x

Iklan

Aseanty Pahlevi

journalist, momsky, writer, bathroom singer, traveler.
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Celebratory Book Sang Profesor di Kalimantan Barat

Di Kalimantan Barat, nama Prof Dr Syarif Ibrahim Alqadrie (SIA) cukup ternama. Buah pemikirannya banyak menjadi referensi dalam persoalan konflik.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Di Kalimantan Barat, nama Prof Dr Syarif Ibrahim Alqadrie (SIA) cukup ternama. Buah pemikirannya banyak menjadi referensi dalam persoalan konflik. Kalbar memang mempunyai sejarah kelam konflik antaretnis. Isu primordialisme selalu menjadi ‘gorengan politik’ yang renyah saban Pemilukada, atau Pilkada.

Pada 3 September 2016, di Aula Rektoran Untan Lantai III digelar Reunian Akbar, Ibrahim merayakan ulang tahun yang ke-70. Guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura Pontianak tersebut, merayakan hari kelahiran dengan Seminar internasional dan peluncuran Buku Kebuduayaan; Intraksi Sosial, Konflik dan Perdamaian. “Sekaligus memasuki masa pensiun,” ujar Ibrahim.

“Kami meminta kolega, sahabat, teman dekat, saudara, mantan mahasiswa dan lainnya untuk memberi ‘hadiah’ berupa tulisan kesan pribadi terhadap yang bersangkutan dan karya ilmiah,” ujar Holi Hamidin, ketua panitia seminar. Tulisan-tulisan itu dihimpun menjadi satu buku Celebratory Book dan diluncurkan dalam reuni. Pelaksanaan perayaan akademis seperti ini baru sekali dilaksanakan di Indonesia yakni di LIPI. “Hut Prof ini insyallah merupakan kali keduanya di Indonesia,” tambahnya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Koordinator penulisan buku sekaligus editor, Dr. Phil. Zainuddin Isman, mengatakan, isi buku dibagi dalam tiga bagian, yaitu: Bagian Pertama berisi riwayat hidup, kedua berisi kenang-kenangan dari teman, sahabat, para mantan mahasiswa dan teman sejawat/kolega (colleagues) beliau tentang bagaimana sosok SIA dalam kiprahnya sebagai dosen, ilmuan dan intelektual.

“Bagian Ketiga berisikan tulisan ilmiah dari para pakar dan sarjana dari dalam dan luar negeri yang sangat penting untuk dibaca, terutama oleh para mahasiswa. Dalam buku tersebut berisi 14 karya ilmiah. Sedangkan untuk penulis kesan pribadi sekaligus penulis karya ilmiah totalnya sebanyak 65 penulis dengan tebal buku 2 Cm,” katanya. Buku yang dipersembahkan untuk Ibrahim, sudah menjadi tradisi dibanyak tempat dan universitas besar di luar negeri, namun di Indonesia, itu masih merupakan hal yang baru.

Ibrahim sangat antusias dengan hal ini. Menurutnya, ini hal baru yang baik. "Guru besar di Indonesia langka, termasuk di Kalbar. Guru besar memiliki peran strategis dalam dunia akademis terutama dalam akreditasi kampus dan perannya di masyarakat. Dengan hal itu perlu diberi penghargaan dan itu bukan bentuk uang atau cincin dalam pelepasan atau diakhir masa pensiunnya tetapi melaluni tulisan tentang profesor itu," katanya.

Penerbitan buku untuk seorang pengajar, kata dia, seharusnya dilakukan pihak perguruan tinggi di mana tempat sang profesor mengabdi. Namun, ia tidak mempermasalahkan kegiatan tersebut dihelat oleh relawannya. "Semoga ke depan profesor di Untan ketika mau pensiun bisa melakukan hal ini dan memang profesor diberikan yang jauh lebih berharga lagi," kata dia. Kegiatan ini dihadiri dua profesor dari Jepang yang merupakan teman karib SIA. Selain itu juga beberapa tokoh pendidikan di Indonesia, tokoh Polri dan sejumlah pejabat pemerintah, dan pihak kampus Untan. 

Ikuti tulisan menarik Aseanty Pahlevi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu