Burukkah Baper saat Bekerja?

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Antusiasme, rasa senang, dan bangga justru berkontribusi positif bagi kinerja yang lebih baik.

 

Seorang empu memasak akan tahu apakah hidangan yang disajikan kepadanya dimasak dengan sepenuh hati atau sembari kesal dan terburu-buru. Bahkan, sebelum empu itu mencicipi rasanya. Dengan melihat penyajiannya, empu itu tahu apakah di dalam hidangan itu tersimpan kesungguhan hati pemasaknya. Hidangan yang bagus penyajiannya dan lezat rasanya menunjukkan keterlibatan emosionalitas pemasaknya, mungkin rasa senang terhadap jenis masakannya, pertautan dengan kenangan masa kecil, atau ia merasa bangga dapat memasak untuk seorang senior chef yang ia kagumi.

Para manajer yang sudah kenyang pengalaman umumnya juga memiliki ketajaman penciuman seperti empu masakan tadi. Begitu mengamati hasil kerja anak buahnya, ia dapat segera tahu sejauh mana upaya dan kesungguhan dicurahkan dalam menyelesaikan pekerjaan itu. Intensitas di dalam proses akan terlihat di dalam hasil pekerjaan.

Sebagian orang menyajikan hasil kerja yang mengesankan karena melalui pekerjaan itu ia merasa berguna bagi orang lain, perusahaan, ataupun masyarakat. Mungkin ia menemukan sesuatu yang bermakna di dalam pekerjaan itu. Mereka yang menyediakan waktu untuk kerja sosial lazimnya merasakan makna seperti ini. Sebagian lainnya merasa termotivasi karena menemukan kesenangan dalam mengerjakan sesuatu, katakanlah melukis atau menghimpun dana sosial.

Apapun profesi kita, apapun pekerjaan yang kita lakukan, berpikir positif bahwa kita dapat menemukan sesuatu yang berharga di dalam pekerjaan itu niscaya akan lebih baik. Namun, bila kita merasa tidak bekerja sepenuh hati, boleh jadi pekerjaan itu tidak cocok untuk kita.

Ada beberapa indikator yang dapat kita gunakan untuk mengetahui apakah kita bekerja dengan hati ataukah tidak. Melibatkan perasaan ke dalam pekerjaan tidak selalu berarti buruk, sepanjang kita mampu mengelolanya. Dalam konotasi positif, baper menunjukkan tingkat intensitas kita dalam menyelesaikan pekerjaan. Nah, beberapa ahli menyarankan sejumlah pertanyaan untuk mendeteksi kesungguhan hati kita dalam mengerjakan sesuatu.

Pertama, apakah kita menyukai yang kita kerjakan? Jika kita menerima tugas tertentu dengan rasa kesal, menggerutu, enggan, maka ini pertanda negatif. Bila kita memaksakan diri melakukan pekerjaan yang tidak kita sukai, hasilnya boleh jadi tidak optimal.

Kedua, apakah kita menikmati saat-saat melakukan suatu pekerjaan? Jika kita ingin cepat-cepat menyelesaikannya, ingin cepat beres tanpa terlalu peduli bagaimana hasilnya, ini pertanda bahwa kita kurang menyukai pekerjaan itu. Sebaliknya, jika kita berusaha memberi yang terbaik, ini pertanda positif.

Ketiga, apakah kita bangga pada apa yang kita kerjakan? Ada pekerjaan tertentu yang mungkin kita ceritakan kepada orang lain dengan senang hati, bukan keluh kesah. Kita bangga menjadi bagian dari tim yang menyelesaikan pekerjaan tertentu.

Keempat, apakah kita terus-menerus memperbaiki kinerja kita? Bila kita bangga dan menyukasi apa yang kita kerjakan, kita akan berusaha memperbaiki kinerja dari waktu ke waktu agar bertambah baik. Kita mau belajar dari orang lain, mencari ide-ide segar, dan bekerja lebih produktif.

Kelima, apakah kita menerima tanggung jawab dengan senang hati? Orang-orang yang meggerutu ketika diserahi tanggung jawab akan cenderung bekerja tidak sepenuh hati. Lain hal bila kita memandang tanggung jawab sebagai bentuk kepercayaan dan kita siap menerima konsekuensi apapun bila pekerjaan kita tidak memenuhi harapan. Misalnya, tidak menyalahkan situasi atau orang lain. Kita juga segera bangkit kembali.

Keenam, apakah kita fokus kepada pekerjaan tersebut? Manakala kita bekerja dengan hati dan pikiran, kita akan memusatkan perhatian kepada apa yang sedang kita kerjakan. Kita berusaha keras menghindari apa saja yang berpotensi mengganggu, mengalihkan perhatian, atau menginterupsi aktivitas kita.

Ketujuh, apakah kita cukup terbuka untuk menerima gagasan baru? Jika kita menyukai pekerjaan kita, kita berusaha menghasilkan yang terbaik. Untuk mencapai hasil terbaik, kita bersikap terbuka terhadap masukan dan menyambut baik gagasan-gagasan baru. Kita bersedia mendengkarkan, mau belajar, dan berikhtiar untuk bekerja lebih baik lagi. (sumber ilustrasi: tempo.co) ***

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua