Ternyata Bukan Jokowi, Inilah Kunci Masuk Kubu SBY & Prabowo ke Kabinet - Analisa - www.indonesiana.id
x

Presiden Jokowi berjalan bersama Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarnoputri setelah pertemuan tertutup di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 21 Mei 2019. Dalam pertemuan itu, Jokowi juga mengucapkan selamat pada Megawati sebagai ketua umum PDIP. Dalam rekapitulasi KPU, PDIP menang dalam pemilihan legislatif. ANTARA

Anas Muhaimin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 September 2019

Sabtu, 19 Oktober 2019 18:14 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Ternyata Bukan Jokowi, Inilah Kunci Masuk Kubu SBY & Prabowo ke Kabinet

    Dibaca : 23.228 kali

    Tarik ulur  penyusunan kabinet  kerja Presiden Joko Widodo periode mendatang masih berlangsung.  Publik mengamati dengan seksama manuver Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum  Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono  yang tengah merapat ke Istana.

    Kemungkinan besar  Gerindra  menyodorkan Prabowo Subianto dan Edhy Prabowo.  Hal ini diungkapkan oleh mantan calon wakil presiden pasangan Prabowo, Sandiaga Uno.  "Kalau di partai urut kacang lah. Kader terbaik pertama ya Pak Prabowo,"  kata Sandiaga,17 Oktober  2019.  Ia mengatakan  Prabowo adalah penggagas  kemandirian pangan, energi, air, dan pertahanan yang sudah  diserahkan kepada  Jokowi.

    Adapun, kubu Demokrat mengusulkan putra SBY,  Agus Harimurti Yudhoyono. "Pos mana pun itu terserah Presiden terpilih. Orangnya ya yang jelas kalau di Demokrat pasti pertama kali, ya AHY lah," ujar petinggi Demokrat Syarief Hasan , 11 Oktober 2019.

    Berhasilkah  tokoh Gerindra dan Demokrat  masuk kabinet?  Inilah faktor yang menentukan.

    1.Sikap partai-partai  penyokong Jokowi
    Safari politik  Prabowo Subianto ke sejumlah pemimpin partai pendukung Jokowi seperti  Nasdem, Golkar, dan PKB  bisa dilihat dari perspektif itu. Bagaimanapun, Presiden Jokowi akan mendengar masukan dari partai-partai yang selama ini sudah mendukungnya, bahkan sejak periode pertama.  Jika ada satu-dua partai yang berkeberatan, tentu akan menimbulkan gesekan politik yang tidak perlu.

    Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menyebutkan pentingnya “restu” dari koalisi  Jokowi itu.    Ia mengatakan penambahan koalisi pascapilpres harus diputuskan bersama-sama antara Presiden Jokowi dengan seluruh parpol koalisi. "Fatsunnya seperti itu," kata Hasto lewat keterangan tertulis,  18 Oktober 2019.

    2.Komitmen tokoh yang masuk
    Hasto Kristiyanto juga mengingatkan  agar Presiden  Jokowi mempertimbangkan urusan Pemilu 2024 dalam menunjuk menteri-menterinya di Kabinet Jokowi Jilid II. "Tak boleh ada menteri setelah dilantik tiba-tiba kibarkan bendera mau jadi presiden 2024. Semua harus setia dalam lima tahun ke depan," ujar Hasto.

    Dalam soal itu,   PDIP memiliki pengalaman yang mungkin traumatik berkaitan dengan  Susilo Bambang Yudhoyono.  Di masa kabinet Megawati, SBY  pernah diangkat menjadi menteri.  Ia kemudian mengundurkan diri dan mencalonkan sebagai Presiden pada Pemilu 2004. Ia pun berhasil mengalahkan Megawati.  Masalah ini menyebabkan perseteruan Mega-SBY terjadi cukup lama, bahkan sisa-sisanya masih ada hingga sekarang.

    3.Faktor Megawati
    Faktor inilah yang menyebabkan kubu Prabowo terlihat lebih mendapat lampu hijau ketimbang kubu SBY. Bagaimanapun, hubungan Probowo-Mega lebih terlihat  lancar dibanding SBY-Mega.

    Pengajar ilmu politik Universitas Negeri Jakarta Ubedillah Badrun pun melihat  bahwa pintu masuk untuk mengajak oposisi ke kabinet  adalah Megawati.  "Jokowi tidak bisa mengabaikan Bu Megawati," kata Ubedillah , 12 Oktober 2019.  ****

    Baca juga:
    Kiprah Anak Jokowi-Ma’ruf: Gibran Ingin Pimpin Solo, Azizah Bidik Tangsel


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.