Anggota Aktif dan Alumni IPM Solokuro Perlu Jalin Komunikasi - Analisis - www.indonesiana.id
x

Andik Setyawan (PB)

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jember
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Anggota Aktif dan Alumni IPM Solokuro Perlu Jalin Komunikasi

    Melawan masalah langkahnya kegiatan dan krisis kader dengan bersama iuran solusi, tunjukkan aksi dalam rangka kembali bangkitkan organisasi berlambang pena.

    Dibaca : 2.613 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                   Lamongan – Kemerosotan pencapaian dan penurunan ragam kegiatan di kalangan organisasi pelajar Muhammadiyah (IPM) Ranting Solokuro menjadi permasalahan yang butuh perhatian. Bentuk kegiatan positif yang menjadi kegiatan rutinan maupun mingguan atau bulanan pada saat ini sudah jarang terlihat, bahkan hampir tidak ada. Permasalahan yang timbul karena beberapa faktor ini dalam upaya penanggulangannya menjadi tanggung jawab bersama. Tanggung jawab menghidupi organisasi yang sampai saat ini masih hanya dibebankan kepada pengurus sebenarnya merupakan cara pandang keliru yang harus diubah. Karena organisasi yang telah banyak melahirkan berbagai tokoh di berbagai bidang ini sebenarnya juga masih milik tokoh-tokoh tersebut, dan sudah selayaknya empunya merawat dan turut serta memelihara rumahnya.

     

                 Faktor yang menjadikan permasalah ini timbul salah satunya adalah karena kepengurusan dini IPM. disebut kepengurusan dini karena para pengurus yang saat ini berjuang di kepengurusan adalah mereka yang sesungguhnya belum siap memikul beban dan butuh pendampingan dalam upaya pelangsungan tanggung jawab mereka menghidupi organisasi. Jajaran pengurus kebanyakan sebelumnya belum pernah terjun didalam organisasi yang sedang mereka urus ini. sebut saja ketua umu yang sedang menjabat saat ini periode -2016 (Dayat, red), adalah seorang pelajar dan organizer yang lahir sebagai anggota baru yang baru saja lulus dari mabica atau diklatnya pada saat terpilih menjadi ketua umum. Meskipun beberapa orang mengatakan saatnya yang muda yang bekerja atau semacamnya Keputusan ini sebenarnya sangat beresiko sekali dalam kelangsungan organisasi. Dapat diibaratkan dengan seorang petani operator hand traktor yang kemudian diminta untuk mengoprasikan Traktor empat roda Yanmar misalkan dengan sebelumnya hanya membaca panduan alias SOP. Maka resiko terjadi kesalahan bahkan lahan garapan rusak besar terjadi. Karena itu memberi kesempatan diusia semuda mungkin kepada ketuan umum bagus, memberikan peluang kepada kepada kader untuk mencoba hal lain yang lebih besar atau menantang juga bagus. Namun dengan catatan pendampingan oleh para ahli atau senior yang sudah pernah mengarungi organisasi tersebut dengan segenap manis pahitnya.

     

              Faktor lainnya adalah sikap pengurus yang cenderung tertutup atau mungkin sombong atas masalah-masalah yang ada didalam organisasi. Kebiasaan untuk tidak melibatkan senior (Alumni,red) maupun pemuda atau organisasi otonom lain di Muhammadiyah dalam beberapa permasalahan yang ada menjadi faktor lain timbulnya masalah diatas. Masalah langkah kegiatan dan krisis kader di IPM ranting Solokuro.  Hal ini diperparah dengan sikap apatis dari para alumni, dimana mereka cenderung tidak peduli jarang menanyakan kabar organisasi dengan kesadarannya masing-masing. Kesibukan pribadi yang menjadi tanggung jawab masing-masing alumni misalkan menafakahi kelurga bagi yang telah berkeluarga, kuliah bagi mahasiswa, Membentuk peraturan daerah (perda) bagi anggota dewan dll. Seharusnya tidak boleh dijadikan alasan dalam meninggalkan tanggung jawab moral terhadap organisasi yang dulu turut berkontribusi memberi pengalaman apapun kepadanya (Alumni,red). Kontribusi yang mungkin tidak terlalu atau bahkan paling banyak sebenarnya dapat menuntuknya untuk membayar jasa IPM atau minimal tidak meninggalkannya. Meninggalkan dalam artian tidak urus kabar IPM. Tidak enggan memang dikalangan alumni dimintai bantuan baik moril maupun materil apabila IPM membutuhkan, namun bantuan yang seharusnya diberikan sendiri tanpa menunggu permintaan dari pengurus maupun kader aktif IPM sementara ini masih mangkrak, alumni hanya menunggu permintaan tersebut. Entah karena alasan apa mereka yang bisa menjawab. Kecenderungan alumni menunggu diminta tersebut sudah selayanknya dirubah, alumni harus lebih sensitif dan lebih aktif lagi membantu dalam setiap penyelesaian permasalah di IPM.

     

                  Komunikasi dapat menjadi salah satu solusi dalam upaya pemecahan masalah ini. upaya kembali menggelorakan semangan ber-IPM, semangat berbuat baik bersama di organisasi berlambang pena. Perbaikan kualitas komunikasi antar semua pihak baik anggota dengan angggota, anggota dengan pengurus, anggota dengan alumni dll. Baru akan bisas terwujud jika tidak hanya kesepahaman, semangat namun juga aksi nyata dari seluruh komponen penggerak IPM tersebut. Kebiasaan menutup diri kader aktif IPM terhadapa alumni atau ortom lain sebisa mungkin disesuaikan, harus lebih cerdas memutuskan kapan masalah harus dishare kapan harus diselesaikan sendiri. Begitu pula dengan Alumni, sebagai salah satu komponen penting dalam menggerakkan IPM. Kebiasaan menunggu harus dihilangkan dan lebih aktif dan sensitif terhadapa permasalah yang kader sedang hadapi. Solusi, bantuan moril maupun materil juga harus selalu diberikan dalam rangka kelangsungna organisasi tercinta ini. Bentuk-bentuk kegiatan sederhana dan bermakna mulai harus digagas oleh kader aktif maupun alumni, diskusi nomaden misalkan di warkop atau tempat wisata lainnya bisa jadi satu kegiatan bermakna yang berkelanjutan. Semoga banyak lagi kegiatan-kegiatan berkelanjutan yang kembali digelar IPM Ranting Solokuro dengan para alumni dan kader aktifnya yang telah terdidik menjadi pemuda kreatif dan produktif. (Andik PB). 

    Ikuti tulisan menarik Andik Setyawan (PB) lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.