Belajar Mengelola Pariwisata dari Pulau Dewata - Analisis - www.indonesiana.id
x

Maulana Malik Sebdo Aji

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Belajar Mengelola Pariwisata dari Pulau Dewata

    Perekonomian Bali Tidak Diragukan Lagi, terutama wilayah Bali Dibagian Selatan, padahal wilayah Bali Bagian Selatan hanya bermodalkan mengoptimalkan wisata

    Dibaca : 1.676 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Setiap bulannya, Bandar Udara Ngurah Rai selalu mencatatkan diri sebagai Badara paling banyak dikunjungi wisatawan mancanegara (Wisman). Data terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik menyatakan pada Bulan Januari 2018, Bandara Ngurah Rai berada diposisi teratas dengan kunjungan wisman sebanyak  345.191 jiwa.

    Jumlah tersebut bahkan mengungguli wisman yang mendarat di Bandara Internasional Soekarno & Hatta. Tercatat hanya sebanyak 209.553 turis asing yang mendarat dibandara ini. Adapun bandara-bandara internasional lainya jumlah pengunjung turis asingnya tidak melibihi 100.000 jiwa.

    Perekonomian Bali memang unik, jika kita perhatikan dipusat-pusat wisata Bali tidak akan kita jumpai parkir-parkir liar yang memungut rupiah. Hal ini tentu tidak berlaku untuk daerah wisata selain Pulau Dewata, juru parkir liar maupun resmi menjamur disekitaran objek wisata. Seakan-akan usaha parkir adalah satu-satunya cara mendulang rupiah dari para pelancong.

    Dari satu indikator parkir ini sudah menunjukan bahwa Pulau Dewata meduduki ranking wahid dalam hal mengelola pariwisata. Tanpa mengurangi rasa takjub saya terhadap keindahan alam yang ada di Pulau Dewata, namun bisa saya pastikan turis-turis asing maupun lokal paling banyak berkunjung ke Pulau Dewata bukan karena memiliki pantai maupun terumbu karang paling indah seantero nusantara ini.

    Ada beberapa jurus yang dilakukan pemerintah Provinsi Bali dan Masyarakat Bali dalam mengolah wisata yang ada. Pemerintah bersama dengan rakyat di Bali sangat pandai mengoptimalkan setiap sudut keindahan Bali untuk di promosikan ke Dunia. Ya, level Bali adalah membidik masyarakat internasional untuk berkunjung ke Pulau ini.

    Faktor keamanan menjadi jurus pertama yang dilakukan Pemerintah dan masyarakat Bali. Mayoritas penduduk Bali yang memeluk Agama Hindu menjadi modal utama membangun Bali yang aman dan tentram bagi pengunjung. Pemerintah Bali dan Tokoh Agama di Bali bisa dikatakan sukses membentuk manusia yang taat menjalankan kepercayaannya. Ketaatan dalam beribadah inilah yang membuat tindak kejahatan seperti pembunuhan, pencurian sepeda motor dan kejahatan lainnya minim terjadi. Jika anda pertama kali berlibur ke Pulau Bali dan menyewa motor untuk keliling Pulau Bali, anda tidak perlu khawatir motor sewaan anda hilang pada saat parkir, motor anda aman dan bebas parkir liar selama anda parkir pada tempat yang telah disediakan.

    Selain keamanan, Pemerintah Bali dan Masyarakat Bali juga berhasil mempertahankan budaya asli yang ada. Disepanjang jalan, kita akan melihat bangunan pemerintah, sekolah maupun rumah dengan desain rumah adat bali. Hal inilah yang sudah banyak ditinggalkan daerah lain. Rumah Adat Krong Bade di Aceh, Rumah Gadang di Sumatera Barat, Rumah Joglo di Jawa, Rumah Selaso di Bumi Melayu, Rumah Pajang di Jambi dan rumah-rumah adat lainnya mulai ditinggalkan dan beralih ke desain rumah minimalis.

    Selain pemandangan bangunan yang mempertahankan rumah adat, Bali juga masih sangat kental dengan tariannya. Tari Kecak merupakan tarian unggulan dari Provinsi Bali ini bisa kita saksikan setiap harinya menjelang matahari tenggelam di Objek Wisata Pura Uluwatu. Kombinasi antara penampilan tarian di tempat objek wisata menurut saya adalah terobosan yang belum dilakukan oleh kebanyakan pemerintah daerah lainnya dalam menggarap wisata. Seperti halnya Aceh yang memiliki Tari Saman, sebetulnya Tari Saman ini memiliki potensi yang sama dengan Tari Kecak di Bali. Tari Saman bisa menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk berkunjung Ke Aceh jika memiliki jadwal yang tetap dan bertempat disuatu objek wisata.

    Bila daerah Bali memiliki Pura yang ditonjolkan sebagai daerah tujuan wisata, maka sebetulnya Aceh memiliki Mesjid-Mesjid yang layak menjadi tujuan wisata sebut saja salah satunya adalah Mesjid Raya Baiturrahman. Tentu saja dengan batasan-batasan tertentu untuk menghormati tempat peribadatan. Sepertihalnya para pengunjung Pura Uluwatu sendiri dibatasi hanya boleh di halaman sekitar pura. Kebetulan disekeliling Pura banyak spot untuk berfoto.

    Keunggulan Bali dalam mengolah wisatanya adalah kebebasan. Di Pulau Dewata ini tidak bisa dipungkiri, semua orang bebas melakukan apa saja. Bagi anda penikmat minuman beralkohol, tidak terlalu sulit bahkan cenderung mudah untuk menikmati minuman jenis ini di Bali. Selain itu, para turis asing juga bebas untuk berjemur dengan balutan pakaian yang seadanya. Tentu saja jurus yang terakhir ini agak susah diterapkan bagi daerah lain apalagi bagi daerah yang mayoritas beragama islam. Tentu saja kita harus menjunjung tinggi kearifan lokal yang berlaku dimasing-masing daerah.

    Masih banyak jalan menuju roma, masih banyak cara untuk menarik wisatawan asing dan lokal. Daerah lain masih bisa menyaingi Bali dengan mengoptimalkan kelemahan yang ada di Pulau Bali. Untuk urusan makanan, mungkin Pulau Bali bisa terhitung mahal. Sangat sulit untuk menemukan rumah makan dengan budget dibawah Rp 25.000/porsi, selain itu bagi para traveler muslim di Pulau Bali juga sangat sulit untuk menemukan warung makan yang berstatus halal.

    Ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan daerah lain, yaitu penginapan murah. Di Bali sangat banyak menyediakan penginapan berstandar hotel berbintang dengan tarif sekelas melati. Kita bisa menikmati kamar hotel layak huni hanya dengan merogoh kocek Rp 150.000,- sampai dengan Rp 300.000,-untuk setiap malamnya.

    Begitu dahsyatnya gelora pariwisata di Pulau Dewata ini membuat kreatifitas masyarakat untuk mendulang rupiah meningkat. Jasa persewaaan mobil maupun sepeda motor laku keras. Jasa pertukaran rupiah/ Money Changer juga menjamur. Industri-industri oleh-oleh juga terus berkembang seperti merek dagang paling terkenal seantero Bali yaitu Joger. Mengawali usahanya dengan produk Kaos Bergambar, saat ini industri oleh-oleh Joger sudah memiliki banyak jenis produk seperti sandal, asbak, topi dan lain-lain.

    Dengan hanya bermodalkan pariwisata, perekonomian suatu daerah tidak lagi bergantung pada anggaran pemerintah maupun sumber daya alam yang suatu saat akan habis. Untuk itu setiap daerah sebaiknya mulai dari sekarang mempersiapkan diri membangun dunia pariwisata dengan belajar dari Pulau Dewata.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.080 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.