Kecerdasan untuk Keadilan

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kaum cerdik cendekia menghadapi tantangan untuk mampu bersikap adil.

 

Dalam masyarakat manapun, kaum cerdik cendekia menempati posisi yang khas—mereka dihargai dan dihormati karena kecendekiaannya. Kaum pintar ini memiliki banyak pengetahuan dan karena itu sanggup menjelaskan beragam soal dari berbagai sudut pandang. Mereka memiliki kefasihan dalam menerangkan sehingga orang banyak semakin menaruh hormat kepada kepintaran mereka.

Bukan sesuatu yang tidak lazim bila kaum cendekia kerap merasa lebih tahu ketimbang masyarakatnya mengenai apa yang sedang terjadi. Dibanding suara orang banyak, para cendekia kerap lebih didengar karena keprigelan mereka dalam mengurai masalah dan menunjukkan apa yang tersembunyi dalam suatu fenomena.

Orang-orang yang kewaskitaannya belum mencapai tataran kaum cendekia ini akan terlihat terkagum-kagum mendengar penjelasan mereka tentang sesuatu. Kesenjangan pemahaman ini cenderung menumpulkan sikap kritis kepada pandangan kaum cendekia. Bukan tidak mungkin, bahkan kerap terjadi, sikap kritis yang tergerus membuat apa yang dikatakan para cerdik ini dianggap sebagai kebenaran.

Menjadi berbahaya manakala kaum cerdik ini mengabaikan sikap arif dalam memahami persoalan. Mereka mungkin cerdik dan berpengetahuan luas tentang sesuatu, tapi ini selalu identik dengan kearifan—mereka mungkin tidak cukup peka untuk memahami mengapa orang lain punya pandangan berbeda.

Kadang-kadang bukan hanya tidak cukup peka, tetapi tidak mau tahu ataupun pura-pura tidak tahu mengapa sebuah peristiwa terjadi dan mengapa respon sebagian orang seperti itu. Kecerdasan tanpa disertai sikap berempati berpotensi buruk: para cendekia akan bertumpu sepenuhnya kepada rasio dan mengabaikan rasa serta kearifan.

Kecondongan semacam itu mampu melampaui kepintaran, bahkan mampu menimbulkan keengganan untuk melihat kemungkinan adanya kebenaran di pihak lain. Menjadi berbahaya bila kecerdasan digunakan untuk menyusun berbagai argumen pembenaran atas suatu pandangan. Ini bertentangan dengan pentingnya sikap kritis yang justru sering didengungkan oleh kaum cerdik sendiri.

Kecondongan semacam itu mendorong pembelaan habis-habisan atas apa yang mereka anggap benar atau yang harus mereka benarkan. Mereka lantas enggan untuk menelisik dan bertanya ‘adakah ruang kebenaran di tempat yang lain, di tempat yang tidak saya sukai?’ Selain mengagumkan, kecerdasan juga dapat menyimpan bahayanya sendiri ketika digunakan untuk menyusun suatu argumen pembenaran atas suatu pikiran, pilihan, keputusan, sikap.

Kearifan memerlukan kepekaan rasa dalam memahami suatu fenomena, bukan hanya bertumpu pada rasio atau nalar. Sebagian kaum cerdik mungkin merasa telah melampaui orang banyak dalam memahami sesuatu, namun mereka belum sampai kepada jenjang kewaskitaan yang lebih tinggi oleh karena hati mereka tidak cukup membuka diri bagi kemungkinan kebenaran di luar yang ia pegang selama ini.

Kepekaan rasa dan kearifan diperlukan untuk melengkapi kecerdasan luar biasa yang lazim dipunyai sedikit cerdik cendekia. Inilah syarat yang dibutuhkan agar kaum cerdik cendekia mampu bersikap adil dalam memahami suatu fenomena. Dua unsur ini mungkin tergerus ketika kaum cerdik mencermati sebuah fenomena karena tertutupi oleh kecondongan yang berlebihan di dalam dirinya.

Melupakan kepekaan rasa dan kearifan hanya akan mengantarkan kaum cerdik cendekia pada kemenangan intelektual yang mengabaikan sisi-sisi lain, seperti rasa empati dan sikap berkeadilan. Inilah tantangan yang dihadapi kaum cerdik cendikia sejak lama hingga kini. **

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua