x

Iklan

Dendy Raditya Atmosuwito

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Siapa Mentor Saya?

Setelah membaca ini mungkin anda akan berpikir siapa mentor anda, saya sendiri masih berpikir siapa mentor saya?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dalam sejarah peradaban umat manusia, setiap manusia baik itu laki-laki maupun perempuan selalu berusaha mencari pengetahuan dari orang lain. Caranya bermacam-macam baik lewat pendidikan formal, informal, maupun non formal. Salah satu cara memperoleh pengetahuan dari orang lain adalah dengan mencari mentor. Apa itu mentor? Mentor bisa didefinisikan sebagai seseorang yang penuh kebijaksanaan, pandai mengajar, mendidik, membimbing, membina, melatih, dan menangani orang lain, maka perkataan mentor hingga kini digunakan dalam konteks pendidikan, bimbingan, pembinaan, dan latihanSejarah membuktikan mentor adalah salah satu faktor pendukung kesuksesan seseorang. Dalam tulisan ini saya akan sedikit menceritakan tentang peran seorang mentor dalam membantu orang yang dia mentori meraih kesuksesan.

Kita awali kisah kita dengan hubungan mentoring paling terkenal di Yunani kuno antara Socrates-Plato-Aristoteles-Alexander Agung. Socrates adalah seorang filsuf di era filsafat kuno yang berasal dari Athena, Yunani. Dia hidup sekitar 469 S.M – 399 S.M. Selain itu, Socrates juga termasuk salah satu figur paling penting dalam tradisi filsafat barat. Pemikiran filsafat Socrates sendiri mengundang pertanyaan karena selama hidupnya Socrates tidak pernah menuliskannya dalam bentuk apapun. Apa yang dianggap sebagai buah pikirnya saat ini adalah hasil catatan murid-muridnya seperti, Plato. Dari kesemua itu yang paling terkenal adalah pengambaran Plato akan gurunya dalam dialog-dialog yang ditulisnya. Dalam karyanya Plato selalu menggunakan nama Socrates sebagai tokoh utama, karena itu, memisahkan gagasan asli Socrates sangat sulit dipisahkan dari gagasan Plato yang disampaikan melalui mulut Socrates dalam karya tulisnya. Plato sendiri hanya menulis tiga kali namanya sendiri dalam karya-karya tersebut, dua kali dalam Apologi, dan sekali dalam Phaedrus. Plato kemudian “mewariskan” ilmunya kepada murid-muridnya di Akademi yang dia dirikan, dan muridnya yang paling terkenal adalah Aristoteles.

Aristoteles adalah anak dari seorang dokter pribadi Raja Makedonia. Pada umur 18 tahun dia dikirim ke Athena untuk masuk akademi pendidikan yang didirakan oleh Plato. Aristoteles yang merupakan murid kesayangan dari Plato tetapi juga murid yang paling kritis dengan setiap pemikiran–pemikiran yang dikeluarkan Plato. Ada sebuah pernyataan dari Aristoteles mengapa dia mengkritik Plato “Amicus Plato, sed magis amica veritas” Plato kukasihi, namun aku lebih mengasihi kebenaran. Karena pernyataan ini maka Aristoteles mempunyai teori-teori sendiri dalam menentukan sebuah kebenaran yang itu berbeda dengan Plato yang pemikirannya dipengaruhi oleh gurunya yaitu Socrates. Atas dasar ini maka muncul dua pemikiran yang nantinya akan memunculkan dua golongan pemikiran Platonian dan Aristotelesnian. Selama 20 tahun Aristoteles menimba ilmu dari Plato dan ketika Plato menemui ajalnya, Aristoteles kembali ke Makedonia untuk mengajarkan ilmunya kepada putra mahkota Makedonia yang dikenal dengan nama Alexandros. Kelak Alexandros akan menaklukan dunia dengan membentuk imperium yang menggabungkan Asia dan Eropa, dia lebih dikenal dengan nama Alexander The Great atau Alexander Yang Agung.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Cerita tentang mentor ini berlanjut ke kisah Nabi Musa dan mentornya Nabi Khidir. Keterangan mengenai kisah Nabi Musa dan  Nabi Khidir terdapat dalam Al-Qur’an  Surat Al-Kahfi ayat 65-82 dan beberapa hadist. Suatu hari, seorang dari Bani Israil menemui Musa dan kemudian bertanya, “Wahai Nabiyullah, adakah di dunia ini orang yang lebih berilmu darimu ?” ujarnya. Tersentak, Nabi Musa pun jelas menjawab, “Tidak”. Tentu saja, siapa yang mampu menandingi ilmu Musa, utusan Allah kala itu. Sumber tuntunan agama dan sumber pengetahuan wahyu Allah ada di genggaman Musa. Ia memiliki Taurat dan beragam mukjizat dari-Nya. Namun, rupanya Allah memiliki hamba lain selain Musa yang lebih berilmu. Allah pun menegur dengan mewahyukan pada Musa bahwa tak seorang pun di muka bumi yang mampu menguasai semua ilmu. Tak hanya Musa, di belahan bumi lain pun terdapat seorang yang memiliki ilmu luar biasa. Ilmu itu tak dimiliki Musa sekalipun. Orang itu juga seorang Nabi. Mengetahui hal tersebut, sontak Musa pun ingin berguru pada orang tersebut. Ia bersemangat ingin menuntut ilmu dan menambah pengetahuannya.

Singkat cerita Nabi Musa berhasil bertemu dengan Nabi Khidir yang kemudian bersedia menjadi mentornya dengan satu syarat, Nabi Musa tidak boleh mempertanyakan apa yang Nabi Khidir perbuat. Nabi Musa pun setuju dengan syarat tersebut namun dalam perjalanan mereka berdua Nabi Musa dibuat terheran-heran dengan tingkah laku gurunya yang “aneh-aneh” seperti menghancurkan perahu yang mereka tumpangi, membunuh seorang bocah laki-laki dan membangun tembok perkampungan untuk orang-orang yang sikapnya tidak ramah pada mereka berdua. Nabi Musa  tidak kuasa untuk bertanya terhadap sikap Nabi Khidir  ini. Akhirnya Nabi Khidir  menegaskan pada Nabi Musa  bahwa beliau tidak dapat menerima Nabi Musa AS untuk menjadi muridnya dan Nabi Musa  tidak diperkenankan untuk terus melanjutkan  bersama dengan Nabi Khidir. Nabi Khidir kemudian menjelaskan bahwa semua yang dia perbuat ada maksudnya dan semua itu datangnya dari Allah. Nabi Musa pun sadar bahwa di dunia ini ada manusia yang lebih berilmu dari dirinya. Diantara Nabi-Nabi yang lain juga ada yang menjadi mentor bagi sahabat-sahabatnya contohnya seperti Nabi Isa dengan 12 orang muridnya dan Nabi Muhammad SAW dengan Khulafaur Rasyidin dan sahabat-sahabat Nabi yang lain. Saya kira kisah dua Nabi dan orang-orang yang mereka mentori terlalu panjang untuk saya uraikan disini.

Kisah ini saya lanjutkan dengan loncaatan waktu dan tempat yang sangat jauh. Cerita berlanjut ke Kota Surabaya di awal abad ke 20 tepatnya di Jalan Peneleh VII No 29-31. Cerita ini dimulai oleh seorang yang dijuluki oleh Belanda De Ongekroonde Van Java-Raja Jawa tanpa mahkota, pimpinan Sarekat Islam dengan 2.000.000 (benar 2 juta) anggota, Sang Singa Podium, orang yang terkenal dengan kutipannya Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Bersama istrinya, Suharsikin ia mendirikan rumah kost di rumahnya di Surabaya, yang nantinya melalui rumah inilah Tjokro menyalurkan ilmunya dalam agama, politik dan berorasi yang akhirnya menjadi cikal bakal pembentukan tokoh–tokoh penting di Indonesia.

Diceritakan pada suatu malam di tahun 1918 seorang murid Tjokroaminoto, Kusno yang dikemudian hari lebih dikenal dengan nama Soekarno  berteriak lantang di kamar indekosnya. Remaja yang masih menempuh sekolah di Hoogere Burgerschool (HBS) –setingkat SMA itu sedang berlatih pidato. Hampir seluruh penghuni indekos pun terbangun dan tertawa menyaksikan tingkah aneh rekannya. Di antara mereka adalah Muso, Semaoen, Alimin, Kartosuwiryo dan Darsono,teman sepergaulan yang indekos di kediaman Tjokroaminoto. Kelak, Soekarno tak hanya pandai berorasi layaknya Sang Singa Podium, tetapi bahkan menjadi Proklamator Republik Indonesia. Muso, Semaoen, Alimin dan Darsono menjadi tokoh sentral Partai Komunis Indonesia (PKI), salah satu partai berpengaruh di awal kemerdekaan. Sedangkan, Kartosuwiryo memilih berjuang lewat Negara Islam Indonesia (NII). Tak mengherankan jika Tan Malaka, tokoh kemerdekaan Indonesia yang juga pernah berguru pada Tjokro berujar “Pak Tjokro telah membangunkan rakyat Indonesia yang telah tertidur selama berabad-abad

Banyak kisah lain tentang mentor-mentor yang berhasil membantu orang yang dimentorinya baik yang tercantum dalam sejarah maupun di dalam cerita-cerita fiksi populer kontemporer. Contohnya Sutan Syahrir yang menjadi mentor bagi kader-kader Partai Sosialis Indonesia Soemitro Djojohadikusumo (Ayah Prabowo Subianto), Djohan Sjahroezah, Mochtar Lubis, dan Soedjatmoko (pernah menjabat sebagai Rektor Universitas PBB di Tokyo, Jepang). Soemitro sendiri kemudian menjadi mentor bagi ekonom-ekonom yang menjadi pengambil kebijakan ekonomi era Orde Baru seperti Prof. Dr. Widjojo Nitisastro, Prof. Dr. Emil Salim, Prof. Dr. Ali Wardhana, dan Prof. Dr. Johannes Baptista Sumarlin. Dalam saga Star Wars kita juga mengenal Master Yoda yang menjadi mentor Mache Windu, Qui Gon Jinn, Obi-Wan Kenobi, Anakin Skywalker, dan anaknya Luke Skywalker. Dalam anime dan manga Naruto kita mengenal Jiraiya yang menjadi mentor Uzumaki Nagato, Namikaze Minato, dan sang pahlawan Uzumaki Naruto. Kita juga mengenal Master Roshi (Pertapa Kura-Kura) yang menjadi mentor Son Goku, Krillin, Yamcha, Piccollo, Tien Shinhan, Chiatzou, dan Son Gohan kemudian Tenzin yang menjadi mentor Avatar Korra, Iroh yang menjadi mentor Zuko, Alfred yang menjadi mentor Bruce Wayne, Seijuro Hiko yang menjadi mentor Himura Kenshin dan lain-lain. Mungkin setelah anda membaca ini anda akan bertanya siapa mentor anda, saya sendiri sampai sekarang masih bertanya “Siapa mentor saya?”.

 

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Dendy Raditya Atmosuwito lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu