x

Iklan

Luthfi Ersa Fadillah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Orasi yang Basi

Tulisan ini memberikan pandangan bahwa segala bentuk aksi dalam menyuarakan penolakan terhadap suatu pemimpin tidak serta diiringi dengan ide-ide yang baru

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ketika saya menonton video mahasiswa yang berorasi menolak ahok menjadi calon gubernur selanjutnya hanya karena ia seorang kafir, saya mengira hanya ia seorang, ternyata dirinya tak sendiri. Di Youtube ada beberapa orasi sejenis dan saya tonton satu per satu. Kesemuanya mahasiswa hanya berbeda jaket almamater saja. Mereka menamai diri dengan embel-embel “Gerakan Mahasiswa” plus “pembebasan”.

Kalau dilihat keseluruhan videonya dari siapa, apa dan bagaimana video itu dibuat, agak absurd sebetulnya memikirkan jalan pikiran mereka. Satu hal saja, kita bisa ajukan pertanyaan konyol, “apa hubungannya memamerkan gedung rektorat, gerbang universitas, serta memakai jaket almamater dengan isi orasi dan arah gerakan mereka?”. Bukankah seharusnya sejak awal mereka sadar betul atau minimal memprediksikan bahwa nama universitas tidak bisa dijadikan sebagai perwakilan satu gerakan politik tertentu mengingat kampus adalah tempat memproduksi ilmu pengetahuan. Juga, kampus justru menjadi tempat untuk menguji segala bentuk ideologi hingga aktivitas politik tertentu menggunakan perangkat ilmiah, bukan malah menjadi wadah dan alat untuk propaganda politik.

Alhasil, salah satu diantara mereka ditegur oleh pihak kampus dan akhirnya memberikan surat pernyataan maaf atas segala kekeliruan yang dilakukan. Mau bagaimana lagi? Barangkali dirinya hanya khilaf. Bukankah kita (dalam perspektif yang mereka percayai) harus ber-khusnudzon, harus berprasangka baik? Paling-paling mereka sedang tidak sadar saja, kok.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Jujur saja, ketika saya menonton beragam video yang dibuat dalam satu channel Youtube itu, entah mengapa hormon testoteron saya tidak naik, tidak membuat saya birahi, bergairah, saya bahkan hanya menonton dengan datar. Padahal, backsound yang digunakan itu menggelegar gitu lho, yah, ciri khasnya video-video sejenisnya lah. Biasanya suka menggunakan instrumen Kitaro gitu lah supaya bisa ada efek sedih atau semangatnya, tergantung tema. Gaya dan ekspresinya yang terlihat gagah menggunakan almamater kebanggaan mereka dan sangat all out sekali, lebih-lebih ketika mengatakan, “Tolak Ahok, karena Ahok adalah kaaaaafiir!” dengan tangan mengepal ke atas, sesekali dengan berpose menunjuk. Hmm... Kenapa ya? Oh, mungkin saya saja yang agak kurang paham. Tidak boleh suudzon lah yaa..

Oh iya, kalau diperhatikan lebih seksama, entah benar atau salah, mohon dikoreksi saja, rasa-rasanya mereka tidak menghafal teks. Mata mereka tidak sepenuhnya melihat ke kamera, mereka membaca teks. Agak terlihat terbata-bata. Khususnya ketika menjelaskan “kekurangan” dari Ahok menyoal reklamasi, kasus RS Sumber Waras, tingkat pengangguran tinggi, dsb. Bukankah orasi itu harusnya sangat memperhatikan intonasi dan artikulasi suara dalam penyampaiannya khususnya pada inti pembicaraan yang ingin diutarakan supaya benar-benar bisa menggetarkan hati penontonnya?

Tentu selain hal-hal teknis yang awalnya saja sudah mengundang kebingungan-kebingungan dan sesekali gelak tawa ketika kita menontonnya, ada hal lain yang kali ini malah membuat kita merasa sangat bosan dan terkesan menjengkelkan. Apa lagi kalau bukan sistem khilafah sebagai solusi? Khilafah lagi... Khilafah lagi...

Bosan sekali mendengar dan melihat tingkah para mahasiswa yang selalu menyerukan kalimat-kalimat bernada kebencian yang mengkambinghitamkan unsur-unsur lain entah itu keyakinan atau perspektif di luar dari nilai-nilai yang mereka anut hanya untuk sekedar menunjukkan bahwa mereka memiliki solusi atas tipe ideal sistem pemerintahan yang lebih baik dan mutlak. Analoginya mudah sekali: menjelekkan karya orang lain hanya untuk menunjukkan karyanya lebih baik. Bukankah itu sikap antara pengecut dan juga tidak percaya diri?

Dalam kasus orasi ini, mereka mengkambinghitamkan Ahok yang kafir sebagai pemimpin yang dzalim dan karenanya bila kita memilihnya maka kita tinggal menunggu adzab saja. Lagi-lagi, karena mereka adalah seorang mahasiswa, kita ajukan saja pertanyaan-pertanyaan lainnya: Mereka menghubungkan nalar berpikir, bila satu pemerintahan dipimpin oleh orang kafir, maka estimasinya ia akan dzalim baik dalam perumusan hingga pelaksanaan kebijakannya. Dan, oleh karenanya, rakyat akan sengsara. Entah kesengsaraan itu sudah termasuk simbol adzab dari Tuhan yang mereka maksud atau justru akan terjadi sesuatu yang lebih dari itu.

Bila memang benar satu sistem pemerintahan ideal yang mereka maksud adalah tokoh yang minimal seagama/seiman dengan dirinya, katakanlah juga terlihat sangat berkompeten dan berakhlak mulia ditambah menerapkan sistem khilafah dalam menjalankan pemerintahannya, maka pertanyaannya adalah:

Bagaimana memprediksi risiko bila ternyata terjadi satu kejadian yang sama (baik itu masalah kebanjiran di Jakarta, kemiskinan dan tingkat kriminalitas yang tetap tidak turun, kasus reklamasi yang sudah kadung berjalan dan kerusakan lingkungan yang memang sudah banyak terjadi di jakarta) terulang kembali padahal hal tersebut telah berulang kali terjadi di era para pemimpin gubernur-gubernur sebelumnya? Kedua, bagaimana memberikan penjelasan atas klaim bila kita dipimpin oleh pemimpin kafir maka Tuhan setidaknya akan berkecenderungan memberikan adzab kepada kita, sedangkan, detik ini juga kita sedang dipimpin oleh pemimpin kafir? Apakah tidak akan ada kemungkinan tokoh ideal dalam sistem khilafah melakukan kesalahan-kesalahan yang secara teknis dapat merugikan rakyat baik secara langsung maupun tak langsung?

Untuk pertanyaan pertama, bila mereka yang percaya buta pada sistem khilafah dan selalu menyalahkan kata-kata “Liberal”, “Neoliberal”, “Komunis”, “Demokrasi”, artinya, mereka harus membuktikan kepada publik dalam level nasional tanpa harus mengambil contoh dari luar negeri, bahwa khilafah akan jauh lebih menyelesaikan persoalan-persoalan yang tidak bisa diselesaikan oleh ideologi politik lain. Sebagai catatan, untuk membuktikan bahwa sistem pemerintahan mereka terbaik, harusnya mereka tidak terburu-buru untuk mengambil alih Negara hanya sekedar untuk membuktikan bahwa sistem khilafah akan bekerja dengan baik. Negara bukan mainan. Iya kalau Indonesia akan akan jadi lebih baik, kalau tidak?

Saya sangat, sangat penasaran bagaimana para mahasiswa fanatik ini memandang kritis menyoal sistem khilafah itu sendiri. Para ahli teori ilmu politik dengan segala perangkat ilmiahnya tidak akan teledor dengan membuat paper, jurnal penelitian yang sifatnya hanya memberikan kelebihan juga mengagung-agungkan satu ideologi politik tertentu tanpa memberi pandangan kritis kepada akademikus lain yang berbeda pandangan dengan dirinya tentang kelemahan-kelemahan ideologi politik yang dipercayainya. Mereka yang percaya pada sistem liberal, neoliberal hingga komunis percaya bahwa selalu ada kekurangan-kekurangan dan oleh karena itu justru terus dipelajari secara ilmiah.

Sedangkan sistem khilafah? Hanya tumbuh subur dikenang lewat ingatan-ingatan kejayaan masa lalu (bahkan menggunakan negara yang bukan Indonesia) dan sekedar menjadi wacana sembari terus mengolok-olok yang lain dan merengek agar diberikan mandat sekaligus diakui menjadi sistem pemerintahan yang terbaik.

Saya jujur saja menunggu, seandainya sistem khilafah dengan segala kepercayaan dirinya yang sangat narsistik itu diterapkan di Indonesia, benarkah akan sesuai dengan janji-janji manisnya?

Karena kalau ternyata hasilnya sama saja atau bahkan lebih buruk lagi di Indonesia, saya agak khawatir bahwa mahasiswa-mahasiswa ini tidak hanya surplus iman tetapi juga menjadi surplus ilusi.

Kalau sudah begitu, saya takut, mereka akan lebih semakin sibuk memproduksi teks untuk membuat video orasi amatir lebih banyak dan lupa hingga telat mengerjakan Skripsi atau Tesisnya. Dan bila hal itu terjadi, barangkali kita bisa tafsir bahwa itu adalah adzab dari Tuhan (untuk mereka).

Dan bila hal itu benar-benar terjadi, maka saya hanya bisa berkata hal yang sama dengan yang sering mereka katakan, “Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongannya”. Amin

Ikuti tulisan menarik Luthfi Ersa Fadillah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler