Hal yang Paling Ajaib - Analisa - www.indonesiana.id
x

Warga mengikuti pawai peringatan Hari Toleransi Internasional di Bundaran HI, Jakarta, 16 November 2014. TEMPO/Dasril Roszandi

Diaz Setia

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Hal yang Paling Ajaib

    Dibaca : 1.573 kali

    Betapa menyenangkannya ketika kita berhasil menemukan orang-orang yang sejalan dengan kita, baik soal pemahaman, pilihan hidup, hobi, prinsip, selera, cara bersosialisasi, lapisan sosial, dan lain sebagainya. Seperti menemukan cermin dan menangkap proyeksi diri kita dalam diri orang lain.

    “Kok begitu mirip? Sama?”

    Menyelami kesamaan demi kesamaan dengan orang lain barangkali menjadi hal yang amat mengasyikkan, semacam perasaan tergenapi. Tapi itu lumrah, terlalu mudah, tidak ada yang ajaib ketika kita berhasil membangun hubungan yang harmonis dengan orang-orang yang sama.

    Tapi, hal yang paling ajaib di dunia ini terjadi  ketika kita menemukan orang-orang yang ‘berbeda’ namun berhasil memahami dan menghargai keberagaman yang ada, mampu hidup berdampingan walau berbeda.

    Terbayangkah sebuah kehidupan tanpa perseteruan dari orang-orang yang memaksa memproyeksikan dirinya ke dalam jiwa orang lain? Tanpa persinggungan yang muncul karna pertahanan terhadap pendapat masing-masing, dan menyerang pendapat yang bersebrangan? Saya pikir tak selamanya putih benar-benar bersih, pun hitam yang tak selalu kelam. Memandang berbagai hal dengan sudut pandang holistik, bahwa tak ada kebenaran tunggal di langit yang sama. Apalagi jika menyinggung soal sisi-sisi pribadi, pandangan dan pemahaman pribadi, pilihan-pilihan prinsipil, tak ada salah dan benar. “Saya meyakini ini..” atau “Saya memilih untuk begini..”, saya pikir adalah kalimat-kalimat yang manis dan adil ketimbang memvonis mutlak tentang salah-benar. Ketika perbedaan-perbedaan yang ada tak saling merugikan, sesuatu yang tidak dianggap benar menurut objektivitas seseorang tak semerta-merta menjadi sebuah kesalahan.  Tidak benar tidak sama dengan salah.

    Saya belajar PPKn dari SD, dan masih ingat betul soal musyawarah mufakat yang menjadi pokok sila keempat. Berbeda, lalu bermusyawarah hingga bertemu kata “mufakat”. Namun ketika mufakat tak ditemukan dalam bermusyawarahan, pilihan selanjutnya dalah pengambilan suara terbanyak, dengan catatan pilihan yang disepakati nanti harus diterima oleh semua anggota, meski berbeda pendapat.

    Pancasila adalah konsep yang amat sempurna, namun sanggupkah kita membumikan pancasila dalam kehidupan praktis?

    Saya selalu mengagumi orang-orang yang pandai mengutarakan pendapatnya, yakin terhadap pilihan dan pemikirannya, luwes menyampaikan sebab-sebab yang membentuk kesimpulannya tersebut dalam

    sebuah diskusi atau perdebatan. Namun saya pikir, jika debat adalah panggung untuk menumbangkan suatu pihak  dan memenangkan pihak lain, maka diskusi adalah sebuah gerbang yang membuka cakrawala pemikiran orang-orang yang terlibat menjadi seluas-luasnya.. selebar-lebarnya.. seterbuka mungkin. Mewujudkan ‘hal yang paling ajaib’ yang saya singgung tadi bisa saja dimulai dari kesadaran bahwa saling memahami dan menghargai nilai-nilai kehidupan yang majemuk adalah rangkaian proses penting dalam ihwal pembelajaran menjadi manusia.

    Berbeda itu biasa, yang ajaib adalah ketika perbedaan tak turut serta menghadirkan jurang-jurang kesenjangan.

    Memang dibutuhkan keterbukaan pikiran dan rasa empatik yang amat tinggi untuk lebur dalam diversitas rantai panjang bernama.. kehidupan!

     Sumber gambar: http://sinarharapan.co/news/read/140903148/etika-kebersamaan-dalam-keberagaman


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.