Politik Simbol: Antara PB X dengan Jokowi - Analisis - www.indonesiana.id
x

prima dwianto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Politik Simbol: Antara PB X dengan Jokowi

    Politik simbolis yang diterapkan oleh seorang pemimpin

    Dibaca : 4.174 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Eksistensi kaum elit kerajaan Jawa pasca sepertiga awal abad XIX semakin mengalami penurunan. Kolonialisme yang menampakkan wajah penjajahan yang sesungguhnya, lewat cultuurstelsel, menggerus peran politik para elit. Penetrasi kolonial memaksa mereka mengalihkan perhatian dalam bidang kebudayaan laiknya sastra ataupun seni rupa, sekadar untuk menjaga eksistensi di mata rakyat. Guru maupun dokter  yang muncul sebagai elit-elit baru, yang memperoleh status sosial mereka lewat pendidikan, semakin menggerus keberadaan elit-elit lawas.

    Keadaan ini menjadikan Paku Buwana (PB X) memainkan politik simbolis meski tak didukung sepenuhnya oleh pemerintah kolonial. Langkah ini cukup ampuh mengingat jika PB X menjalankan politik yang sesungguhnya, ia akan dicap ingin menjadi “Kaisar Jawa” atau pro dengan cita-cita pan-Islamisme yang anti-kolonial. Politik simbol yang dimainkan PB X teraktualisasi dalam gelar, pakaian, penghormatan, penganugerahan, gaya hidup hedonis, serta menyerap kebudayaan Eropa.

    Raja Surakarta yang memerintah sejak 30 Maret 1893 ini bergelar Susuhoenan Pakubuwono Senopati ing Ngalogo Ngabdurachman Sajidin Panotogomo X. Sebagai panotogomo beliau mendirikan sekolah Islam, Mambaul Ulum, 1905, yang dimaksudkan untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak, baik pejabat keraton maupun yang bukan, meski raja dianggap oleh Belanda tak lagi netral dalam urusan agama dan cenderung berpihak kepada Pan-Islamisme.

    Guna membedakan diri dengan rakyat biasa, raja mengenakan mahkota kanigara intan, serta sepatu beledu hitam dengan kaos kaki biru tua. Sementara para abdi dalem mengenakan topi pacul gowang serta pakaian priyatun. Rakyat biasa diharuskan membuka baju dan tak diperbolehkan menggunakan payung. Larangan tersebut berlaku pula bagi orang asing, kecuali Eropa.

    Sebagai bentuk penghormatan dipergunakan bahasa yang terbagi secara hierarkis, mulai dari bahasa keraton, kromo tinggi, kromo madya (tengah), kromo desa, kromo gunung,dan ngoko. Di lingkungan keraton sendiri basa kedhaton dibagi menjadi manungkara, mangungkak basa, serta mangagok wicara. Raja harus disembah kapan dan dimanapun, sementara para pangeran yang berpayung gilap (mengkilap) harus disembah lima kali dan yang belum berpayung gilap hanya sekali.

    Raja seringkali menganugerahkan hadiah kepada para patih dan bupati berupa payung dan bintang bernama Srinugroho dalam sebuah upacara dengan hiburan gamelan serta suguhan berupa ses cerutu, konyak cap tong, jenewer, dan anggur prot.

    Hal menarik dari PB X adalah gaya hidupnya yang terkesan hedonis. Raja seringkali bepergian ke luar kota. Beliau juga memiliki klangenan (kesenangan) berupa kuda, mobil, serta kebun Sriwedari. Kebudayaan keraton berupa gending (lagu), gamelan, arsitektur, dan tari tak luput dari perhatiannya. Dan hal terpenting, PB X memiliki banyak selir untuk menunjukkan kebesarannya. Terhitung, pada 1914, raja memiliki 20 selir, disamping empat isteri resminya. Beliau mampu pula menyerap kebudayaan Eropa. Pada upacara peringatan ulang tahunnya, 1898, digelar sebuah pesta dansa yang penuh dengan minuman. Raja berpasangan dengan isteri Residen, sementara Residen berpasangan dengan ratu. Raja juga seringkali berpesta dansa yang diadakan di Schouburg dan Societiet Harmonie.

    Apa yang dilakukan oleh PB X sebenarnya tak sepenuhnya didukung oleh pemerintah kolonial.  Lewat penerbitan Hormat Circulaire (surat edaran tentang etiket), 1904, dukungan terhadap kebudayaan usang seperti payung, tanda kebesaran, dan pelayan dalam jumlah banyak diakhiri. Akan tetapi, gaya hidup PB X malah menjadikannya dikenang sebagai raja terbesar Jawa yang penuh dengan kemuliaan, kemuktian, dan kewibawaan.

    Politik simbolis nampaknya diejawantahkan, secara sempurna, pula oleh Presiden Jokowi. Jokowi menjadi representasi pemimpin yang berasal dan menjadi milik wong cilik. Arak-arakan setelah penobatannya sebagai presiden menjadikannya melebur dengan rakyat. Gaya bicaranya yang kalem menandakan kesantunan dan kesabaran. Atribusi yang ia kenakan mulai dari kemeja putih dan payung polos saat aksi damai serta jaket bomber saat jumpa pers di istana, dapat dimaknai sebagai kesederhanaan dan jiwa muda yang ia miliki. Ia seringkali blusukan untuk mengetahui secara langsung permasalahan di lapangan dan tak segan untuk sekadar ber-selfie ria dengan masyarakat dalam kunjungannya. Tentu sah-sah saja politik simbolis yang ia mainkan. Mungkin kelak, ketika sudah tak menjabat sebagai presiden lagi, ia akan dikenang sebagai seorang pemimpin yang paling merakyat.  

     

    PRIMA DWIANTO

    Alumni Jurusan Ilmu Sejarah, FIB, UGM

     

    (Sumber gambar: old-indische.com)

    Ikuti tulisan menarik prima dwianto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.