Dukun dan Gerakan Sosial - Analisis - www.indonesiana.id
x

prima dwianto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Dukun dan Gerakan Sosial

    Dukun memegang peran sentral dalam menumbuhkan agitasi terhadap pihak kolonial

    Dibaca : 3.055 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Penetrasi kolonial, akhir abad 19 dan awal abad 20, memberikan dampak mendalam bagi nusantara, baik secara sosial, politik, maupun ekonomi. Sistem uang menjadikan subordinasi penguasa kolonial terhadap pribumi semakin kentara. Tertekannya budaya tradisional oleh Barat memunculkan keinginan masyarakat, terutama mereka yang berada di pedesaan, untuk mengcounter apa yang telah dilakukan pemerintah kolonial melalui sebuah gerakan sosial. Dukun merupakan aktor penting dalam membangkitkan agitasi masyarakat pedesaan, mengingat posisi sentralnya dalam kebudayaan tradisional.

    Dominasi ekonomi kolonial mewujud dengan diperkenalkannya sistem pajak, peningkatan hasil bumi, buruh upahan, serta permasalahan pemilikan tanah. Pribumi diwajibkan untuk melaksanakan kerja kompenian (kerja paksa), membayar pajak cuke, serta menuruti kehendak tuan tanah yang semena-mena. Gerakan sosial dimaksudkan untuk membalas dendam terhadap pejabat kolonial maupun golongan priyayi yang beraliansi dengannya. Meskipun secara fundamental permasalahan ekonomi yang melatarbelakangi gerakan tersebut, sentimen keagamaan menentang pemerintah kafir, munculnya Ratu Adil (mesianistis), serta sekulerisme yang telah mengakar dalam kebudayaan masyarakat, mengemuka dalam membangkitkan kebencian terhadap pemerintah kolonial. Secara radikal-revolusioner masyarakat melakukan perlawanannya.

    Melalui praktik magico-religiusnya, posisi sentral dukun tak bisa dilepaskan dari budaya tradisional. Dukun dipercaya mampu menyembuhkan orang sakit dengan kekuatan gaibnya. Selain itu, ia juga menjadi tempat pelarian bagi mereka yang mencari keselamatan dan ketenteraman. Dengan memberikan jimat-jimat, mantra, serta menghidupkan kembali legenda-legenda kuno, dukun mampu memainkan peran dalam menumbuhkembangkan agitasi terhadap pihak kolonial.

    Kerusuhan di Tanjung Oost di bawah pimpinan Entong Gendut, 1916, serta kerusuhan Tangerang, 1924, di bawah komando Kaiin didalangi oleh seorang dukun bernama Sairin alias Bapa Cungok dari Cawang. Keresahan Tanjung Oost timbul akibat perubahan peraturan di tanah partikelir yang mengadili petani karena kegagalannya dalam membayar uang sewa, pajak, serta penebusan kerja kompenian. Sementara di Tangerang, gerakan sosial timbul karena keterpurukan ekonomi akibat sulitnya mencari uang. Peran yang dimainkan oleh Sairin, sebagai dukun, ialah memberikan jimat  kepada para pengikut Entong Gendut. Sairin juga bertindak sebagai guru bagi Kaiin yang mengajarkan ilmu kawedukan dan ilmu keslametan. Selain mewarisi sifat abang Betawi, Sairin juga masyhur dengan kemampuannya memanggil mendung dan banjir, serta menghilang dan berganti rupa.

    Serupa dengan Sairin, Ibu Melati merupakan dukun terkenal yang menjual jimat dalam bentuk kitab suci berisi sejarah keramat Banten. Menurutnya, salah seorang keturunan Maulana Hasanudin suatu saat akan menjadi raja Banten. Bagi mereka yang memiliki kartu silsilah dan cap Haji Kamul akan terbebas dari kerja paksa. Propaganda yang dimainkan Ibu Melati adalah kembalinya tatanan masyarakat lama di bawah Kesultanan Banten dan terlepas dari penetrasi budaya Barat.

    Di wilayah lain, tepatnya Karesidenan Kediri, beberapa dekade sebelumnya (1907), muncul gerakan mesianistis di bawah pimpinan Dermodjojo. Ia dikenal sebagai seorang dukun yang tak hanya mengajarkan ilmu mistik, tetapi juga sebagai penasihat dalam bidang pertanian. Indoktrinasi Dermodjojo kepada pengikutnya dilakukan dengan memberikan pemahaman tentang datangnya Togog dan Semar yang akan memberikan kebebasan bagi rakyat. Meskipun tak secara murni gerakan ini diilhami oleh perasaan tidak puas di kalangan masyarakat, melainkan ketaatan yang membabi buta terhadap Dermodjojo, tetapi gerakan ini ditujukan kepada para priyayi yang menikmati posisinya dalam sistem kolonial.  

    Gerakan sosial yang muncul dengan mudah dapat dipatahkan pihak kolonial karena sifatnya arkais (taktik dan strategi yang masih sederhana) serta tujuan yang masih agak kabur. Meskipun berumur pendek (abortif), nyatanya, peran yang dimainkan oleh para dukun mampu memberikan kepercayaan pada masyarakat pedesaan untuk melepaskan diri dari cengkeraman dan belenggu pihak kolonial. Dukun hadir sebagai agitator yang mampu menjawab keresahan masyarakat akibat tekanan mendalam kolonialisme.

     

    PRIMA DWIANTO

    Alumni Jurusan Ilmu Sejarah, FIB, UGM

    Ikuti tulisan menarik prima dwianto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.