Kepala Daerah Hebat Tak Hanya di Jawa

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bupati Maros, Hatta Rahman tak kalah hebat dengan Nurdin Abdullah, Bupati Bantaeng.

 

Selama ini bicara kepala daerah hebat, pulau Jawa selalu yang  jadi rujukan. Ya, di Jawa ada Tri Rismaharini. Di Jawa juga ada Ridwan Kamil,  Suyoto, Yoyok Riyo Sudibyo, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Padahal nun jauh di sana, di luar Jawa, ada pula kepala daerah yang kinerjanya tak kalah hebat dengab yang di Jawa. Salah satu yang fenomenal adalah Nurdin Abdullah, Bupati Kabupaten Bantaeng. Bantaeng sendiri adalah sebuah kabupaten yang ada di provinsi Sulawesi Selatan. Dulu kabupaten ini sering disebut sebagai kabupaten kumuh. Tapi di tangan Nurdin, Bantaeng jadi kabupaten yang dipuji- puji. 

 

Nurdin, sang profesor pertanian itu sukses merubah Bantaeng dari kabupaten kumuh menjadi daerah yang bersinar. Karena keberhasilannya itu Nurdin terpilih hingga dua periode. Bahkan ada yang mengatakan, andai Nurdin maju untuk ketiga kalinya, pasti terpilih. Tapi aturan membatasi, kepala daerah hanya bisa menjabat dua periode, sama seperti  Presiden. Karena prestasinya itu pula,  Nurdin kini disebut- sebut calon kuat Gubernur Sulawesi Selatan, pengganti Syahrul Yasin Limpo yang sudah menjabat dua kali. 

 

Ternyata, selain Nurdin, ada kepala daerah lainnya di Sulawesi Selatan yang juga banyak dipuji  karena berhasil membuat perubahan di daerah yang dipimpinnya. Dia adalah Hatta Rahman, Bupati Maros, Sulawesi Selatan. Hatta Rahman, seorang insinyur  kini terpilih kembali jadi Bupati di Kabupaten Maros. Berpasangan dengan Harmil Mattotoran, Hatta memenangi pemilihan kepala daerah awal Desember tahun kemarin. Artinya, ini periode kedua Hatta memimpin Maros, sebuah kabupaten yang letaknya tak jauh dari Kota Makassar, ibukota provinsi Sulawesi Selatan.

Selasa 12 April 2016, di Bandara Hasanuddin, Maros, saya bertemu dengan seseorang. Ia mengaku asal Maros. Saat itu, saya hendak pulang ke Jakarta, usai meliput kegiatan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo yang menghadiri acara Musyawarah Rencana Pembangunan Sulawesi Barat. Ternyata saya satu pesawat dengannya.

Saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, ia mengajak saya rehat sebentar sekedar untuk ngopi. Di sebuah kafe yang ada di terminal 2F, saya dan dia asyik mengobrol sembari menyeruput secangkir kopi.

Karena dia mengakub berasal dari Maros, saya pun coba mengorek tentang bupati Maros, Hatta Rahman. Ia pun dengan antusias kemudian bercerita tentang sang bupati. Kata dia, Bupati Maros, Hatta Rahman tak kalah hebat dengan Nurdin Abdullah, Bupati Bantaeng. Tapi memang, Hatta jarang diekspos oleh media. Selain memang Hatta tak banyak bicara.

" Dia tak banyak bicara, banyak bekerja, jadi kurang terekspos media," kata dia.

Padahal kata dia, Hatta tak kalah hebat dengan Nurdin. Kerja Hatta juga nyata. Ia contohkan, saat Hatta mulai menjabat sebagai Bupati Maros untuk pertama kalinya, kondisi keuangan kabupaten tersebut morat-morat. Bahkan APBD Maros defisit hingga 160 milyar. Tapi di era Hatta, defisit anggaran itu bisa ditanggulangi.

" Saat Pak Hatta selesai menjabat sebagai bupati Maros di periode pertamanya, dia justru meninggalkan saldo 100 milyar lebih," katanya.

Dan di era Hatta pula, jalan-jalan di Maros sekarang mulus. Bahkan Hatta berhasil melakukan betonisasi jalan hingga 100 kilometer panjangnya. Jalan-jalan kecil pun kini sudah dibeton. Tidak hanya itu, di era Hatta pula, Maros menjelma jadi kabupaten digital di tanah Bugis. Hatta menghadirkan aplikasi bagi warga Maros yang bisa di unduh via Google Store. Lewat aplikasi itu, warga Maros bisa memantau kondisi di beberapa pojok kota Maros secara real time. Tayangan real time itu berasal dari CCTV yang dipasang di beberapa pojok kota Maros.

" Jadi misalnya kalau mau lihat apakah sekitar Bandara Hasanuddin itu macet atau tidak tinggal buka saja aplikasi via handphone," katanya.

Pemerintah Maros di bawah Hatta juga, kata dia, menyediakan jaringan internet nir kabel atau Wifi. Kini jaringan Wifi di Maros sudah sampai pada tingkat kecamatan. Bahkan sudah mulai samppai pada tingkat desa atau kelurahan. " Pak Bupati juga mengembangkan sistem pemantauan absensi secara online. Jadi bisa diketahui, hari itu pegawai yang masuk atau bolos," katanya.

Prestasi lainnya, di era Hatta, Kabupaten Maros bisa meraih Piala Adipura. Bahkan Adipura diraih tiga kali berturut-turut. Di era Hatta pula, laporan keuangan Maros jadi kinclong. Hanya dalam tiga tahun menjabat, Hatta sukses merubah predikat laporan keuangan Maros dari disclaimer terus menerus menjadi Wajar Tanpa Pengecualian atau WTP dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). " Itu bukti Pak Hatta bekerja nyata," ujarnya.

 

Saya pun membayangkan, Nurdin jadi Gubernur Sulawesi. Di dukung oleh Hatta Rahman di Maros.  Derap pembangunan di provinsi Sulawesi Selatan sepertinya akan berderap kencang.  Jadi,  kepala daerah hebat tidak hanya di Jawa. Dan ini yang membuat saya optimis, di masa datang Indonesia bakal mengalami masa keemasannya. Menyimak kisah para kepala daerah hebat, membuat saya cepat melupakan cerita menyebalkan Bupati  Ogan Ilir,  Ahmad Wazir Nofiandi yang di pecat karena tertangkap tangan sedang nyabu. 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Agus Supriyatna

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua