Sifat Pratala Mangkunegara IV - Analisis - www.indonesiana.id
x

prima dwianto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Sifat Pratala Mangkunegara IV

    Pembangunan dua pabrik gula Mangkunegaran adalah wujud sifat pratala (bumi) Mangkunegara IV

    Dibaca : 5.811 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pabrik iki openono, sanajan ora nyugihi, nanging nguripi, kinaryo papan pangupo jiwone kawulo dasih”.

    (Pabrik ini peliharalah, meski tak membuat kaya, tetapi menghidupi, memberikan perlindungan, menjadi jiwa rakyat kecil)

    (Mangkunegara IV)

     

    Serat Ajipamasa karya R. Ng. Ranggawarsita, yang termasuk dalam Pustakaraja Madya, berisi ajaran tentang Asthabrata, ajaran mengenai tata pemerintahan sebuah negara. Dalam Pupuh XI Ginsa bait 1-15, seorang pemimpin haruslah memiliki delapan anasir sifat alam, salah satunya bumi (pratala). Tansah Adedana Karem Ambebungah Janma, mengikuti sifat bumi, seorang pemimpin harus mendermakan harta kekayaan demi kebahagiaan rakyatnya. Sifat inilah yang teraktualisasi dari kepemimpinan Mangkunegara IV dengan mendirikan Pabrik Gula Colo Madu, 1861, serta Pabrik Gula Tasik Madu, satu dasawarsa berikutnya, di wilayah Karesidenan Surakarta.

    Gula memang menjadi komoditi ekspor utama Jawa kala itu. Di bawah sistem kolonial, Jawa mampu menempati posisi kedua setelah Kuba sebagai produsen sekaligus eksportir gula dengan sistem dan manajemen yang baik, meski menyisakan kepedihan bagi rakyat. Keuntungan yang berlipat menjadikan Jawa tak ubahnya gabus pengapung bagi Belanda.

    Apa yang dilakukan Mangkunegara IV sebenarnya ialah menumbuhkan kembali jiwa wirausahawan di kalangan elit Jawa yang meluntur akibat penetrasi politik-ekonomi kolonial yang mampu menggerus kekuasaan Mataram, pertengahan abad XVII. Monopoli kongsi dagang VOC, sedikit-banyak mengurangi peran elit Jawa di bidang ekonomi. Bangsawan Jawa hanya dipandang sebagai kelas penguasa yang beridentitas berbeda dengan rakyat kebanyakan, pedagang dan petani. Mangkunegara IV mampu mengikis paradigma tersebut dengan apa yang diwariskannya kepada masyarakat.

    Sebagai langkah awal, Mangkunegara IV menarik dan tak memperpanjang kontrak lagi tanah apanage yang semula disewakan kepada pengusaha asing. Meski sempat mendapat tentangan dari para pengusaha, raja tetap bersikukuh meneruskan langkahnya. Bukti nyata, tanah seluas 485 bau mampu ditarik kembali bagi kepentingan perkebunan Mangkunegaran.

    Mangkunegara IV terinspirasi dari kunjungan ke wilayah menantunya, Demak, dimana lokasi tersebut memiliki kontur tanah mirip dengan wilayah kekuasaannya. Raja mengangkat Raden Ranaastra, priyayi Demak, sebagai pejabat di Mangkunegaran karena pengalamannya dalam penanaman tebu. Langkah tersebut juga diiyakan oleh Manuel, sahabat sekaligus pemilik perkebunan indigo di wilayah Mangkunegaran. Produksi gula jawa tradisional, dari kelapa, akan dialihkan ke produksi gula pasir (tebu) secara masal yang akan memberikan keuntungan lebih bagi rakyat. Selaras dengan nasihat bagi rakyatnya yang tertera dalam Serat Wedatama, bahwa hidup seseorang akan berarti jika telah memiliki wirya, arta, serta winasis (jabatan, kekayaan, dan kepandaian).

    Penelitian dilakukan di wilayah desa Krambilan, sebelah utara Kartasura, oleh seorang ahli tebu, R. Kamp, guna mengetahui tingkat kesuburan tanah dan kadar air. Setelah dinilai cocok dan memperoleh izin dari Residen Surakarta, Nieuwenhuiz, pembangunan pabrik gula pun dimulai dengan peletakan batu pertama, 8 Desember 1861. Menghabiskan dana sebesar f 400.000 yang diperoleh dari pinjaman Mayor Cina, Be BiauwTjwan, ditambah pendapatan perkebunan kopi Mangkunegaran. Pabrik tersebut diberi nama Colo Madu. Kepengurusannya dipasrahkan kepada R. Kamp pasca mulai beroperasi setahun kemudian.

    Pembangunan pabrik gula Colo Madu menuai keberhasilan. Guna mengembangkan iklim industri gula di wilayah Mangkunegaran, raja kemudian membangun pabrik gula di Karang Anyar, 11 Juni 1871. Pabrik yang kelak diberi nama Tasik Madu ini, kepengurusannya lagi-lagi dipasrahkan kepada R. Kamp, sebagai administratur, karena sejak 1870 kepengurusan pabrik gula Colo Madu telah beralih kepada putranya, G. Smith. Produksinya semakin membaik pasca ditandatanganinya kontrak kerja sama dengan Nederland Handels Matschappij (NHM).    

    Warisan Mangkunegara IV di bidang perekonomian masih bisa dinikmati hingga kini, bukan hanya bagi Mangkunegaran semata, tetapi bagi penduduk secara luas. Meski terkesan kapital-feodalistik, pembangunan dua pabrik gula Mangkunegaran, setidaknya, membuktikan bahwa raja memiliki sifat pratala yang mendarmakan kekayaannya bagi penduduk. Memang ora nyugihi, tetapi nguripi.

     

    PRIMA DWIANTO

    Alumni Jurusan Ilmu Sejarah, FIB, UGM

     

    (Sumber gambar: gimonca.com)

    Ikuti tulisan menarik prima dwianto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.