Kampung Kolong - Analisa - www.indonesiana.id
x

Diaz Setia

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Kampung Kolong

    Dibaca : 2.696 kali

    Pernah terbayang sebuah potret tentang nadi kehidupan yang berada di bawah kolong jalan layang?

    ‘Anak-anak kolong’ sebuah sebutan bagi anak-anak yang tinggal di bawah jalang layang. Rumah-rumah triplek berjajar acak, gerobak-gerobak kayu berparkir di halamannya. Sinar matahari tak bisa masuk sempurna, hanya lewat celah antara dua jalan layang yang saling bersisian. Hujan pun tak bisa menerobos langsung  rumah-rumah  itu, tumpahan air langit pun hanya lewat di celah yang sama. Ya, jalan layang lah atap sesungguhnya rumah-rumah non-permanen itu. Jalan layang lah sebagai naungan mereka. 

    Kehidupan yang begitu bersejajar dengan gaduh jalanan kota, barangkali suara mobil lah yang tiap kali membangunkan penduduk kampung 3kolong, bukan adzan shubuh dari masjid. Beberapa blok bangku semen ikut melengkapi perbendaharaan kampung kolong, selain sebagai tempat duduk-duduk, salah satu blok bangku semen dipergunakan warga untuk menggelar dagangan berupa jajanan. Tidak hanya itu, di depan komplek rumah triplek itu juga terdapat lapangan basket, dengan satu ring, yang walau tidak terlalu luas namun cukup mumpuni sebagai sarana bermain anak-anak. Di akhir pekan, lapangan basket itu sempat digunakan sebagai tempat belajar anak-anak. Meja dan bangku kayu di tata sedemikian rupa, untuk menyulap lapangan basket menjadi kelas yang asik untuk belajar.

    Adalah sebuah komunitas sosial yang menyebut kelompoknya sebagai ‘Sobat Kolong’. Di kolong jalan layang itu,relawan-relawan ‘Sobat Kolong’ setiap sabtu membuka kelas belajar reguler atau kelas akademik yang dikemas dengan cara yang lebih interaktif. Sedangkan hari minggu digunakan untuk kelas tambahan yang sifatnya non-rutin, biasanya kreatifitas dan seni . Namun kisah kelas belajar di ruang terbuka dengan atap jalan layang dan backsound deru kendaraan bermotor telah tamat.

    Karena anak-anak sudah punya tempat belajar baru, yaitu Rumah Kolong, yang baru saja diresmikan per Januari 2015. Kakak-kakak relawan Sobat Kolong berhasil menggandeng donatur untuk dapat menyewakan rumah sebagai sarana belajar mereka. Jadi, anak-anak kolong sudah bisa belajar tanpa takut kehujanan, kepanasan, bebas gangguan asap polusi dan bising kendaraan bermotor. Memang rumah kolong letaknya di belakang apartement  menara Latumenten. Letak rumah kolong yang agak jauh dari rumah mereka  bukan jadi penghalang, demi kesempatan belajar di tempat lebih nyaman.

    Tapi hanya tempat belajar mereka pindah. Anak-anak kolong masih menjalani kehidupan sehari-harinya di bawah jembatan layang. Tinggal di dalam rumah tripleks, bermain disekitaran komplek kolong. Berangkat sekolah dari sana,bermain  dan pulang kembali kesana.

    Potret kehidupan ala anak-anak kolong masih terus berjalan. Kita kah yang merasa iba? Anak-anak tetap anak-anak. Mereka belajar, bermain, menikmati hidup mereka dengan cara yang sederhana. Pernahkah mereka berpikir betapa hidup mereka patut dikasihani? Senyum, tawa, dan keceriaan mereka yang menjawab. Membuat kita berbalik iba pada diri sendiri. Betapa hidup begitu sederhana. Bahkan harapan-harapan itu lahir dari pemikiran polos mereka.

    “Aku mau kolong bersih dan nyaman tidak ada kotoran di sekitar lapangan. Aku mau kolong tidak jadi di gusur...”

    “Di sini sederhana, tapi kita mensyukuri apa adanya kita sering bermain kelereng. Kita tidak pernah bertengkar selalu damai. Kita mau hidup kita berubah, tenang, dan bersih. Walaupun hidup kita tidak mewah tapi kita bersyukur. Walaupun rumah kita hanya sebatang kayu aku senang tinggal disini..”

    Begitu tulis beberapa anak kolong. Ah, ya... semestinya kita yang iba pada diri sendiri, kita, orang dewasa yang masih begitu pengecut untuk sekedar memiliki harapan apalagi menggenggamnya. Di beberapa sisi kehidupan, anak-anak adalah guru terbaik. Dan kita terkadang jadi murid dungu, yang begitu angkuh membuka diri untuk belajar dari mereka.. dari anak-anak.. ya, anak-anak!

    (Ditulis tanggal 03 Februari 2015. Kolong jalan layang yang dimaksud dalam tulisan ini berada di daerah Jakbar. Sekarang anak-anak kolong telah terpencar, karena rumah-rumah triplek meraka di kolong kolong jalan raya telah digusur oleh pemerintah. Bahkan banyak tidak diketahui lagi tempat tinggalnya. Relawan Sobat Kolong kesulitan mencari tempat tinggal mereka.)


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.













    Oleh: Admin

    3 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 807 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).