Belajar Jantung Sehat dari Orang-orang Hunza

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Orang-orang Hunza jarang sakit dan rata-rata usianya mencapai 120 – 140 tahun. Mereka jarang terkena penyakit degeneratif seperti jantung.

Saat ini, penyakit jantung semakin banyak diderita orang usia muda. Tak heran, jika belakangan, penyakit ini menjadi sangat ditakuti. Serangannya yang tiba-tiba, bisa menyebabkan penderitanya meninggal secara mendadak, terutama untuk mereka yang tidak paham bagaimana pertolongan pertama untuk penderita serangan jantung. Ini tentu menjadi ancaman kesehatan serius karena merupakan penyakit yang paling mematikan di dunia. Bahkan kini angka kematian dini akibat jantung terus meningkat setiap tahun. (viva.co.id, 15 September 2016).

Gaya hidup sehat adalah salah satu paradoks  dalam  kehidupan dunia yang serba modern. Teknologi informasi yang melaju dengan kencang tak serta merta diikuti dengan kemajuan di dunia kesehatan. Teknologi kesehatan berkembang pesat baik yang modern maupun tradisional. Namun gaya hidup sehat belum menjadi budaya masyarakat termasuk di kalangan generasi muda.

Husen Al Bajri  (2008) dalam buku yang berjudul “Tubuh Anda Adalah Dokter yang Terbaik”  mengungkapkan bahwa satu hal yang harus disadari bahwa sehat tidak akan pernah bisa dicapai dengan hanya bergantung pada dokter dan obat. Sehat hanya bisa dicapai dengan memperlakukan tubuh lebih bijaksana, dengan mempertimbangkan keseimbangan norma-norma tubuh secara menyeluruh baik keseimbangan fisik, mental, emosional maupun spiritual. Selain itu, perlu disadari bahwa setiap makanan dan minuman yang masuk ke tubuh kita akan menentukan masa depan tubuh kita. Karena itu, berhati-hatilah dalam memilihnya.

Orang-orang Hunza yang tinggal di lereng pegunungan Himalaya dikenal jarang sakit dan berumur panjang. Rata-rata usianya mencapai 120 – 140 tahun. Penelitian para ahli menemukan bahwa rahasia panjang umur dan tetap sehat mereka ada pada pola hidup dan pola makan. Mereka terbiasa menjadikan buah-buahan segar, buah-buahan kering dan sayuran sebagai bagian dari menu makan utamanya. Mereka jarang makan makanan yang diolah atau dimasak, mereka hanya sedikit sekali makan daging dan makan makanan berlemak.

Tempat tinggal mereka dipenuhi dengan udara segar pegunungan yang bebas polusi dengan sumber mata air yang jernih keluar dari bebatuan yang dapat langsung diminum tanpa dimasak. Mereka jarang terkena penyakit degeneratif dan penyakit berbahaya. Mereka hampir tidak ada yang terkena penyakit pola hidup modern yang melanda dunia saat ini. Seperti penyakit jantung, stroke, hipertensi, diabetes, gagal ginjal, liver, paru-paru, dan  kanker.

Pada usia 85 – 100 tahun mereka masih biasa bekerja di lading dan masih memiliki gigi yang lengkap, tulang yang kokoh dan kulit yang sehat. Bahkan pada usia tersebut mereka masih aktif berolah raga. Dari mana mereka memperoleh kalsium ? Rahasianya, sebagaian besar kalsium diperoleh dari sayuran hijau segar yang menjadi makanan rutinnya, bukan dari tambahan  yang sulit diperoleh tubuh, seperti yang banyak dijual di pasaran. Sayuran yang mereka konsumsi banyak mengandung precursor vitamin A tinggi dan karoten, yang membantu mengontrol kalsium dalam tubuh dan mengandung jumlah kalsium yang cukup banyak.

Hari ini manusia modern banyak bergantung pada pola makan supermarket yang serba instan dengan berbagai toksin pengawet, pewarna dan perasa makanan di dalamnya yang enak di lidah”tetapi tidak enak di perut karena rendah gizi atau sering disebut dengan “foodless food”. Pada umumnya orang Hunza meninggal bukan karena sakit melainkan karena penyakit tua alami.

Belajar dari pola hidup orang Hunza ini kita bisa melakukan langkah agar jantung tetap sehat. Pertama, melakukan aktivitas lebih banyak. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa mereka yang menghabiskan lebih dari 2.000 kalori untuk seluruh aktivitasnya dalam satu minggu, setara dengan lari sejauh kurang lebih 32 km, ini dapat meningkatkan angka harapan hidup menjadi dua tahun lebih panjang dan mengurangi resiko serangan jantung.

Kedua, lebih sering berolah raga. Michael Kidd dan Leanne Rowe (2007) dalam buku yang berjudul Save Your Live  membagi olah raga menjadi dua klasifikasi yaitu olah raga intensitas sedang dan tinggi.Olah raga intensitas sedang akan membuat Anda sedikit berkeringat dan mengalami peningkatan laju pernapasan dan denyut jantung walaupun sedikit, efeknya cukup nyata.

 Olahraga dengan intensitas tinggi memberikan tambahan manfaat bagi kesehatan jantung jika dilakukan selama minimal 30 menit sehari, tiga hingga empat kali seminggu. Durasi olah raga lebih penting daripada intensitas. Hati-hati dalam olah-raga permainan.  Jangan memforsir diri karena bisa memicu serangan jantung

Ketiga, mengurangi perilaku beresiko. Kebiasaan buruk seperti merokok dapat meningkatkan resiko serangan jantung. Kandungan nikotin pada rokok dapat memicu penyakit kardiovaskuler. Nikotin dapat merangsang produksi adrenalin dalam tubuh yang menyebabkan jantung berdetak lebih cepat dan tekanan darah meningkat. Di Asia Tenggara, Indonesia menjadi negara dengan jumlah perokok terbanyak dan angka kematian penyakit kardiovaskular tertinggi.

Keempat, menjaga pola makan seperti yang dilakukan orang-orang Hunza tadi.

Kelima, menghindari stress. Henry Link, seorang psikolog AS dalam sebuah bukunya yang berjudul "Kembali kepada Iman" menulis, "Setelah melakukan penelitian panjang terhadap kondisi psikologis para buruh, saya menyimpulkan bahwa orang-orang yang beragama dan orang-orang yang rajin mendatangi rumah-rumah ibadah, memiliki kepribadian yang lebih kuat. Mereka lebih baik daripada orang-orang yang tidak beragama atau orang-orang yang tidak rajin mendatangi rumah peribadatan."

Keenam, istirahat yang cukup. Tubuh sebaiknya memang tidak terlalu diforsir untuk bekerja terus menerus, karena tubuh pun perlu beristirahat. Kondisi tubuh yang terlalu lelah atau kecapekan bisa memicu terjadinya serangan jantung.

Peserta Lomba Blog Gaya Hidup Sehat untuk Jantung Sehat.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Romi Febriyanto Saputro

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Annual Meetings dan Kedaulatan Rupiah

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua