Jutawan Dolar yang Jumlahnya Berjuta-juta

Rabu, 23 Oktober 2019 17:55 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Konon, setelah kekayaan mencapai angka tertentu, ia bisa bertambah berdasarkan deret ukur, bukan deret hitung.

Menjelang akhir tahun 2019, orang jutawan (dalam mata uang dolar Amerika/USD) di seluruh dunia telah berjumlah 46,8 juta orang (lihat Global Wealth Report, Credit Suisse Research Institute, 2019). Artinya jumlah jutawan dolar sudah berjuta-juta di seantero bumi. Dan kecenderungannya, jumlah itu akan terus bertambah. Who wants to be a million dollars?

Sebagian besar jutawan dolar itu berada di sepuluh negara kaya: Amerika (19 juta orang) kemudian secara berurut disusul oleh China (4 juta orang), Jepang (3 juta orang), lalu Inggris, Jerman, Perancis, Italia, Kanada, Australia, Spanyol, Belanda dan Swiss. Di Indonesia juga ada, tapi belum masuk sepuluh besar.

Dan ketika bicara soal jutawan dalam mata uang dolar, jika dikonversi ke rupiah, kategorinya menjadi milarder. Sebab 1 juta USD setara lebih dari Rp14 miliar, dengan asumsi kurs 1 dolar = Rp14.000 sekian. Dan haqqul-yakin, pasti banyak orang Indonesia yang memiliki kekayaan sekitar Rp14 miliar.

Konon, setelah kekayaan mencapai angka tertentu, ia bisa bertambah berdasarkan deret ukur, bukan deret hitung. Dan “angka tertentu” yang dimaksud di sini biasanya di-’bahasa’-kan sebagai “kekayaan yang nganggur”, atau kekayaan yang tetap utuh setelah semua kebutuhan terpenuhi secara layak.

Secara teoritis dan ideal, mestinya setiap orang mampu menyisihkan (menabung) sepertiga dari total penghasilannya. Jadi kalau penghasilan pas-pasan atau bahkan kurang dari kebutuhan hidup, jangan berharap bisa menabung.

Sebagai ilustrasi, seorang teman bercerita berdasarkan pengalamannya begini: hidup di Jakarta, misalnya, agar bisa menabung sepertiga dari penghasilan, seseorang harus berpenghasilan sekitar Rp25 juta per bulan. Artinya, jika penghasilan hanya Rp10 juta per bulan, dan Anda hidup di Jakarta, besar kemungkinan tidak akan banyak sisanya. Sering malah ludes, ente’ nggak karuan, bahkan malah berutang.

Untuk kasus warga Indonesia, mayoritas warga sulit mencapai tabungan nganggur sebesar Rp100 juta. Diperlukan waktu sekitar 10 sampai 15 tahunan. Dan sebagian besar tidak mampu mencapainya alias gigit jari. Di sisi lain, tidak banyak orang yang memiliki peluang melakukan semacam “loncatan penghasilan”, kecuali melalui warisan atau mungkin melalui korupsi.

Dan begitu seseorang berhasil mencapai jumlah kekayaan nganggur sebesar Rp100 juta, mungkin hanya perlu waktu sekitar lima atau tujuh tahunan untuk menjadi dua kali lipat (Rp200 juta). Selanjutnya, kekayaan nggagur yang Rp200 juta hanya perlu dua-atau-tiga tahun untuk menjadi dua kali lipat lagi (Rp400 juta). Lalu kekayaan yang Rp400 juta, bisa bertumbuh menjadi Rp800 juta dalam durasi waktu sekitar satu-dua tahun. Ritme pertambahan ini yang dimaksud kekayaan bertambah berdasarkan deret ukur. Begitu seterusnya, sampai akhirnya kekayaan nganggur terus bertambah dan berlipat-lipat dalam hitungan bulan, minggu, hari bahkan menit. Fenomena ini pula yang menjelaskan ungkapan: “yang kaya makin kaya”.

Menghitung kekayaan orang lain memang asyik dan menggiurkan, dan dalam banyak kasus membingungkan. Kadang juga dianggap sebagai perilaku sirik atau dengki. Tapi untuk pengetahuan dan perbandingan, saya pikir nggak apa-apalah.

Cilakanya, pertambahan jumlah orang kaya, biasanya akan berbanding terbalik dengan pertambahan jumlah orang miskin.

Syarifuddin Abdullah | 22 Oktober 2019/ 24 Safat 1441H

Sumber foto: Global Wealth Report, Credit Suisse Research Institute, 2019 dalam The Economist, 22 Oktober 2019.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Syarifuddin Abdullah

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Pertempuran dan Adu Drone di Langit Ukraina

Senin, 13 Februari 2023 05:57 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua