EURO 2016: Percaya Gurita atau Statistik? Magis Vs Pragmatis - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Gelandang Prancis Antoine Griezmann, mencetak gol melalui sundulan kepalanya ke gawang Albania pada pertandingan Grup A Piala Eropa di Stade Vélodrome, Marseille, 16 Juni 2016. REUTERS/Jean-Paul Pelissier

Burhan Sholihin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 16 Juni 2016 07:38 WIB

EURO 2016: Percaya Gurita atau Statistik? Magis Vs Pragmatis

Dibaca : 5.015 kali

Siapa yang Anda jagokan pada Piala Eropa? Spanyol? Anda tak salah.  Gaya permainan Spanyol dengan tiki-taka yang magis-realis memang sulit dikalahkan. Gaya itu terbukti membuat Barcelona –juga tim Spanyol mendikte sepak bola dunia. Brazil yang kerap dijuluki negeri dewa sepak bola juga sering bertekuk lutut.

 

Soal ketangguhan, pemain Spanyol juga tak diragukan lagi. Kehidupan keras para matador penakluk banteng hanyalah secuil gambaran betapa orang-orang Spanyol rela mati demi kejayaan. “La Muerte” begitulah mereka menyebutnya. Malaikat maut itu selalu dekat dengan kehidupan orang-orang Spanyol. “Spanyol merupakan satu-satunya tanah di mana orang tidak bisa membayangkan hidup tanpa kematian,” begitu kata sastrawan negeri itu, Garcia Lorca. 

Jika tampil dengan semangat “la muerte” skuad “La Furia Roja”  ini bisa mencetak sejarah. Juara bertahan ini akan membukukan hat trick, tiga kali juara berturut-turut. Itulah yang ditunggu para fans tim Matador. 

 Namun, misi meraih tiga juara sekaligus itu tak akan mudah. Pendukung tim Spanyol mesti ingat dalam hidup sering berlaku pepatah, “Jika Anda menginginkan segalanya, Anda akan kehilangan segalanya.”

Bayang-bayang pepatah itu kini sepertinya mulai terlihat. Setelah ditinggal sejumlah pemain generasi emasnya seperti Xavi Hernandez dan Xabi Alonso, gaya tiki-taka model Spanyol atau Barcelona sudah semakin membosankan, mudah ditebak. Itulah sebabnya sihir Barcelona bisa ditekuk oleh gaya pragmatis Atletico Madrid di Liga Champions.

 Tak konsistennya permainan Spanyol membuat berbagai prediksi yang muncul pun tak menempatkan “La Furia Roja” sebagai favorit juara nomor satu. Justru Prancis yang diperkirakan memiliki peluang lebih besar menjadi juara Piala Eropa 2016.

 Prediksi ini datang bukan dari si gurita cenayang atau burung beo peramal abal-abal. Tapi, perkiraan itu merupakan hasil perhitungan serius fisikawan Prof. Dr. Michael Feindt yang pernah bekerja di lembaga riset nuklir CERN. Lembaga inilah yang menemukan partikel Tuhan setelah menabrakkan atom-atom.

 Hasil prediksi Prof. Michael ini memasukkan aneka algoritma yang njlimet, termasuk memasukkan semua hasil laga internasional yang dilakoni tim yang ikut Piala Eropa. Hasilnya, ada 94 miliar kemungkinan dari pertandingan Piala Eropa 2016.  Hasilnya, bukan Spanyol yang paling diunggulkan, tapi 

Prancis dengan peluang juara 34,1 persen. Probabilitias skuad “Les Bleus” itu 2,5 kali lebih besar daripada tim Matador yang hanya memiliki peluang juara 13,4 persen dan Inggris di peringkat ketiga dengan peluang juara 11 persen. Jerman di posisi keempat dengan probilitas juata 9,8 persen.

 Melihat penampilan Prancis melawan Rumania beberapa hari lalu memang belum meyakinkan. Ketajaman Oliver Giroud, Pogba dan gelandang Pavet belum teruji. Tapi, bukan Deschamps bila tak optimistis. Dia yakin pasukan mudanya bisa mengulang rekornya, saat merebut di Piala Eropa 2000. 

 Tentu saja, Prancis tak akan dibiarkan melenggang begitu saja. Tim belia Inggris juga sedang naik daun. Gaya permainan pragmatis dengan pola 4-3-3 menjadikan Inggris jauh berbeda. Kombinasi maut, top scorer nomor 1 dan 2 Liga Inggris, Harry Kane (dengan 25 gol), Jamie Vardy (24 gol) menjadi ancaman serius. Belum lagi daya dobrak Raheem Sterling dan Delle Alli, yang membuat Jerman pun tunduk.

 Dengarlah kengerian Manajer Wales Chris Coleman melihat ujung tombak Inggris, Jamie Vardy.“Vardy telah menyuntikkan dimensi lain dari pola serangan tim Roy Hodgson,” kata Coleman. "Yang dia inginkan hanyalah terus berlari. Kalau Anda itu bek terbaik di planet ini Anda tak ingin (Vardy) berlari di belakang Anda sepanjang waktu," ujarnya.

 Sejarah bola tak mudah diringkus dalam definisi gaya magis-realis atawa pragmatis. Siapa pun yang bisa mengendalikan chaos di lapangan rumput itulah yang bakal menang. (*)

 

  • didi kempot

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.