x

Iklan

Rinsan Tobing

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Media Sosial dan Masyarakat Berkepribadian Ganda

Masyarakat harus menciptakan kepribadian baru, kepribadian dunia maya, untuk dapat menguarkan segala jenis ucapan kasar, brutal, bahkan mengancam

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Setiap individu hidup dengan individual created reality. Created reality berdasarkan perspektif terhadap realitas pada umumnya, realitas sosial.  Terbentukanya realita sendiri ini sangat tergantung kepada nilai, keyakinan, norma, pengetahuan dan pengalaman. Perbedaan antara nilai-nilai di realitas sosial dengan nilai-nilai pribadi menyebabkan timbulnya realitas sendiri. Realitas sendiri pada tahapan yang ekstrim akan menciptakan eksklusivitas.

Eksklusivitas ini sangat berbahaya dalam pengertian jika berkembang pada pandangan bahwa nilai-nilai selain yang dimiliki adalah salah. Nilai-nilai salah ini harus dihilangkan. Pemurnian nilai ini dapat dilakukan secara individual maupun berkelompok.

Pada satu titik, masing-masing individu dengan realitas individualnya mungkin sekali bertemu dengan individu lain dengan pemahaman yang sama. Realitas ini menjadi realitas kelompok (Collective Reality) dan bisa dikatakan sebagai realitas sosial dengan anggota terbatas. Dalam konteks tulisan ini dinamakan realitas kelompok dan sifatnya eksklusif. Kelompok ini bisa terbentuk secara sengaja maupun tidak dari interaksi di berbagai kesempatan, atas kesadaran bersama terhadap nilai-nilai yang dianut.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dengan berkembangnya media sosial, terjadi ekstrapolasi yang sangat cepat dan masif. Proses ektensfikasi dan intensfikasi dapat dilakukan secara cepat dan tanpa batas. Teknologi memberikan kesempatan besar dan luas tanpa harus bertemu secara langsung. Kebersamaan emosional dapat dibentuk dalam kelompok di media sosial meskipun pertemuan secara fisik tidak terjadi.

Karena, seperti disampaikan di atas, ini terkait perspektif masing-masing individu. Informasi yang disebarkan di antara anggota kelompok ini terbatas dan hanya yang bersifat menyuburkan nilai-nilai yang dianut.

Kesamaan nilai bisa menjelma pada satu individu yang mewakili nilai-nilai tadi. Apabila seseorang menemukan nilai-nilai realitas individu pada satu sosok, maka ada kecenderungan individu tersebut mengidolakan sosok itu. Demikian juga halnya dengan realitas kelompok. Dalam konteks tertentu, sosok ini salah satunya bisa mewujud dalam diri seorang pemimpin, termasuk pada calon-calon gubernur di Pilkada DKI Jakarta 2017 yang lalu.

 

Nilai-Nilai Calon Gubernur DKI yang Dipersepsikan  

Terlepas dari dukungan para partai pendukung yang mencalonkan seorang tokoh menjadi calon gubernur, masyarakat akan memilih berdasarkan nilai-nilai yang dianut yang terdapat pada sosok calon gubernur. Nilai-nilai individu ini sebangun dengan nilai-nilai yang dimunculkan dalam sosok tersebut. Kemungkinannya, nilai-nilai yang terkandung di sosok tersebut bisa asli atau pun dicitrakan sedemikian rupa untuk menyesuaikan dengan realitas individu dan sosial yang terdapat di masyarakat.

Saat pilkada lalu, ada tiga pasangan calon gubernur yang bertarung. Masing-masing pasangan memiliki nilai-nilai yang dipromosikan secara konstan. Calon, bisa jadi, mencitrakan diri sesuai dengan nilai-nilai realitas individu dan sosial masyarakat yang dipersepsikannya. Sebaliknya, masyarakat mempersepsikan calon gubernur tersebut sesuai dengan nilai-nilai yang disebarkan, untuk tidak menyebut dipropagandakan.

Agus dipersepsikan sebagai calon gubernur yang gagah, muda, dan tegas. Nilai ini didasarkan pada fakta yang ada pada Agus. Gagah karena Agus masih muda dan mantan militer sehingga diasumsikan tegas. Lalu dikomodifikasi dalam bentuk pesan bahwa pemimpin Jakarta perlu yang muda, gagah dan tegas untuk menyelesaikan berbagai persoalan di Jakarta. Agus dan tim suksesnya mempersepsikan realitas sosial masyarakat memiliki nilai-nilai yang disodorkan.

Pada calon dari nomor 2, Ahok dipersepsikan sebagai calon gubernur yang pekerja keras, bersih dan profesional serta sudah terbukti. Semua nilai-nilai yang ditonjolkan tersebut didasarkan pada pengalaman yang sudah dijalankan. Masalah-masalah di Jakarta telah diselesaikan sebagian dan itu hanya bisa terjadi karena gubernurnya seorang pekerja keras, bersih dan profesional. Calon gubernur Ahok dan pendukungnya mempersepsikan nilai-nilai tersebut bersemayam dalam realitas sosial dan individu masyarakat Jakarta.

Anies dengan dukungan dua partai ini, digambarkan sebagai tokoh yang cerdas, berpengalaman, dan penuh empati. Program dengan slogan merangkul masyarakat dengan hati dan bekerja cerdas. Nilai-nilai di atas tentunya didasarkan pada persepsi nilai-nilai realitas sosial dan individu.

Perbedaan nilai yang masing-masing dipromosikan mendapat respon dari masing-masing realitas sosial dan realitas individu masyarakat pemilih di Jakarta. Masing-masing realitas ini pada kenyataannya menciptakan polarisasi di masyarakat. Polarisasi ini terbentuk di dunia nyata dan dunia maya.

 

Menciptakan Kepribadian Dunia Maya

Tetapi, ternyata polarisasi yang sangat brutal dan kasar terjadi jauh lebih masif di dunia maya. Sementara di dunia nyata tidak sedemikian. Materialisasi nilai-nilai realitas individu di dunia maya dalam bentuk ujaran, tulisan, gambar dan meme dalam berbagai format media sosial, cendrung sangat brutal dan mentah, tidak ada saringan.

Sering sekali ditemukan pernyataan-pernyataan yang banal, mentah, telanjang, kasar, tidak beretika, menakutkan, mengancam bahkan menganjurkan pelenyapan nyawa orang lain. Pada tataran dunia nyata, keberingasan itu tidak tampak dan cendrung tidak muncul secara kasat mata. Dukungan kelompok makin menyuburkan ujaran-ujaran tadi termasuk proses disseminasinya melalui berbagai format.

Dengan adanya kelompok individu dengan realitas yang sama di dunia maya, individu-individu ini seperti mendapatkan tempat untuk menyemainya. Tanda Like dan sentimen positif semakin memberikan rasa percaya diri bagi individu yang menyerukan kebanalan tersebut. Semakin besar dukungan dan sentimen positif, maka semakin maksimal kebanalannya. Pada batas tertentu, karena terlalu semangat, harus berhadapan dengan hukum.

Pertarungan di dunia maya dalam rangka mendukung nilai-nilai yang dianut ternyata menciptakan situasi baru. Kemampuan untuk mengungkapkan kebencian, hinaan dan ancaman di dunia maya ternyata tidak sama dengan kemampuan melakukannya di dunia nyata. Masyarakat sepertinya menciptakan personality baru, kepribadian dunia maya. Ini bisa terjadi. Seperti dalam film Split, diceritakan seseorang dengan 24 kepribadian, dengan sikap dan perilaku masing-masing.

Kepribadian baru ini, yang sama sekali berbeda dengan yang di dunia nyata, mendukung penyaluran kebanalannya. Kepribadian baru ini memiliki keberanian untuk melakukan kebanalan dalam kerangka pembelaan nilai-nilai yang dianut, selanjutnya penyaluran pada pilihan calon pimpinan. Kepribadian baru ini merasa nyaman dengan tindakannya yang tidak mungkin dilakukan di dunia nyata. Sebabnya, ada banyak yang mendukungnnya, dari kelompok dengan realitas individu dan sosial yang sama di dunia maya. 

Begitulah kenyataannya, sehingga di dunia nyata seorang yang dikenal sangat baik, murah senyum dan berwajah manis dan rupawan serta baik hati, ternyata di media sosial berkelakuan brutal dengan tingkat kebencian yang sangat tinggi, untuk membela nilai-nilai yang dianut dalam realitas individunya. Segala sesuatu yang berbeda dengan nilainya adalah salah dan harus dimurnikan.

Tampaknya, masyarakat kita telah berhasil menciptakan kepribadian dunia maya ini, melihat banyaknya ucapan kebencian dan berita bohong yang bertebaran. Sesungguhnya, masyarakat kita telah menjadi masyarakat dengan kepribadian ganda. Mungkin, tidak seluruhnya.

Ikuti tulisan menarik Rinsan Tobing lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler