Ahok Jangan Senang Dulu - Analisis - www.indonesiana.id
x

Thamrin Dahlan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Ahok Jangan Senang Dulu

    Ahok di akhir Februari 2016 mendapat skor 2

    Dibaca : 3.415 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    AHOK [jangan] Senang [dulu]

    Ada 2 peristiwa yang menyangkut karier masa depan Ahok terjadi di minggu terakhir bulan Februari 2016. Peristiwa pertama penggusuran atau realokasi pemukiman Kali Jodoh. Peristiwa ke - 2 pernyataan mundur Walikota Bandung Ridwan Kamil dari calon Gubernur Jakarta. Tentu saja Ahok Gembira, namun ada baiknya Boss nombero one di Jakarta ini tetap mawas diri. Jalan masih panjang berliku banyak tikungan didepan yang harus dilewati agar tetap bisa berkuasa.

    Relokasi atau perubahan peruntukan kawasan Kali Jodoh merupakan prestasi gemilang Ahok. Didukung sepenuhnya oleh aparat keamanan dan tata cara yang sistematis sesuai regulasi nampaknyan berhasil memindahkan warga dari tempat yag patut diduga sebagai sarang penyamun. Terlepas dari desas desus bahwa Ahok hanya ingin mendapatkan simpati warga Betawi, paling tidak penggusuran itu bisalah dikatakan spektakuler karena gubernur sebelumnya masih mangkrak di perencanaan. Ahok langsung bertindak dan berhasil.

    Keberhasilan ini tentu bisa dijadikan rujukan bahwa dengan tatacara yang santun sesuai peraturan yang berlaku, pembenahan lingkungan kumuh dan mewah yang tidak sesuai dengan tata kota bisa dilaksanakan. Saya katakan lingkungan mewah tentu agak aneh, namun kenyataannya bahwa memang ada wilayah yang seharusnya tidak dibangun rumah rumah mewah bisa terwujud. Ini tantangan Ahok, bersediakan beliau melanjutkan langkah untuk membongkar kawasan super jetset itu seperti yang dilakukannya di Kali Jodoh. Seandainya Ahok berani bertindak tanpa pandang bulu maka acungan jempol 2 patut diberikan.

    Soal lawan di Pilkada yang akan di gelar bulan Februari 2017 tetap masih ramai walaupun Kang Emil pamit mundur. Masih ada Prof Yusril Ihza Mahendra dan kandidat lain seperti Sandiaga Uno yang harus diperhitungkan Ahok. Sementara itu Ahok kelihatannya masih galau bin ragu apakah akan tetap melalui jalur independent atau menggunakan kendaraan partai politik. Waktu berjalan terus, Ahok harus segera memutuskan tanpa mengecewakan berbagai pihak yang telah berjuang mendukungnya.

    Fakta memberikan data objektif memang ada perubahan signifikan sejak kepemimpinan Ahok. Perubahan nyata itu terlihat pada sisi pelayanan publik. Nampaknya pola kepemimpiann keras terhadap anak buah dalam rangka menegakkan disiplin cukup berhasil Reformasi Birokasi dan Revolusi Mental bisa dirasakan warga dengan semakin baiknya kualitas pelayanan d tingkat kelurahan, kecamatan dsampai di Kantor kantor Dinas Pemerintahan Daerah Ibukota.

    Point yang ingin saya sampaikan disini adalah tentang perubahan situasi dan kondisi Ibukota. Apakah perubahan ini cukup menjadi dasar keputusan warga atas dukungan kepada kepeimpinan Ahok ? Semua terpulang ke masing amsing warga, karena ada beberapa veribel lain yang mengikuti, kenapa seseorang menjatuhkan pilihan kepada kandidat Gubernur Jakarta 2017-2012.

    Ahok tetap unggul sebagai petahana (incumbent) karena dalam posisi masih menjabat bisa membuktikan bahwa kinerjanya bisa dinilai warga ketimbang calon lain yang mungkin hanya mengandalkan track record dan janji janji. Jadi Pak Ahok jangan senang dulu, bekerja saja secara maksimal jangan sampai terpleset oleh krikil kecil.

    Salamsalaman

    TD

    Ikuti tulisan menarik Thamrin Dahlan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.