Debat Sengit Emil Salim vs Arteria Dahlan, Siapa Sebenarnya yang Sesat? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Debat Arteria Dahlan vs Emil Salim ( foto Tempo.co)

Ratna Asri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 September 2019

Kamis, 10 Oktober 2019 13:05 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Debat Sengit Emil Salim vs Arteria Dahlan, Siapa Sebenarnya yang Sesat?

    Dibaca : 3.959 kali

    Debat seru   bertajuk  'Ragu-Ragu Perpu' dalam acara Mata Najwa di Trans7 ,  Rabu, 9 Oktober 2019 malam masih menjadi perbincangan publik.  Acara ini  menghadirkan Sekjen Partai NasDem Johhny G. Plate, anggota DPR Fraksi PDIP Arteria Dahlan, dan anggota DPR Fraksi Gerindra sekaligus Ketua Baleg Supratman Andi Agtas.

    Mereka berhadapan dengan kubu pro penguatan Komisi Pemberantasan Korupsi yang terdiri dari mantan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Emil Salim, Direktur PUSAKO Universitas Andalas Feri Amsari, dan Direktur Eksekutif Lembaga Survey Indonesia Djayadi Hanan.

    Sorotan masyarakat diarahkan pada “debat kusir” antara  Arteria Dahlan  (44 tahun) dan Emil Salim (89 tahun).  Berikut ini cuplikan beberapa poin yang menarik, dan kami berupaya memberikan sedikit ulasan.

    1.Soal keberhasilan  KPK
    Disini terlihat adanya perbedaan tolok ukur.  Arteria menilai dari rincian tugas dan janji KPK kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Adapun Emil Salim  melihat dari ukuran yang lebih umum, yakni banyaknya  tokoh penting, yakni ketua partai yang  masuk penjara karena KPK.   Hal ini bisa kita lihat dari kutipan berikut:

    • Arteria Dahlan: "Prof, yang saya ingin katakan pelemahannya dimana? Berhasil dan tidak berhasilnya KPK itu yang tahu kami. Begitu 2015 terpilih, dia buat grand design, roadmap, janji-janji yang harus dikerjakan. Publik ini enggak tahu. Publik ini terhipnotis dengan OTT-OTT (operasi tangkap tangan), seolah-olah itu hebat. Padahal, janji-janji KPK itu banyak sekali di hadapan DPR yang 10 persennya pun belum tercapai."
    • Emil Salim: "Apa semua ketua partai yang masuk penjara, apakah itu bukan bukti keberhasilan KPK?"

    2.Soal tugas KPK yang dianggap tak dikerjakan
    Debat masih berlanjut soal pekerjaan rumah yang menurut Arteria tidak dikerjakan oleh KPK.  Menangapi  hal ini, Emil cenderung bertahan.

    • Arteria: "Dengan segala hormat saya sama Prof, Prof bacalah tugas fungsi kewenangan KPK. Tidak hanya melakukan penindakan tapi pencegahan. Gimana penindakan, supervisi, monitoring, koordinasinya. Ini enggak dikerjakan Prof. Tolong jangan dibantah dulu."
    • Emil: "Tapi hukum telah dijatuhkan."
    • Arteria: "Yang kedua, saya ingin katakan kenapa kami buat Dewan pengawas. Saya ingin sampaikan biar Prof juga jelas. Kita bicara hukum sama ahli hukum. Bicara hukum pidana korupsi sama ahli pidana korupsi. Bukan saya mendiskreditkan Prof. ….Ini yang saya katakan, ini yang kita coba kita hargai capaian KPK. Tapi enggak boleh menutup mata kalau harus ada pembenahan KPK. Tahu enggak Prof, siapa pelakunya?" ucapnya.
    • Emil:  "Dalam aturan UU KPK, ada kewajiban menyampaikan laporan. Tiap tahun dia menyampaikan laporan."
    • Arteria: "Enggak pernah dikerjakan Prof. Prof tahu enggak. Mana Prof? Saya di DPR Prof, enggak boleh begitu Prof. Saya di DPR, saya yang tahu, Prof. Mana? Prof, sesat! Ini namanya sesat! Prof, sesat!"

    3.Soal  kesenjangan kredibilitas
    Pada bagian ini, Emil membawa persoalan ke masalah yang lebih mendalam soal demokrasi.  Adapun  Arteria cenderung bertahan, agak terpeleset sediki atau kurang jelas maksudnya ketika ia bilang: "Anda bisa jadi menteri karena proses politik di DPR" karena menteri dipilih oleh Presiden.

    • Emil: "Jadi, yang jadi soal itu ada credibility gap. Bung bilang  dipilih. Yang jadi persoalan, cara memilih itu bebas dari korupsi?"
    • Arteria: "Ya, iyalah. Prof nanya saya terpilih bebas korupsi atau tidak. Saya yakin. Jangan digeneralisir. Anda bisa jadi menteri karena proses politik di DPR, Pak. Jangan salah. Kasih contoh Pak ke generasi muda, Pak. Bernegara dengan baik. Bekerja dengan baik."
    • Emil: Yang menjadi persoalan dalam demokrasi di Indonesia bahwa ada laporan berupa buku. (Belum sempat dia menjelaskan, Arteria Dahlan menyela pembicaraan.) Emil tiba-tiba memukul meja. "Dengar dulu!"
    • Emil lagi: "Demokrasi for sale, dimana seluruh yang terjadi penangkapan KPK adalah para politisi yang dipilih. Jadi persoalannya pemilihan yang kita jalankan belum tentu kredibel. Itu jadi persoalan. Jadi Bung bangga, saya dipilih. Tapi apa betul dipilih secara betul? Berapa ongkos yang dikeluarkan? Dari mana uangnya?"

    4.Perbedaan visi sekaligus kematangan
    Dari perdebatan itu, tampak  sekali perbedaan cara pandang dan visi mengenai KPK.  Arteria menempatkan diri sebagai politikus yang sejak awal, seusai dengan sikap PDIP, menolak rencana peru untuk membatalkan revisi UU KPK. Ia muda dan bersemangat. Adapun Emil Salim lebih matang.  Walaupun dulu mengabdi pada Order Baru, ia pro pemberantasan korupsi. Di era Orde baru pun, Emil terbilang cukup bersih.

    Apa benar Emil Salim sesat? Atau Siapa yang sebenarnya sesat? Anda semua bisa menilai sendiri  dari  perdebatan itu.***

    Baca juga:
    Wiranto Masuk Daftar Empat Pejabat yang Diancam Dibunuh

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.