Mafia, Politik dan Kasus Hukum - Analisa - www.indonesiana.id
x

Anggraini

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Mafia, Politik dan Kasus Hukum

    Kemorosotan moral dan mental yang kita lihat dan kita dengar akhir-akhir ini sangat menyedihkan dan yang jelas tidak semua orang, tetapi lebih banyak.

    Dibaca : 1.425 kali

    Kemorosotan moral dan mental yang kita lihat dan kita dengar akhir-akhir ini sangat menyedihkan dan yang jelas tidak semua orang, tetapi lebih banyak. Saat ini orang-orang selalu mengejar kehidupan materi atau kekayaan dengan melakukan segala cara yang mungkin bisa dilakukan, entah itu mencuri, menipu, korupsi, entah apa lagi namanya yang penting bisa membuat segala keinginan dan kebutuhan dapat semua terpenuhi.

    Namun kita juga pernah melihat dan mendengar, beberapa media televisi berhasil menampilkan beberapa sosok manusia atau bisa kita sebut aja sebagai sosok manusia yang kurang beruntung, seperti pemulung, kuli bangunan, yang setiap hari berjuang, berjihad dengan tidak kenal lelah semata-mata untuk mengisi kebutuhan perut dan keluarga mereka untuk hari itu juga. Mereka tentunya sangat tidak mungkin mereka untuk mencuri apalagi untuk korupsi untuk tujuh keturunan. Lantas dalam hati saya bertanya-tanya, apakah perlu semua orang-orang Indonesia menjadi pengemis dan kuli bangunan, agar perilaku korupsi itu tidak ada? Atau apakah mungkin semua orang-orang Indonesia menjadi pejabat semua, agar bisa bersama-sama melakukan korupsi, sehingga semua sama-sama untung? Pikiran itulah yang menghiasi otak saya, tatkala di beberapa media memberitakan tentang kasus korupsi.

    Akhir-akhir ini kasus korupsi E-KTP yang telah menyeret sejumlah petinggi negara dan juga beberapa politisi yang diduga ikut bersama-sama telah menikmati aliran dana dari mega proyek E-KTP tersebut, membuat mereka manjadi gerah atas pemberitaan dari beberapa media. Mereka yang diduga bersama-sama telah menikmati uang hasil korupsi proyek E-KTP tersebut, namun mereka juga secara bersama-sama sepakat bahwa mereka tidak pernah menerima uang dari proyek E-KTP tersebut. Lantas siapa yang telah melakukan korupsi dari proyek E-KTP tersebut?

    Kalo bisa saya simpulkan untuk sementara, bahwa mereka yang telah melakukan korupsi tersebut adalah orang yang tidak sanggup untuk berjuang dan berjihad untuk diri mereka sendiri dan juga keluarga mereka. Mereka adalah orang-orang pengecut dan penakut. Jika saya sandingkan dengan bangunan gedung pencakar langit, maka gedung pencakar langit tersebut adalah gedung yang keropos dan tidak tahan untuk menahan guncangan. Jika para petinggi negara dan sejumlah politisi yang ada di negara kita seperti itu, maka tidak heran negara kita ini akan segera hancur dan kita juga tidak bisa sepenuhnya menuduh bahwa kekuatan asinglah yang meruntuhkan negara kita.

    Penanganan kasus E-KTP oleh KPK yang sudah berjalan, ternyata di tengah jalan tergelincir oleh oknum-oknum bayaran yang dipekerjakan oleh orang-orang tertentu, untuk melakukan intimidasi dan teror terhadap penyidik. Sebut saja, Novel Bawesdan, salah satu penyidik dari KPK yang memang sangat serius untuk mengungkap secara jelas atas kasus E-KTP tersebut, telah mendapatkan perlakukan yang brutal oleh beberapa oknum. Yang bersangkutan, secara tiba-tiba disiram dengan air keras oleh beberapa oknum, sehingga ia harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

    Penggunaan air keras untuk menyerang seseorang, biasanya dilatarbelakangi oleh perasaan tidak senang, sakit hati dan dendam yang sangat dalam kepada seseorang. Sebelumnya juga, Novel Bawesdan pernah mengalami intimidasi dan teror lainnya dari orang-orang yang bermasalah terhadap kasus korupsi. Intimidasi dan teror biasanya dilakukan oleh orang-orang bayaran atau MAFIA-MAFIA yang diminta oleh seorang tersangka (kebanyakan politikus dan pejabat negara) untuk berbuat sesuai dengan keinginan tersangka.

    Memang kita tidak boleh menuduh siap-siapa, sebelum ada bukti kuat, namun perlu dicatat, bahwasannya kasus-kasus besar yang terjadi di Indonesia sangat identik dengan adanya intimidasi dan teror kepada pihak yang mau mengungkap kasus yang ada secara terang benderang. Saat ini sepertinya banyak mafia-mafia yang sedang menunggu order untuk bermain bisnis kotor, dimana mereka melakukan apa saja demi untuk uang yang cukup fantastis. Jika ternyata para mafia-mafia tersebut adalah bagian dari kelompok akar rumput, mungkin tidak terlalu sulit untuk mengungkap aksi kejahatan yang mereka lakukan, namun bila mafia-mafia tersebut adalah bagian dari kelompok orang yang mempunyai pengaruh dan jabatan dilingkup pemerintahan, maka hal ini akan sulit untuk diungkap kebenarannya secara jelas.

    Mau sampai kapan kita terus-terusan begini? Memang tidak bisa kita pungkiri, bahwa semua manusia semuanya memerlukan uang, tetapi uang tersebut tentunya uang yang memang sudah menjadi bagian untuk kita dan bukan uang dari hasil kejahatan. Dan perlu kita ingat bersama, bahwa akar segala kejahatan ialah cinta uang, karena dengan memburu uang, banyak orang akan mengalami berbagai permasalahan dan sampai kapanpun orang tidak akan pernah puas dengan uang. Cinta akan uang akan membuat orang mengalami pertikaian, perseteruan, memfitnah sampai dengan saling membunuh, artinya cinta terhadap uang membawa orang kepada segala jenis kejahatan.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.