x

Iklan

Dian Purba

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Pulau Buru Tanah Air Beta dan Rezim yang (Masih) Ketakutan

Kenapa di Medan pemutaran film "Pulau Buru Tanah Air Beta" tak ditentang oleh ormas yang selama ini menyebut diri mereka pembela Pancasila?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Peringatan Hari Kebebasan Pers atau World Press Freedom 2016 dan pemutaran film "Pulau Buru Tanah Air Beta" di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta dibubarkan oleh polisi, Selasa malam, 3 Mei 2016. Tapi, saat film itu diputar di malam hari di Medan tepat di permulaan bulan April ini, “hantu komunis” tertidur pulas.

Saya kemudian sangat tergoda menanyakan hal ini: kenapa di Medan film ini tak ditentang oleh ormas yang selama ini menyebut diri mereka pembela Pancasila? Rahung Nasution, produser film tersebut, boleh jadi tahu akan hal ini, namun tetap saja dia rada tak percaya betapa membludaknya penonton yang hadir. Apakah Anda pernah menyaksikan konser megabintang yang penontonnya sampai berdiri karena kehabisan tempat duduk? Tepat, seperti itulah gambarannya. Didominasi kaum muda, antusiasme terjaga sempurna dari film diputar hingga bincang-bincang selesai.

Sebelum menelisik film dokumenter tersebut, saya tergelitik tentang hal berikut. Lokasi pemutaran film bukanlah di aula atau di markas organisasi gerakan, pun tidak di kampus melainkan di warung nongkrong kaum muda zaman sekarang. Bukankah film yang hendak ditampilkan itu berkisah tentang sesuatu yang sangat jauh dari kehidupan kaum muda sekarang? Saya kemudian teringat ke beberapa tahun silam. Film-film seperti ini hanya diminati oleh “kaum gondrong” yang di kaosnya tersablon gambar Che Guevara, Pramoedya, Soekarno, Lenin, Tan Malaka, atau Karl Marx; kaum aktivis yang tampilannya urak-urakan. Namun, malam itu, yang datang adalah kaula necis nan bersih serta penikmat kecepatan teknologi. Generasi Y. Apa yang membuat antusiasme itu? Entahlah. Yang pasti: ini kabar gembira. Sepertinya generasi yang lahir di atas tahun 1980-an adalah generasi yang sudah sangat berjarak dari peristiwa 1965-1966. Generasi ini juga adalah generasi yang tidak begitu saja percaya dengan “dagangan” klasik pemerintah: awas bahaya laten komunis. Untuk itulah kemudian banyak dari mereka yang datang belum begitu tahu, atau sama sekali belum pernah mendengar Pulau Buru. Namun, kehadiran mereka sudah merupakan pengantar yang sangat baik sebagai pembuka ruang untuk menelisik dan masuk lebih dalam ke ruangan luas sejarah yang dikelamkan selama ini.

Apa yang menarik dari film ini? Yang pasti dan terutama: ini bukan film tentang komunis(me). Karena itulah, pelarang pemutaran film ini di Jakarta lebih tampak sebagai kekonyolan ketimbang ketakutan. Tema film ini sangat sederhana: Hersri Setiawan yang sudah sangat ujur ingin “pulang kampung” ke Buru. 

Pulau Buru yang dilihatnya 37 tahun pasca-pembebasaannya tahun 1979 bukan lagi “tanah yang luas dan lautnya yang lebih luas lagi untuk berkubur diri.” Bukan pula tanah yang menganggap “pemukulan dan penghinaan sebagai peradaban”. Atau pulau dengan 21 unit barak yang dihuni lebih dari 11.000 tahanan yang dulu dijadikan sebagai warga negara paling ujung di deret hitung. Hersri juga menyaksikan Buru sekarang bukan lagi tempat yang dulu mereka hanya dibolehkan sebagai umat peradaban kuping (hanya bisa mendengar) dan bukan umat peradaban bibir (hak berbicara) yang hanya dimiliki oleh penguasa. Pun bukan lagi tanah para pekerja paksa yang dengan tangannya bisa mencetak 5000 hektar sawah kurun waktu sepuluh tahun.

Pulau Buru yang disaksikannya adalah tempat musik mengalun mengiringi kemeriahan pernikahan. Tempat yang jalannya sudah diaspal berjalur dua yang dilalui oleh ramainya kendaraan bermotor. Semua serba kebalikan dari yang dulu. Nyaris tak ada sisa-sisa kekelaman selain monumen kenangan yang dibangun tentara. Itupun, ternyata, monumen itu dibangun sebagai wujud “kerja keras” para komandan tentara yang pernah bertugas di sana. Dan juga: kuburan para tapol.

Kekuatan film ini, salah satunya, menurut saya, terletak di aksi mengharukan di kuburan Heru. Dengan tangannya yang sudah berkeriput dan tak begitu kuat lagi, Hersri membersihkan rumput-rumput kuburan sahabatnya yang sama sekali tidak terawat. Hersri dan teman-temannya meneteskan air mata mengenang Heru dan kesakitan di masa silam. Namun, air mata itu bukanlah air mata “kecengengan”, akan tetapi air mata kekuatan. Di air mata itu, dan juga di doa yang dirapalkan di samping pusara terkandung harapan yang dari dulu mereka perjuangkan mati-matian: Indonesia yang lebih baik. Keharuan yang menguatkan itu ditutup dengan sepucuk puisi, yang juga menguatkan.

Lantas, kenapa rezim masih tampak ketakutan? Ternyata kesederhanaan ini berubah menjadi momok karena ada “Pulau Buru” di sana. Menyebut kata ini saja sudah menderetkan banyak tuduhan kecurigaan. Siapakah sesungguhnya yang paling terancam bila film ini ditonton banyak orang? Kita bisa menjawabnya dengan sangat cepat. Kita pun tahu, di balik jawaban yang kita tahu itu, terkandung satu “ancaman” serius bagi rezim. Bagi anak muda yang sudah sangat berjarak takkan menyisakan apa pun setelah menonton ini kecuali pengetahuan baru berselimutkan pertanyaan yang kemudian menghasilkan pertanyaan yang lain. Ketika mereka melihat adegan-adegan di film itu, tak hanya sekali mereka tertawa justru di saat seharusnya tidak tertawa. Saat mendengar kesaksian para tapol mereka juga terheran-terheran tidak percaya. Seakan-akan mereka tidak percaya tindakan brutal di Pulau Buru pernah dilakukan pemerintah di masa silam. Artinya di satu sisi mereka melihat film itu sebatas tontonan saja dan juga menilainya sebagai sesuatu di luar kewajaran. 

Saya melihat di sinilah letak ketakutan penguasa. Generasi Y, generasi serba cepat dalam segala hal, punya potensi sangat kuat untuk melakukan hal-hal yang mengejutkan. Hal-hal mengejutkan itu sangat berpotensi mengikis dan menelanjangi kebohongan-kebongonan berlapis sejarah. Akses informasi yang mereka miliki takkan mungkin lagi dibatasi penguasa. Mereka memandang pemerintah sangat ketinggalan zaman saat para tapol menuntut hal yang bagi mereka sangat masuk akal: permintaan maaf dari negara dan pengakuan bersalah oleh negara. Tapi bukankah semua hal ini hanya akan semakin mendekatkan kita pada pengungkapan fakta-fakta di luar fakta versi pemerintah? Alhasil, semakin film ini ramai ditonton semakin ramai pulalah pertanyaan yang berhamburan keluar. Dan penguasa lalim sangat tidak menyukai apabila rakyatnya banyak bertanya.

Ikuti tulisan menarik Dian Purba lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Puisi Kematian

Oleh: sucahyo adi swasono

Sabtu, 13 April 2024 06:31 WIB

Terkini

Terpopuler

Puisi Kematian

Oleh: sucahyo adi swasono

Sabtu, 13 April 2024 06:31 WIB