Warung Kopi, Sarana Rekonstruksi Diskusi - Viral - www.indonesiana.id
x

Pengunjung menghabiskan waktu bersantai di salah satu warung kopi di Banda Aceh, 8 Juni 2016. Warung kopi di Aceh baru buka pukul 21.30 WIB di bulan Ramadan. TEMPO/Adi Warsidi

Harish Ishlah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Oktober 2019

Rabu, 23 Oktober 2019 08:36 WIB
  • Viral
  • Pilihan
  • Warung Kopi, Sarana Rekonstruksi Diskusi

    Dibaca : 112 kali

    Sebelum mulai membahas tentang budaya nongkrong di warung kopi, izinkan penulis menjelaskan tentang bagaimana awal mula manusia mengelola biji kopi yang kemudian dikonsumi menjadi sebuah minuman.

    Siapa sangka bahwa kopi pertama kali ditemukan oleh bangsa Etiopia di Benua Afrika sekitar 3000 tahun (1000 SM) yang lalu. Menurut para sejarawan, mula–mula pengembala kambing secara tidak sengaja memperhatikan kambingnya yang setiap hari memakan biji kopi. Setelah memakan biji–biji tersebut, kambing menjadi semakin aktif dan bersemangat. Lalu pengembala tersebut berandai-andai, bagaimana jika manusia yang mengkonsumsi biji kopi?

    Namun siapa tahu dibalik semua itu kopi mengandung sejuta manfaat dan khasiat bagi tubuh manusia? Contohnya kopi sering membantu kita tetap terjaga ketika mengerjakan tugas hingga tengah malam. Sejumlah penelitian juga mengungkapkan kopi merupakan salah satu sumber antioksidan yang baik untuk dihirup. Kopi juga disetarakan dengan tiga buah jeruk yang mampu menghilangkan stress karena mengandung zat serotonin. Zat ini membantu tubuh manusia untuk menghilangkan efek depresi.

    Tetapi hal yang paling intim untuk kita bahas adalah fenomena Warung Kopi yang mengubah sudut pandang masyarakat di Indonesia. Awalnya budaya nongkrong atau dalam bahasa Jawa biasa disebut “Nyangkruk” ini berdampak negatif di mata masyarakat awam. Nongkrong di warung kopi, beberapa dekade lalu biasanya hanya berupa minum kopi, main kartu, berjudi, merokok, membeli jajanan seperti gorengan, dan hal mubadzir lainnya. Masyarakat terlanjur mempunyai stigma negatif terhadap warung kopi dan ajakan ngopi.

    Belum lagi, saat itu ngopi biasanya hanya dilakukan masyarakat pinggiran, pedesaan, dan kalangan pekerja saja yang rata–rata usianya 30-50 tahun. Ngopi hanya dilakukan oleh orang dewasa dan remaja juga pada saat itu. Para orangtua pun melarang anaknya ngopi karena sudah kena stigma bahwa ngopi itu negatif.

    Di Kabupaten Gresik, ngopi justru dijadikan sebagai budaya yang positif. Ada sebuah cerita bahwa dari budaya bertukar pikiran saat ngopi di Gresik, menghasilkan sebuah gerakan akar rumput yang kuat untuk mengintervensi kebijakan Pemerintah Kabupaten. Gerakan ini dinamakan “Gresik Sumpek “ yang terlahir dari sebuah perbincangan di warung kopi. Gerakan ini mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah daerah serta mendapatkan kepercayaan masyarakat karena dianggap mampu menampung dan menyampaikan aspirasi.

    Tidak hanya di Gresik saja, sekarang ngopi dengan diwarnai diskusi banyak ditemui di hampir seluruh daerah, terutama daerah dengan tingkat pendidikan tinggi. Manusia dengan intelektualisme pastinya mempunyai kebutuhan berdiskusi untuk mengasah ilmu yang didapatkannya serta bertukar pikiran. Tujuannya menjadikan diri sebagai manusia terbuka dalam berilmu. 

    Dengan berdiskusi, manusia bisa menerima berbagai macam pemikiran yang dilemparkan lawan bicara sehingga dapat menyerap berbagai ilmu-ilmu baru. Karakter bermajelis itu muncul dalam diri seorang intelektualisme dibantu konsumsi kopi yang diminum sedikit demi sedikit sambil bersenda gurau dan berdialektika. Tentunya hal itu akan mendorong diskusi menjadi jauh lebih berwarna.

    Selain berdiskusi, warung kopi juga bisa menjadi sarana mencari advice atau nasihat yang strategis karena disana bertemu banyak orang yang berbeda dengan usia dan pengalaman yang berbeda pula.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.