Teka Teki Kekuatan Wahidin-Andika Menjelang Pilgub Banten - Analisa - www.indonesiana.id
x

kang Nasir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Teka Teki Kekuatan Wahidin-Andika Menjelang Pilgub Banten

    Analisis tentang Pilgub BANTEN 2017

    Dibaca : 2.797 kali

    Proses pedaftaran Calon Gubernur Banten melalui jalur partai politik tiggal menunggu waktu. Beberapa partai politik yang memperoleh kursi di DPRD Banten sudah mulai ancang-ancang, bahkan sudah ada yang sepakat utuk berkoalisi dalam pegusungan pasangan Calon.

    Diantara partai politik yang sudah sepakat itu antara lain Partai Demokrat, Golkar, PKS, PAN dan Hanura,. Kelima partai ini berada  dalam barisan koalisi Wahidin Halim- Andika Hazrumi –Selanjutnya WH-AA – , keduanya di tandemkan sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur  dalam kontestasi Pilgub Banten 2017 mendatang.

    Dua partai politik yakni Demokrat dan Golkar  merupakan tulang punggung utama kekuatan WH-AA, Demokrat merupakan rumah Wahidin Halim, sementara Golkar adalah tempat berteduhnya Andika Hazrumi.  Jika infrastruktur politik dua partai ini berjalan dengan baik, maka tak ayal menjadi sebuah kekuatan politik yang amat nyata. Jika hal ini betul terlaksana, maka siapapun kompetitornya harus berjibaku mengatur strategi pemasaran. Mengapa demikian, harus diingat, bahwa Gokar –lepas dari stigma yang ada saat ini – merupakan partai yang banyak pengalaman dalam kontestasi politik baik lokal maupun nasional, untuk saat ini, Golkar termasuk pemenang bersama dengan PDIP dalam mendudukkan anggotanya di DPRD Banten, yakni 15 kursi. Kekuatan Golkar di masing masing Kabupaten/Kota se Bantenpun akan tetap solid dalam mengamalkan fatsoen partai.  

    Demikian halnya dengan Demokrat, meski partai ini hanya menyumbangkan 8 kursi di DPRD Banten, Demokrat masih punya daya magnit yang bisa menarik simpati rakyat, magnit itu adalah sosok SBY. Jika SBY ikut terjun langsung ke masyarakat, baik melalui kampanye atau kegiatan lainnya dalam memasarkan kadernya, saya yakin sebagian rakyat akan bersimpati.

    Apalagi dengan begabungnya PKS, HANURA dan PAN, kedalam barisan koalisi, telah menambah panjang rangkain gerbong yang akan ditarik WH-AA.  PKS, yang juga telah mendudukkan kadernya di DPRD Banten sebanyak 8 kursi, diharapkan bisa diandalkan untuk meraih suara utamanya dari kader dan simpatisannya. Saya katakan demikian, mengingat partai ini terkenal militan dalam mengamalkan kebijakan partai, apapun yang menjadi kebijakan partai, akan ditaati oleh pengurus/anggota bahkan simpatisannya. Inrastruktur partainyapun bisa dikatakan amat baik di masing masing tingkatan.

    Dua kekuatan lain yakni Hanura 6 kursi dan PAN 3 kursi, meski tak sesolid dan sebaik tiga partai diatas, tapi paling tidak menjadi penyemangat dalam kaitannya dengan basis dukungan WH untuk  untuk mendulang perolehan suara.

    Namun demikian, dalam kontek system politik saat ini, berapapun jumlah kursi keterwakilan di parlemen, bukan ukuran satu satunya untuk mengukur pemenangan. Pemilihan langsung yang saat di jadikan sebagai system Pemilihan baik Pilkada, Pilpres maupun Pemilu Legislatif, telah menempatkan rakyat sebagai penentu suara.

    Hal inipun masih tergantung dari sejauh mana menegement partai bisa meyakinkan  stekholder agar semua gerbong itu dipenuhi oleh penumpang baik pelanggan tetap – anggota/simpatisan partai-- maupun penumpang pada umumnya yakni rakyat pada umumnya.

    Satu analisis tentang kekuatan Cagub Banten telah dikemukakan oleh  Agus Sutisna beberapa hari lalu dalam tulisannya di salah satu harian lokal Banten dengan judul ‘’Di atas Kertas Rano Karno Kalah’’ . Menurut AS, jejaring kekuasaan juga ikut berpengaruh terhadap sebaran suara bakal calon. AS dengan gamblang telah memetakan ini melalui analisis geopolitiknya dan telah mengunggulkan WA-AA di hampir seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Banten.

    Menurut AS, di Lebak ada Iti Jayabaya dan ayahnya Mulyadi Jayabaya,  di Tangsel ada Airin Diani, di Kabupaten Serang ada Tatu Chasanah, di Kota Tangerang ada Arief R., di Pandeglang ada Tanto W, wakil Bupati, di Cilegon ada Iman Ariyadi Walikota Cilegon, di Kabupaten Tangerang ada Zaki Iskandar dan di Kota Serang ada Tb.Haerul Jaman yang akan all out bela Andika dengan catatan Jaman tidak ikut dalam kontestasi Pilgub.

    Analisis AS tentang hal ini menurut saya sah sah saja, namun jujur saya masih meragukan persoalan Kota Tangerang dan Kota Serang. Betul di Kota Tangerang ada Arief R. sebagai walikota yang dulu ikut dengan Wahidin Halim, atau boleh dikatakan Arief R adalah murid WH, namun jika menoleh ke belakang saat Pilkada, bukankah Wahidin Halim adalah rival Arief R meskipun tidak secara langsung, saat itu Arief R. berseteru dengan adik Wahidin Halim yakni Abdul Syukur  dalam pencalonan Walikota 2014 lalu. Jika Arief betul membela Wahidin Halim, saya akan angkat jempol, artinya Arief R sudah menjadi negarawan dalam menyikapi politik. Tapi kalaupun Arief R kemudian tidak membela Wahidin, sayapun bisa memahami mengingat latar belakang kesejarahan tadi, sehingga  Arief akan melaksanakan sikap politiknya sendiri.

    Adapun soal Haerul Jaman,  saya malah  meragukan. Ada beberapa hal yang menurut saya Haerul Jaman tidak akan all out, yakni adanya politik persaingan dalam keluarga H.Tb.CHasan Sohib utamanya antara Haerul Jaman dan Andika Hazrumi -- yang dibelakangnya ada pamannya yakni Tb.Cheri Wardana dan Ibunya sendiri yakni Rt. Atut Chosyiah --- dalam kontestasi Pilgub dimana dua duanya menginginkan maju sebagai calon baik Gubernur maupun Wakil gubernur, dan keduanya saling ngotot untuk tidak mau mengalah. Pemecatan CHaerul Jaman sebagai Plt Ketua DPD II Golkar Kota Serang menjelang pelaksanaan Munaslub Golkar beberapa bulan lalu menurut hemat saya justru menjadi  pemicu lanjutan tentang meruncingnya konflik keluarga.

    Satu hal lagi yang perlu menjadi catatan adalah soal Rekomendasi Partai Golkar terkait dukungan terhadap pasangan Wahidin Halim dan Andika Hazrumi. Jika surat Rekomendasi itu betul ditanda tangani oleh Nurdin Halid sesuai dengan yang beredar di Media Sosial, maka sudah dapat dipastikan tidak akan bisa untuk dijadikan sebuah persyaratan pendaftaran ke KPU mengingat yang menandatangani bukan Ketua Umum Partai Golkar yakni Setya Novanto.

    Jadi menurut saya, Koaliasi Partai dan pendukungan terhadap pasangan WH-AA termasuk juga peta kekuatan politiknya, hingga saat ini masih merupakan teka teki yang masih menjadi pertanyaan  rakyat Banten.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.