Kalahkan Ribuan Peserta The Voice of Germany, Begini Kisah Claudia asal Cirebon - Seleb - www.indonesiana.id
x

Claudia Emmanuela Santoso

Dian Novitasari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 Oktober 2019

Senin, 11 November 2019 08:44 WIB
  • Seleb
  • Berita Utama
  • Kalahkan Ribuan Peserta The Voice of Germany, Begini Kisah Claudia asal Cirebon

    Dibaca : 4.008 kali

     

    Kisah Claudia Emmanuela Santoso,  seorang penyanyi asal Cirebon, Indonesia, masih menjadi buah bibir. Video penampilannya  diserbu  jutaan penonton di media sosial. Claudia menjadi  juara ajang pencarian bakat menyanyi The Voice of Germany musim kesembilan.   Acara ini ditayangkan di dua televisi nasional Jerman, Prosieben dan Sat.1 pada tahun 2019

    "Selamat, Claudia Emmanuela Santoso memenangkan The Voice of Germany musim ke-9,"  begitu ucapan dalam  akun resmi Instagram The Voice of Germany,  11 November 2019.

    Claudia Emmanuela Santoso

    Di final  Claudia membawa lagu "I Have Nothing" yang dipopulerkan Whitney Houston.  Penampilannya dalam dilihat di akun akun YouTube The Voice of Germany.  Suara Claudia  amat tinggi, jernih.   Ia memukau para juri dan menyihir penonton  di Studio H Adlershof, Berlin.

     
    Di babak final Claudia berhadapan dengan kontestan lainnya, yakni Lucas Rieger, Fidi Steinbeck, Freschta Akbarzada, dan Erwin Kintop. Ia akhirnya mendapat hasil voting tertinggi.


    Lahir di Cirebon, 27 Oktober 2000,  Claudia pernah mengkuti ajang lomba menyanyi tingkat anak-anak yaitu Mamamia yang ditayangkan di Indosiar pada tahun 2014.  

     

    Kisah Claudia
    Seperti ditulis oleh BBC Indonesia, Claudia yang sudah sering berlatih dan  ikut lomba nyanyi,  mengadu nasib ke Jerman pada 2018. Ia berniat  melanjutkan studi di Kota Muenchen.  Nah, sebelum  kuliah di universitas, sistem pendidikan Jerman mewajibkan pelajar asing menempuh les bahasa Jerman.

    Claudia pun menjalani les bahasa selama setahun kemudian mendaftar ke perguruan tinggi yang ia minati. Sayangnya, belum berhasil.

     


    Peluang yang lain lalu datang.   Awal tahun ini,  Claudia melihat iklan yang berisi jadwal audisi The Voice of Germany yang dimulai pada Februari 2019.  Ia pun  tertarik dan ingin mencoba mendaftar ajang pencarian bakat tersebut. 

    Claudia mengatakan, setiap harinya audisi dimulai pada pukul 10.00 hingga 18.00 waktu setempat.
    Setiap jam ada sebanyak 100 peserta yang dibagi dalam empat rombongan. Setiap rombongan ada 25 peserta yang bersaing. Menurut Claudia, peserta The Voice of Germany bukan hanya setiap orang yang tinggal di Jerman. Ada pula  peserta dari Austria dan Swiss.

    Menurut Claudia. dalam sehari ada 800 orang yang audisi. Audisi di Muenchen itu dua hari. Jadi ada 1.600 orang. "Itu belum termasuk di kota-kota lain," tuturnya.

    Begitulah perjuangan Claudia,  gadis asal Cirebon itu.  Ia berhasil lolos dalam setiap tahap lomba hingga akhirnya ke final  dan menang.  (Artikel ini telah di update pada 12/11/2019)

    ****

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Admin

    2 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 599 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).