x

Iklan

Binti Quryatul Masruroh

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Dalang Kentrung Inspirator Bagi Para Pegiat Seni

Adam Sumeh ialah dalang kentrung dengan usia 69 tahun yang masih aktif menggelar pertunjukan hingga hari ini

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Song pambagya katur marang pramiarsa. Ngleluri kabudayan kita, Tri Santosa Budaya ingkang ngayahi karya. Mugi paring tuladha, mring para kadang mitra. Ngresepake jroning kalbu kang sanyata. Sadaya makarya muginir sambikala.

Begitulah salah satu lirik pembukaan dalam pertunjukan kesenian tradisional kentrung, sebuah kesenian yang masih tetap hidup di tengah masyarakat kekinian. Arti dari lirik tersebut kurang lebih begini, “Salam berbahagia (kami) tujukan kepada para pemirsa. Dengan maksud melestarikan kebudayaan, Tri Santosa Budaya pentas berkarya. Semoga memberi contoh, kepada para saudara dan sahabat. Dengan maksud menyenangkan hati yang terdalam. Semua yang datang semoga dijauhkan dari bahaya yang buruk.”

Ialah Adam Sumeh, seorang dalang kentrung dari Dusun Sanan, Desa Dayu, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Sebuah kota kecil di Jawa Timur yang sekaligus tempat peristirahatan terakhir presiden pertama Indonesia.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Usianya genap 70 tahun di tahun ini. Namun jangan ditanya, semangatnya dalam berkarya tetap berkobar. Barangkali telah ratusan bahkan ribuan pentas ia gelar di berbagai tempat, dengan puluhan judul lakon dan cerita ia bawakan. Menabuh kendang sambil menuturkan cerita, diiringi tabuhan musik dari para panjak, dan selingan tembang oleh sinden, Adam Sumeh menjadi dalang kentrung yang masih tetap aktif menggelar pertunjukan hingga saat ini.

Ada Sumeh. Laki-laki kelahiran Juli 1946 itu memiliki riwayat sebagai seorang remaja yang gemar berkegiatan di bidang seni. Sejak masih kecil ia sudah gemar mbarong dan nyeleng. Sebelum pada akhirnya menjatuhkan pilihan pada kesenian kentrung, Sumeh telah lebih dulu aktif pada kesenian jenis wayang wong, jaranan, dan ludruk. Karena kepiawaiannya melucu, pada tahun 1975 ia sempat menjadi lawak ludruk, yang saat itu banyak digemari oleh masyarakat sebagai salah satu seni hiburan rakyat.

Karena kecintaannya pada dunia seni, Sumeh rela nyantrik kepada dalang-dalang yang lebih senior. Dalam proses nyantrik itu, ia mengikuti kemanapun sang dalang melangsungkan pertunjukan. Ia menjadi murid yang setia, belajar dengan penuh kemauan.

Dalam catatan perjalanannya selama nyantrik, bersama dalang Markam pada tahun 1982 Sumeh pernah menang pada salah satu festival kesenian kentrung yang diadakan oleh Taman Budaya Cak Durasim, Surabaya. Pada perlombaan itu, ia dan kelompok kesenian yang ia ikuti mendapatkan juara 1 se-Jawa Timur. Semenjak saat itu, dalang-dalang banyak yang mengajaknya bergabung untuk mengikuti berbagai pertunjukan kentrung.

Sumeh yang telah nyantrik hingga sekitar lima tahun lamanya, kemudian memutuskan untuk – bagaimana caranya ia lepas dari nyantrik dan berani untuk mulai mendalang. Sumeh mencatat lakon-lakon yang sering dipentaskan sang dalang dalam berbagai pertunjukan. Ia kemudian memetak-metakkan lakon itu dalam 5 kategori. Kategori jenis keraton atau kerajaan, minak, wali, nabi, dan dongeng. Secara keseluruhan, lakon-lakon yang ia catat tak jauh-jauh dari kehidupan dan cerita seputar agama Islam.

Dengan gigih, Sumeh menuliskan cerita-cerita itu – agar nanti – dapat ia hafalkan dan ia pentaskan sendiri. Pada tahun 1990, setelah dirasa cukup, Sumeh memberanikan diri menjadi seorang dalang. Dalang kentrung dengan kelompok kesenian yang ia dirikan dengan nama “Tri Santosa Budaya”.  Tri berarti tiga, Santosa berarti kekuatan, dan Budaya berarti kebudayaan.

Sumeh masih ingat jelas, pentas pertamanya pada acara pitonan yang membawakan lakon Jaka Tingkir di desa seberang ketika itu tidak dibayar. Hanya disuguh makanan dan wedang. Tak ada masalah baginya, karena ia menjalaninya dengan senang. Ia menganggap hal itu sebagai bagian dari prosesnya belajar, menjadi seorang dalang kentrung.

Mengetahui bakat Sumeh sebagai seorang dalang kentrung, masyarakatpun perlahan mulai mengenalnya. Ia mulai diundang ke berbagai tempat untuk mengisi hiburan dalam berbagai hajatan. Berbagai hajatan khas pedesaan pun kerap ia isi. Dari mulai pitonan, mauludan, pendirian langgar/mushola, tahun baruan, hingga tasyakuran. Salah satu lakon yang kerap dipesan oleh tuan rumah adalah Wali Sanga. Cerita yang mengisahkan perjalanan para waliullah dalam membabad dan mengislamkan masyarakat Jawa.

Tahun 1996 adalah tahun dimana Sumeh mulai ramai permintaan tanggapan. Selalu ada tanggapan setiap minggu, bahkan hingga 3 kali tanggapan dalam seminggu. Sumeh juga kerap diundang oleh beberapa perguruan tinggi di Jawa Timur yang memiliki kajian dalam bidang seni pertunjukan. Ia pun dinobatkan sebagai salah satu narasumber kentrung di Jawa Timur.

Dalam sejarah pedalangan kentrung di Blitar, Sumeh adalah satu-satunya dalang kentrung yang tidak pernah mementaskan kentrung dengan cara mengamen dari rumah ke rumah. Berbeda dengan dalang-dalang lain yang lebih senior dari dirinya. Sejak kemunculan kentrung di daerah Blitar sekitar tahun 1919, kentrung lebih dikenal dengan pertunjukan yang dipertontonkan dengan cara amen, datang dari rumah ke rumah. Sumeh sudah bertekat bahwa kentrung sebagai sebuah pagelaran pertunjukan di atas panggung, dengan tak kurang dari 4 personil dalam setiap pertunjukan.

Di zaman yang semakin modern, Sumeh sadar akan kebutuhan hiburan masyarakat yang semakin beragam. Ketika masyarakat mulai dekat dengan hiburan masyarakat jenis campursari, Sumeh pun menghiasi kesenian kentrung miliknya dengan bubuhan seni campursarian. Dalam sebuah pertunjukan, penonton bisa me-request tembang apa yang akan dibawakan. Penonton juga bisa menimpali lelucon dari dalang. Sehingga dalam sebuah pertunjukan, ada interaksi dua arah antara dalang dengan penonton. Harapannya, masyarakat penonton tidak bosan dengan sajian pertunjukan kentrung darinya.

Bagi Sumeh seorang dalang kentrung bukan hanya harus pandai bercerita. Setiap gerak dan tuturnya di panggung menjadi sorotan. Ia adalah dalang, pemimpin dari pertunjukan yang ia gelar. Tanggung jawab menghibur dan menuturkan nilai-nilai keagamaan serta kehidupan berada di pundaknya dari satu panggung ke panggung yang lain. Bisa bermain kendang, memiliki cengkok suara, dan bisa nglawak adalah syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang dalang kentrung.

Berkesenian kentrung bukan hanya tentang mencari uang dan penghidupan. Sumeh paham, ada nilai-nilai lain yang tidak bisa selalu dimaterikan. Sesuai dengan filosofi kelompok kesenian kentrung miliknya yang menjadi niatnya dalam setiap pagelaran pertunjukan, berkesenian kentrung adalah tentang nguri-nguri kabudayan, ngibadah, dan bekerja mencari nafkah. Tiga hal itu yang menjadi patokan Sumeh. Ongkos yang ia terima adalah tanggung jawab bagi dirinya sendiri untuk memberikan pertunjukan yang terbaik.

Kini permintaan tanggapan terhadap kesenian kentrung memang tidak seramai puluhan tahun silam. Namun, apa yang telah Sumeh ukir di masa lalu hingga saat ini menjadi cerita bagi siapa saja yang menanggap dan menontonnya. Ialah dalang kentrung, inspirator bagi siapa saja pegiat seni di bumi pertiwi. Salam budaya!

#Tempo45

Ikuti tulisan menarik Binti Quryatul Masruroh lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan