Artesis yang Tak Lagi Menjanjikan Sekaran

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sendang sebagai sumber persediaan air kini mulai tersisih oleh riuh pembangunan. Alternatif yang dipilih masyarakat Sekaran adalah penggalian air artesis.

Pembangunan Pamsimas di SekaranAir merupakan kebutuhan primer manusia yang senantiasa harus dijaga kelimpahannya demi keberlangsungan hidup, baik saat musim kemarau maupun musim hujan. Saat musim hujan tiba, air yang berlebih tetap menjadi persoalan. Meskipun air melimpah, ketersediaan air bersih masih kurang. Pasalnya air hujan yang menggenang bercampur dengan sumber air bersih.

Saat musim kemarau tiba, suplai air bersih untuk kebutuhan sehari-hari turun drastis. Penduduk Sekaran, utamanya para mahasiswa untuk memenuhi kebutuhannya akan air, sampai rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli air isi ulang. Untuk kebutuhan mandi, ada yang merelakan hanya mandi sekali sehari hingga menumpang mandi di masjid atau kampus.

Menjamurnya pembangunan hunian untuk pemenuhan kebutuhan tempat tinggal mengurangi ruang penyerapan air. Pepohonan pun tidak lagi ditanam, sebab tanah sudah digunakan untuk pendirian bangunan. Selain itu, meningkatnya jumlah penduduk per tahun juga disertai meningkatnya kebutuhan akan air bersih.

Sendang (sumber air sejenis sungai) sebagai sumber persediaan air kini mulai tersisih oleh riuh pembangunan. Persediaan air kemudian diganti dengan cara menyedot air tanah. Namun, sumur tanah pun tidak lagi cukup memenuhi kebutuhan. Alternatif yang dipilih masyarakat Sekaran adalah penggalian air artesis (sumur bor).

Awalnya artesis diambil dan dikelola setiap RW (Rukun Warga) satu sumber. Artesis tersebut merupakan program Pengadaan Air Minum dan Sanitasi Masyarakat (Pamsimas) dari pemerintah yang dimulai sekitar tahun 2012. Air artesis tersebut selanjutnya dialirkan melalui pipa ke setiap rumah. Sumur artesis pertama di Sekaran terletak dibelakang Buana Futsal dan masih berfungsi sampai saat ini.

Seiring berjalannya waktu, warga banyak yang tidak puas dengan Pamsimas. Pokok masalahnya ada di pemenuhan air di rumah tangga. Semakin hari, kebutuhan air semakin tinggi. Sedangkan air dari Pamsimas tidak mencukupi. Banyak warga yang tidak lagi mengakses Pamsimas dan memilih untuk menggali air artesis sendiri. Selain itu, sumur yang telah mati tidak bisa digunakan lagi. Jika mau, bisa didalamkan lagi, namun membutuhkan biaya yang tak sedikit.

Penggalian air tanah diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Air Tanah. Pemerintah Kota Semarang bersama Dewan menyepakati atuan pengendalian air tanah dengan memberlakukan pajak sebesar 20% dari nilai perolehan air tanah.

Sayangnya aturan tersebut tidak berjalan optimal. Di wilayah Sekaran, izin pengeboran air tanah tidak melalui prosedur sesuai dengan Perda. Justru peraturan dirumuskan oleh masyarakat sendiri melalui musyawarah (hukum adat).

Permasalahan air mendatangkan wacana pengadaan sumber mata air alternatif Kecamatan Gunungpati. Salah satunya adalah pengambilan air bersih dari Waduk Jatibarang yang menurut rencana dijalankan tahun 2017. Khusus daerah Sekaran, muncul wacana bahwa Pemkot Semarang sudah menandatangani MoU antara Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Moedal untuk mengatasi persoalan air.

Sebenarnya ada cara yang bisa digunakan untuk mengatasi kebutuhan akan air bersih, yaitu dengan penampung air hujan (PAH). Pada dasarnya, PAH menampung air hujan yang turun sehingga air yang terkumpul ditampung dalam satu wadah. Air yang sudah ditampung dikelola sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari. Wadah penampungan biasanya terletak tak jauh dari rumah karena air hujan yang ditampung berasal dari genteng rumah. Dari genteng rumah, air hujan dialirkan menuju wadah penampungan dengan pipa.Wadah penampungan air hujan

PAH memiliki 4 bagian utama, yakni bak pemasukan air dari talang, bak akuifer buatan, bak penampungan air, dan bak pengambilan air. Sistemnya, air hujan dari talang masuk ke bak pemasukan dengan bantuan pipa. Kemudian difilter (disaring) dari kotoran di bak akuifer. Setelah itu dialirkan ke bak penampungan air bersih dan menuju bak pengambil air dan air siap digunakan.

Teknologi ini bukanlah baru, namun bisa mengatasi kebutuhan akan air bersih. Daripada air artesis, biaya yang dikeluarkan untuk membuat PAH jauh lebih murah. Jika penggunaan air artesis lama-kelamaan akan menyebabkan penurunan tanah, dengan PAH hal tersebut tidak terjadi, sebab air bersumber dari hujan.

 

#InfrastrukturKitaSemua

Bagikan Artikel Ini
img-content
Wifqul Laili

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Artesis yang Tak Lagi Menjanjikan Sekaran

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler