Bunuh Diri Mahasiswa UI: 3 Alasan Rahasia Perlu Diungkap - Analisa - www.indonesiana.id
x

Gendur Sudarsono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 2 Juni 2016 11:18 WIB

Bunuh Diri Mahasiswa UI: 3 Alasan Rahasia Perlu Diungkap

Dibaca : 131.217 kali

Begitu sering mahasiswa kita  bunuh  diri.  Setelah Jon Adam (18 tahun), mahasiswa Universitas Surya, Tangerang,  gantung  diri  pada pertengahan Mei lalu, kejadian serupa terulang. Vinsensius Billy (19 tahun), mahasiswa Akuntansi Universitas Indonesia,  menjerat leher sendiri di kamar kosnya di Kota Depok pada 31 Mei lalu.

Dua mahasiswa itu berbeda  karakter.   Jon Adam dikenal sebagai sosok periang. Sebaliknya, Billy  cukup pendiam. Hampir dipastikan kematian Adam  maupun  Billy akibat  bunuh diri karena  ditemukan sisa kotoran dan air seni di tempat kejadian.   Tapi hingga kini penyebab keduanya berbuat nekat  belum terungkap secara gamblang.

Saat bunuh diri  Jon Adam sedang  sibuk menghadapi  masa ujian.  Ia juga baru pulang dari kampus sebelum mengakhiri hidupnya.  Tapi polisi  tak bisa memastikan apakah  tekanan ujian yang membikin Adam stres. Kasus  Billy pun sempat  dikaitkan dengan  urusan akademik,  tapi  belakangan  pihak Universitas Indonesia meragukan  lantaran  prestasi si mahasiswa cukup baik. (Baca: Mahasiswa UI Bunuh Diri: Bukan Soal Nilai, Ini yang Terjadi)

Kepolisian semestinya berusaha keras untuk menyelidiki penyebab bunuh diri  kedua mahasiswa ini.  Setidaknya ada 3 alasan kenapa  motif bunuh diri perlu diungkap.

1. Memastikan bukan kriminalitas

Dengan hanya melihat temuan di lokasi kejadian, sebetulnya belum cukup buat memastikan apakah  pelaku benar-benar bunuh diri.  Alangkah lebih baik jika korban  diotopsi, tentu dengan  seizin keluarga,  dan penyebab bunuh diri ditelusuri.  Pelaku pembunuhan yang canggih bisa saja merekayasa agar sasarannya terlihat sebagai korban bunuh diri.

Ingat kasus Akseyna Ahad Dori,  mahasiswa Biologi  yang tewas an mengambang di Danau Kenanga UI pada  26 Maret  tahun lalu. Semula polisi menyebut sebagai kasus bunuh diri, tapi belakangan diselidiki sebagai pembunuhan kendati hingga sekarang belum terungkap pelakunya. (Baca : Akseyna UI Dibunuh, Siapa Tersangkanya?)

2.Pelajaran bagi orang tua

Para orang tua, terutama yang memiliki anak yang sedang kuliah, tentu risau mendengar serentetan kasus bunuh diri itu.  Tapi mereka tak  mendapatkan pelajaran apapun  jika pemicu bunuh diri tak  terkuak. Kalau bukan  beban kuliah atau ujian yang berat, apa yang menjadi pendorong?  Inilah yang sebetulanya perlu diungkap.

Apakah  tekanan dari orang tua bisa memicu stres?  Hal ini  juga bisa  ditelusuri. Dalam kasus  Billy, sehari sebelumnya orang tuanya malah menjenguk korban yang mengaku sakit.  Tapi setelah ke dokter tak ditemukan penyakit yang serius.

3. Koreksi dunia pendidikan

Pihak universitas seharusnya lebih terbuka kepada kepolisian agar penyebab sebuah kasus bunuh diri . Dalam kasus Billy, kalau pun nilai dia  cukup bagus, bukan berarti  tertutup sama sekali kemungkinan  faktor lingkungan pendidikan yang memicu stres.  Begitu pula dalam kasus Adam yang bunuh diri dalam masa ujian.  Kampus dan sistem pendidikan yang baik semestinya mampu mencegah dari awal agar mahasiswa  tidak terlalu stres.

Kalau ada tanda-tanda ada mahasiswa  yang berperilaku kurang wajar atau menghadapi persoalan berat, seharusnya pula pihak universitas mendeteksi dan bisa membantu mengatasinya.

Jangan sampai kisah mirip film Dead Poets Society (1989 sedang terjadi di tengah kampus kita. Tatanan pendidikan yang kaku hanya akan membuat mahasiswa gampang memicu stres, apalagi jika tidak diimbangi dengan  kegiatan yang lebih menghibur dan menumbuhkan nilai humanis.

Tanpa ada upaya menelusurinya, publik tak akan mendapatkan pemahaman  terhadap fenomena itu. Masyarakat justru  terus bertanya-tanya apa yang tengah terjadi dalam dunia pendidikan kita. *

 

 

 

  • bunuhdiri
  • Mahasiswa
  • ui

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.