Ternyata, saya berangkat ke Bengkulu satu pesawat dengannya.

Sebelum terbang, Menteri Tjahjo tampak membeli beberapa majalah di sebuah toko buku yang ada di dalam bandara. Tak tanggung-tanggung lima majalah ia beli. Karena penasaran, saya pun bertanya padanya, kenapa beli majalah sampai 5 eksemplar.

Sambil tersenyum Menteri Tjahjo menjawab, " Untuk baca-baca saja di pesawat. Saya biasa beli bahan bacaan kalau pergi-pergi."

Setelah itu, ia melirik ke salah seorang staf protokol yang menyertainya, lalu bertanya tentang jam terbang pesawat. " Jam berapa pesawat kita terbang?"

"Jam 7.35 pak," jawab si staf protokol.

Mungkin karena masih ada sisa waktu sebelum terbang ke Bengkulu, dari toko buku, Menteri Tjahjo melangkah menuju sebuah kafe atau kedai kopi. Sidney Cafe, namanya. Ia pun mengajak semuanya sebentar menyeruput kopi.

Usai menghabiskan secangkir kopi, ia bergegas ke Gate F5, ruang tunggu keberangkatan bagi penumpang pesawat rute Jakarta-Bengkulu. Saya mengekor di belakangnya. Dimulut Gate F5, penumpang mesti diperiksa lagi. Satu pintu metal detektor berdiri di lorong ruang tunggu keberangkatan. Menteri Tjahjo pun ikut diperiksa. Bahkan, ia sampai merentangkan tangan, kala petugas memeriksanya dengan alat periksa metal detektor. Sekujur tubuh Menteri Tjahjo diperiksa oleh petugas memakai alat metal detektor tangan.

Setelah itu baru dipersilahkan masuk ruang tunggu keberangkatan. Ternyata semua penumpang sudah ngantri, untuk diperiksa tiketnya sebelum naik pesawat. Menteri Tjahjo pun bergegas menuju antrian penumpang. Saya pikir, dia akan langsung melenggang ke jalur Sky Priority, yang diperuntukkan bagi penumpang kelas bisnis. Ternyata Menteri Tjahjo ikut mengantri bersama penumpang kelas ekonomi.

Di depannya, seorang kakek bertopi dengan tulisan LVRI. Kakek itu kaget, begitu tahu di belakangnya ada seorang Menteri. Saya yang berada di belakang coba memperhatikan itu. Tampak Pak tua, seperti mempersilahkan Menteri Tjahjo agar bisa menyalip ke depan. Tapi, terlihat Menteri Tjahjo menolaknya.

Petugas pemeriksa tiket juga kaget, ketika tiba saatnya memeriksa Menteri Tjahjo. Mungkin dia tak menyangka seorang Menteri ikut-ikutan antri. Ia terlihat agak gugup saat Menteri Tjahjo menyodorkan tiketnya.

Usai diperiksa tiket, Menteri Tjahjo langsung bergegas menuju pesawat. Dan, saat saya menunggu giliran untuk diperiksa tiket, dari jalur Sky Priority, nampak satu sosok yang tak asing melangkah dengan agak tergesa. Dia, adalah Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi. Di depannya Margiono, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia. Sepertinya, Mahfud MD dan Margiono, mengambil kelas ekonomi, karena dia tak ikut ngantri, tapi langsung melenggang di jalur antri Sky Priority.

Menuju pesawat, ternyata tak pakai belalai Garbarata, tapi penumpang harus turun dulu ke landasan, baru setelah itu naik bus pengantar menuju pesawat. Lagi-lagi ada pemandangan menarik. Menteri Tjahjo tampak memilih naik bus, bukan mobil khusus yang diperuntukkan untuk penumpang kelas bisnis. Dia ikut bergelantungan. Berhimpitan dengan penumpang lain di dalam bus. Ah, terus terang baru kali ini saya selama meliput kegiatan seorang menteri, menyaksikan pemandangan yang tak biasa, dimana seorang menteri rela ikut mengantri.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Agus Supriyatna

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua