#SeninCoaching: Gunung Memerlukan Lembah, Pemimpin Membutuhkan Rakyat - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 9 Juli 2019 10:03 WIB

#SeninCoaching: Gunung Memerlukan Lembah, Pemimpin Membutuhkan Rakyat

Dibaca : 401 kali

#Leadership Growth: Your Stakeholder Matters

Mohamad Cholid

Practicing Certified Executive and Leadership Coach

“Organizations with high levels of employee engagement, enablement, and energy report 3 X higher financial results. – Willis Towers Watson.

Cahaya memerlukan gelap untuk memperlihatkan daya pukaunya. Gunung-gunung berteman dengan lembah dan dataran di bawahnya sebagai penopang. Sungai-sungai selalu menjemput muara, untuk menyatu dengan keluasan laut.

Sekian tahun silam saya ke Yogyakarta mendampingi seorang wartawan senior dari RRT untuk wawancara khusus dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Ketika ditanya tentang kepemimpinan dalam suatu negara, Sri Sultan dengan lugas antara lain mengatakan, “pemimpin eksis karena rakyat. Tanpa ada rakyatnya, pemimpin tidak berfungsi.”

Hukum alam mengatakan, kita selalu memerlukan pihak lain untuk memastikan keberadaan dan fungsi kita. Dalam tradisi pemikiran China kita mengenal Yin dan Yang, dua unsur berbeda (feminin dan maskulin) yang saling mengisi, melengkapi, menegaskan perlunya harmoni dan keseimbangan dalam dinamika kita merespon pergerakan alam semesta.

Dalam konteks pengembangan kepemimpinan organisasi bisnis dan nonprofit, keseimbangan tersebut seperti ini: Para eksekutif dan leader seperti Anda memerlukan stakeholders (kolega, atasan, dan direct reports), pihak-pihak yang menjadi mitra akuntabilitas Anda dalam upaya meningkatkan efektivitas kepemimpinan – sebagaimana kami kerjakan di Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching (MGSCC). Para stakeholders itu pula yang akan memberikan penilaian, apakah Anda benar-benar berhasil menjadi pemimpin efektif. 

Para stakeholders, pihak-pihak yang terkena impact langsung dari perilaku kepemimpinan Anda, terutama tim Anda, dengan demikian akan merasa “diuwongke” (dihargai sebagai mitra, diangkat harkatnya) karena diajak bertindak proaktif, engaged, ikut memberikan saran dan masukan dalam proses peningkatan efektivitas Anda.

Di sini sikap legowo (humility) Anda sangat diperlukan. Ini perlu diingatkan, karena sering kita temui para eksekutif yang lebih senang dipuji saja atau hanya mau mendengarkan hal-hal yang sesuai dengan pikirannya. Kalau ada saran, bahkan yang baik sekalipun, mereka anggap sebagai gangguan. Mereka defensif. Atau menyalahkan pihak lain sebagai penyebab dirinya tidak efektif bekerja.

Realitas seperti itu tentunya mencemaskan, utamanya ketika organisasi harus melakukan akselerasi mengejar target revenue dan profit yang lebih signifikan. Bukankah Ken Blanchard Ph. D, pakar manajemen dan kepemimpinan, sudah mengingatkan, “feedback is the breakfast of champions.

Selain mengajak anggota tim (direct reports) untuk lebih engaged -- yang berarti juga menyadarkan mereka tentang pentingnya kontribusi setiap anggota tim untuk tujuan-tujuan besar organisasi -- para eksekutif atau yang mengaku sudah memenuhi syarat sebagai leader juga selayaknya memberikan dukungan (skills, psikologis dan perangkat) agar timnya berkembang. Mampu bekerja lebih efektif, memenuhi standar lebih tinggi. Ini yang disebut enabling the team – mereka, tim, sebaliknya perlu diyakinkan being enabled.

Satu lagi yang juga wajib dikerjakan para leader, yaitu membangun kondisi kerja sehari-hari yang high level of energy, lingkungan kerja jadi ajang kontes produktivitas dan efektivitas, sekaligus melatih mereka menjaga keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi, agar tim juga benar-benar being energized.

Menurut Adrian Gostick dan Chester Elton, para pendiri lembaga konsultan dan pelatihan The Culture Works, tim yang engaged, enabled, dan energized terbukti menghasilkan kinerja unggul. Berdasarkan praktik mereka di lingkungan organisasi multinasional, yang sebagiannya masuk Fortune 500, ketiga unsur tersebut (engaged, enabled, dan energized) mesti komplit, karena saling melengkapi. “They combine as in a chemical reaction, becoming combustible,” kata Chester Elton.  

Sebagaimana hasil survei Towers Watson terhadap 700 organisasi, berdasarkan data yang dikumpulkan 2009 dan 2010 saja, jika ketiga faktor tersebut lengkap saling mendukung di perusahaan, operating margin bisa dua sampai tiga kali lebih tinggi ketimbang perusahaan yang memiliki tingkat engagement rendah. Itu dapat tercapai bahkan ketika kondisi ekonomi makro sedang tidak bergairah sekalipun (All In, 2012).Towers Watson adalah salah satu lembaga yang termasuk paling dihormati di bidang global research dan professional services.

Sekarang tugas Anda, para leader, adalah bagaimana mewujudkan ketiga faktor tersebut – engaged, enabled, dan energized – tumbuh dan terkelola dengan baik di dalam tim.

Di antara Anda mungkin ada yang sudah belajar tentang leadership, plus sejumlah pelatihan lain. Kini tinggal mewujudkannya dalam tindakan nyata, action, show how – dan melakukan perubahan berkelanjutan, continuous improvement, bersama tim, melibatkan para stakeholders. Anda membutuhkan mereka, para stakeholders, seperti gunung memerlukan dataran dan lembah, sebagai penopang.

 

Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

  • Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching
  • Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

(http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

(https://sccoaching.com/coach/mcholid1)

  • Kepemimpinan

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.