Wiranto Ditusuk: Soal Spanduk dan Pisau, Intelijen Kecolongan? - Viral - www.indonesiana.id
x

tuluswijanarko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 14 Oktober 2019 14:17 WIB
  • Viral
  • Berita Utama
  • Wiranto Ditusuk: Soal Spanduk dan Pisau, Intelijen Kecolongan?

    Dibaca : 1.840 kali

    Aksi penusukan yang menimpa Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto menimbulkan pertanyaan besar seputar keandalan lembaga intelijen negara kita. Lembaga telik-sandi itu bisa dikatakan kecolongan dan kurang tangkas dalam mengantisipasi serangan terhadap pejabat negara. Ini mencemaskan, karena jika keamanan pejabat negara saja tak terjamin, bagaimana pula dengan rakyat sipil?

    Demikian editorial Koran Tempo, edisi Senin, 14/10. Tajuk harian itu menyoroti peranan intelijen dan keamanan yang dinilai kurang sigap sehingga terjadilah serengan tersebut.

    Wiranto diserang oleh Syahrial Alamsyah  alias Abu Rara dan isterinya Fitria Andriana pada Kamis, pekan lalu di alun-alun Menes, Pandeglang, Banten. Wiranto mengalami dua tusukan di bagian perutnya dan masih dirawat di rumah sakit hingga saat ini. Selain Wiranto ada dua orang lagi yang menjadi korban serangan.

    Polisi dan intelijen sudah membantah bahwa mereka kecolongan. Tetapi fakta bahwa Wiranto diserang dalam jarak amat dekat dan di tempat terbuka, menunjukkan kelengahan intelijen dan keamanan. Lagipula ini bukan kunjungan kerja mendadak (panitia sudah memasang spanduk ucapan selamat datang sehari sebelumnya), jadi semestinya antisipasi atas kemungkinan ancaman bisa dilakukan lebih baik.

    Abu Rara dan Fitria diketahui terkait dengan Jamaah Ansarut Daulah (JAD) Bekasi pimpinan  Fazri Pahlawan alias Abu Zee Ghuroba. Pimpinan dan anggota kelompok ini telah ditangkap Detasemen Khusus 88, September lalu. Jauh sebelumnya intelijen sudah mengendus nama Abu Rara sebagai sosok yang terpapar ide radikalisme agama. Abu Rara juga diketahui mengumpulkan aneka senjata tajam. Ia sudah dalam pengawasan.

    JAD, tempat Abu Rara menggabungkan diri, adalah organisasi yang terkait dengan peristiwa bom panci Surabaya, Mei 2018. Kelompok ISIS mengklaim bertanggung jawab atas bom Surabaya yang menewaskan 13 orang itu. Oleh Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat, JAD dikategorikan organisasi teroris. Semua latar belakang ini pasti sudah dipahami intelijen, dan sudah selayaknya pergerakan Abu Rara tidak luput sedetikpun. Tetapi di alun-alun Menes itu, pasangan suami-isteri yang sudah menunggu Wiranto tersebut terlewat dari perhatian. Abu Rara berhasil mendekat Wiranto dan dua kali menghujamkan pisau kecilnya!

    Kejadian ini harus menjadi momentum bagi intelijen dan keamanan untuk berbenah. Lembaga intelijen harus memperkuat diri untuk menjalankan tugas utamanya, yakni mendeteksi hingga menyajikan data intelijen (yang akurat) guna mencegah ancaman yang membahayakan keselamatan nasional (UU 17/2011).

    Harus disadari, untuk mengatasi kegiatan-kegiatan yang mengancam keselamatan negara (terorisme dan lain-lain) mesti melibatkan bukan hanya penegakan hukum, tetapi juga analisa dan perkiraan intelejen akurat dan berkesinambungan. Hal ini bisa tercapai jika intelijen setia pada asas kegiatan seperti termaktub dalam undang-undang, yakni profesionalitas, kerahasiaan, kompartementasi, netralitas, kredibilitas, obyektifitas, hingga integritas.

    Namun tetap harus diwanti-wanti, peristiwa penusukan terhadap Wiranto ini jangan dimanfatakan untuk melakukan operasi-operasi reperesif, seperti belakangan ini menimpa para pengriitk pemerintah. Jangan lakukan penangakapan sewenang-wenang atas nama pemberantasan terorisme. Semua harus dilakukan secara terukur sesuai hukum yang berlaku.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.