Mengapa Menulis Resensi Buku?

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dengan mengulas buku, saya berbagi pengalaman membaca. Tapi bagaimana?

 

“A writer hopes never to offend, but if he must, pray let him offend the gods before the reviewers.” 

--Chila Woychik, On Being a Rat and Other Observations

 

Ketika hendak menulis resensi atau ulasan sebuah buku, saya kerap dibayang-bayangi rasa jengah: “Kok berani-beraninya saya menulis ulasan buku ini?” Di hadapan saya ada buku The Undivided Past karya David Cannadine. Namun kemudian saya berpikir bahwa saya tidak punya niat mencari kekurangan dan kesalahan buku itu. Yang saya inginkan adalah berbagi pengalaman dalam membaca sebuah karya hebat yang berbicara tentang keberagaman pengalaman manusia dan mengapa sejarawan lebih banyak menulis mengenai konflik ketimbang perdamaian.

Saya percaya, melalui pendekatan pengalaman membaca, setiap orang bisa saja membuahkan hasil ulasan yang berbeda. Mengapa? Karena dalam hal keluasan dan kedalaman pengetahuan, sejarah hidup dan pengalaman, nilai-nilai yang dipegang, kemampuan berpikir dan mencerna tulisan, maupun respons emosionalitas tiap-tiap orang niscaya berbeda-beda. Dari sebuah buku yang sama dapat lahir puluhan ulasan yang berbeda—di sinilah letak penting pengalaman membaca.

Kendati begitu, secara umum ada beberapa patokan yang lazim dipakai dalam mengulas sebuah karya, kali ini saya ingin berbicara dalam konteks karya bukan fiksi. Patokan inilah yang menuntun saya dalam menulis ulasan sebuah buku.

Pertama, apa tema dan topik yang didiskusikan penulis dalam buku tersebut. Secara individual, masing-masing orang mungkin punya kecondongan yang berlainan mengenai tema dan topik yang ingin diulas. Sebagian orang mungkin menyukai tema politik, sejarah, biografi, sedangkan orang lain mungkin menyenangi isu bisnis dan manajemen—misalnya, media sosial untuk pemasaran produk.

Kedua, sudut pandang apa yang dipakai penulis dalam mendiskusikan topik tersebut. Topik yang sama dapat dilihat dari sudut pandang berbeda-beda, bergantung keinginan penulisnya. Mohammad Hatta adalah figur yang banyak ditulis, tentang masa mudanya, tentang kecintaannya kepada buku dan ilmu pengetahuan, atau tentang kejujurannya.

Ketiga, dengan memakai sudut pandang pilihannya, apa pendapat atau tesis penulis mengenai topik tersebut. Tesis penulis merupakan hal yang penting sebab inilah alasan mengapa sebuah buku ditulis. Ketika menulis mengenai peristiwa 1965, Ben Anderson dan Ruth McVey mengajukan tesis bahwa peristiwa ini merupakan konflik internal Angkatan Darat. Tesis ini berbeda dengan pandangan resmi pemerintah Indonesia ketika buku tersebut terbit.

Keempat, untuk mendukung sebuah tesis, penulis memerlukan materi penulisan yang harus diriset, tulisan lain yang dirujuk, wawancara dengan narasumber, maupun dokumen-dokumen lain sebagai bukti. Riset yang luas dan mendalam amat dihargai, tapi jika penulis tak mampu memakainya untuk mendukung argumennya, kerja keras itu terkesan kurang bermanfaat.

Kelima, membandingkan buku yang tengah diulas dengan buku serupa dapat memerkaya pengetahuan pembaca mengenai isu tertentu. Pembaca memeroleh pemahaman bahwa ada beberapa buku karya penulis lain yang membahas tema yang sama.

Keenam, melalui komparasi seperti itu, saya dapat berbagi pemahaman dengan pembaca mengenai nilai kebaruan yang ditawarkan buku yang sedang diulas. Mungkin penulis buku menawarkan temuan dan bukti baru, mengajukan tesis baru, melihat sebuah peristiwa dari sudut pandang berbeda, atau penulis melakukan penelitian dengan memakai metode lain.

Ketujuh, penulis buku patut diapresiasi bila ia juga mampu menyajikan karyanya dengan ritme dan gaya menulis yang mendorong pembaca untuk menyelesaikan bacaannya hingga halaman terakhir. Di tangan Harry Poeze, sejarah Tan Malaka tersaji dengan begitu hidup, bernuansa, tanpa kehilangan sedikitpun nilai akademisnya.

Mengingat berbagai pertimbangan tadi, bagi saya, mengulas sebuah buku bukanlah pekerjaan ringan. Saya tidak bisa menulis ulasan buku sekali jadi karena khawatir berlaku tidak cukup adil dalam memberi apresiasi terhadap penulis yang telah berikhtiar keras untuk melahirkan sebuah karya tulis—sebuah buku yang membukakan horison baru bagi khalayak pembacanya, termasuk saya. (sumber ilustrasi: lifehack.org) ***

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua