#SeninCoaching: Jebakan Pemimpin, Termasuk Presiden, adalah Meremehkan ‘Aql - Analisa - www.indonesiana.id
x

Erik Weihenmayer, pendaki buta di Everest

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 18 November 2019 15:22 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • #SeninCoaching: Jebakan Pemimpin, Termasuk Presiden, adalah Meremehkan ‘Aql

    Dibaca : 4.415 kali

    #Leadership Growth: Be Wiser During Downhill

     

    Mohamad Cholid, Practicing Certified Executive and Leadership Coach

    Orang Nepal menyebutnya Sagarmatha atau Jidat Langit. Warga Tibet menamainya Chomolangma atau Induk Alam Semesta. Itulah Gunung Everest, yang dikenali (discovered) oleh George Everest, Surveyor General India dari 1830 – 1843. Dikenal sebagai gunung tertinggi di dunia (lebih dari 29 ribu feet), Sagarmatha diperkirakan terbentuk 60 juta tahun silam.

    Meraih puncak Everest merupakan impian para pendaki dari seluruh dunia, 4000-an orang sudah mengupayakannya. Latihan-latihan, kedisiplinan dan ketabahan menghadapi tantangan mencapai setiap base camp, sampai kemudian pendakian ke puncak Everest, sering dijadikan analogi kegigihan dan ketekunan orang-orang yang meraih puncak sukses–-dalam karir, bisnis, politik, dan kehidupan pribadi.

    Terkait Everest, ada yang perlu kita camkan: satu dari 10 pendakian yang berhasil ke puncak (successful summits) berujung kematian. Dan 70% kematian justru terjadi saat proses menuruni gunung.

    Apa yang sesungguhnya terjadi pada para pendaki yang sudah meraih puncak sukses yang didambakan banyak orang tersebut, sehingga saat turun berguguran?

    Kenapa para pendaki itu tidak belajar pada Erik Weihenmayer, orang buta pertama yang sukses mencapai puncak Everest (25 Mei 2001) dan memimpin seluruh tim balik ke rumah semua selamat?

    Atau, apa yang menghalangi para pendaki (yang tewas saat menuruni gunung itu) ketika masih hidup dan fit mempelajari cara dan disiplin Yuichiro Miura, yang pada usia 80 tahun berhasil ke puncak Everest (23 Mei 2013) dan pulang sehat? Sampai saat ini Yuichiro Miura masih pegang rekor sebagai orang tertua di dunia yang berhasil sampai puncak Everest.

    Para ahli berpendapat, penyebab kematian saat turun gunung umumnya ego para pendaki itu. Mereka enggan belajar dari orang lain secara sungguh-sungguh, ditambah rasa puas diri yang berlebihan, sehingga kehilangan kendali diri.

    Mereka diindikasikan telah meremehkan ‘aql (Bahasa Arab, arti harafiahnya “tali”, untuk mengekang manusia dari kecerobohan, berbuat salah). Sementara Erik Weihenmayer dan Yuichiro Miura sangat disiplin (konsisten menggunakan ‘aql), memanfaatkan tali, peralatan-peralatan mendaki dan menuruni gunung, sebagaimana pendaki profesional.

    Hari ini, dalam kegiatan bisnis, organisasi nonprofit, sampai pemerintahan, banyak pemimpin masih cenderung memperlihatkan perilaku yang meremehkan ‘aql – tali-temali yang merajut para pemangku kepentingan agar secara bersama-sama membangun kehidupan lebih bermanfaat bagi banyak orang.

    Konflik dagang antar bangsa (seperti RRT dan AS), kemelut politik domestik, dan ketidakharmonisan publik dengan penyelenggara negara adalah indikasi para pemimpinnya, bahkan bisa jadi presidennya juga, telah mengenyampingkan ‘aql.

    ‘Aql sepertinya telah menjadi kurang penting buat mereka, dibanding ego (pribadi dan kelompok), rasa puas diri berhasil meraih puncak sukses dan jabatan.

    Indikasi para eksekutif dan pemimpin cenderung meremehkan ‘aql setelah meraih sukses, bisa dilihat antara lain dari hasil observasi lebih dari 20 tahun Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching (MGSCC) membantu meningkatkan efektivitas para successful leaders di ratusan organisasi di sejumlah negara.

    Ada tiga macam keyakinan (belief), orang-orang sukses yang dapat membuat mereka khilaf, bisa kehilangan ‘aql dalam memimpin tim dan dalam kehidupan pribadi masing-masing.

    #1: I am Successful. Positifnya, mereka bersungguh-sungguh mengaplikasikan kemampuan dan tenaga untuk meraih tujuan. Negatifnya: belebihan menilai kemampuan diri, menolak masukan dari pihak lain yang tidak sesuai dengan citra diri mereka, dan meremehkan orang-orang yang belum sukses seperti mereka.

    #2: I Choose to Succeed. Sisi positif: Komitmen kuat melaksanakan tugas, dengan ownership tinggi. Negatifnya: Menolak berubah, karena ingin memperlihatkan kekuasaannya, ego-nya. Perubahan mereka anggap dapat mengganggu gambaran tentang dirinya, lalu mengatakan, "Kalau berubah bukan gue lagi, dong".

    #3: I will Succeed. Hal positif mereka: Optimisme tinggi, persisten maju terus dalam kondisi apa pun. Negatifnya: Ingin selalu menang “at all cost”, membahayakan diri akibat “over commitment”.

    Orang-orang dengan kecenderungan di atas adalah tipe yang pantang menyerah. Kalau dikaitkan dengan para pendaki Everest, mana ada di antara mereka yang gampang surut menghadapi keganasan cuaca yang tak terduga di sepanjang pendakian? Buktinya mereka, yang di dalam organisasi maupun yang di Gunung Everest, sukses sampai puncak.

    Persoalan timbul justru karena kesuksesan mereka itu, sebagaimana dialami para eksekutif dan pemimpin di organisasi bisnis, nonprofit, dan pemerintahan. Karena merasa sudah sukses, mereka cenderung tidak mau berupaya lagi fokus memperbaiki diri. Kondisi seperti ini melanda semua level pemimpin, dari manajer/kepala bagian, para VP, apalagi para direktur – bahkan presiden.

    Success can lead to arrogance. When we become arrogant, we quit listening. When we quit listening, we stop changing. In today’s rapidly moving world, if we quit changing, we will ultimately fail,” kata seorang CEO salah satu perusahaan di list Fortune 100, yang telah mengalami naik turunnya kondisi ekonomi.

    Tugas kita adalah secara konsisten dan disiplin mengukur diri sendiri secara periodik, bagaimana cara kita memimpin dan kualitas kita melakukan eksekusi. Melibatkan para stakeholders untuk memberikan saran jelas sangat membantu. Untuk menjadi lebih baik tiap hari, "Do every act of your life as if it were your last,” kata Marcus Aurelius, satu dari lima Kaisar Roma terbaik.

    Kalangan eksekutif dan leader Muslim yang bersedia rendah hati, berkeinginan kuat mengendalikan diri, dapat mencontoh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang diriwayatkan sering berdo’a: “Rabbi, la takilni ila nafsi tharfata ‘ain (Tuhan Pemeliharaku, janganlah Engkau menyerahkan aku kepada diriku sendiri, walau hanya sekejap)” -- dikutip dari uraian tentang Surah Ath-Thariq [86] mengenai keterbatasan pengetahuan manusia terhadap dirinya (M.Quraish Shihab: Tafsir Al-Mishbah, Lentera Hati, 2009).  

     

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    • Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching
    • Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (https://sccoaching.com/coach/mcholid1)


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


    Oleh: Salsabila Zulfani

    1 jam lalu

    Covid-19, Membuat Tugas Auditor Menjadi Sulit?

    Dibaca : 20 kali

    Covid 19 adalah virus yang menyerang sisem pernapasan. Virus corona dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru berat hingga kematian. Pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hampir setiap hari ribuan bahkan ratusan korban infeksi virus corona meregang nyawa. Perekonomian negara terganggu bahkan banyak perusahaan yang harus mengurangi pegawai supaya tidak bangkrut. Dampak Covid 19 ini memang cukup banyak bagi negara terdampak. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia?. Indonesia sudah berusaha sedemikian rupa untuk mencegah penularan virus Covid 19 ini,hingga pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ). Bekerja dan belajar dari rumah, hal ini mungkin tidak terlalu sulit sebab teknologi yang semakin canggih di masa sekarang ini. Lalu bagaimana dengan profesi yang harus bekerja turun lapang atau outdoor? Auditor misalnya?. Auditor harus menyambangi perusahaan klien sehingga dapat dengan mudah mengamati sistem pada perusahaan klien. Mengamati bagaimana SOP atau bagan alur setiap kegiatan perusahaan, seperti penjualan, pembelian dan aliran kasnya. Bagaimana auditor harus bekerja dari jarak jauh?. Strategi bagi auditor yang harus bekerja jarak jauh meliputi perencanaan audit, pemeriksaan/pengkajian dokumen, kerja lapangan/melakukan pengamatan, wawancara terhadap pihak yang terkait, dan pertemuan penutupan. Berikut penjelasan singkatnya. Perencanaan Perencanaan audit merupakan hal yang sangat penting di setiap pengauditan. Namun hal ini akan sulit jika pihak klien ada di lokasi yang jauh ataupun sulit terjangkau ( terpencil ). Sementara tahap perencanaan audit ini harus dibahas dengan klien. Informasi yang dapat dibahas dalam tahap ini adalah ruang lingkup perusahaan serta perncanaan jadwal kapan kegiatan audit akan di mulai, tak lupa memberi informasi kepada klien mengenai keterbatasan perihal proses kegiatan audit jarak jauh ini. Serta info apa saja yang akan dibagikan dan dengan tunjangan media atau teknologi apa yang digunakan. Berdasarkan kebutuhan diatas, auditor dapat menghabiskan waktu dua kali lebih banyak guna membahas perencanaan ini. Teknologi yang dapat digunakan dalam hal ini seperti vidio conference dan powerPoint untuk menyampaikan informasi/materi atau dapat menggunakan panduan visual lainnya. Pemeriksaan/Pengkajian Dokumen Pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh akan memakan waktu cukup banyak serta tak luput dari keterbatasan. Dalam hal ini auditor harus mampu menerima dokumen dalam bentuk/format apapun yang paling mudah diperoleh oleh klien sehingga dapat meminimalisir beban yang ada. Pertimbangan terkait aksesibilitas sistem file digital yang digunakan klien untuk menyimpan rekaman catatan tersebut harus diberikan. Pertimbangan strategi audit yang baik dan tepat juga harus dipikirkan oleh auditor untuk pemeriksaan ataupun pengkajian dokumen, pengambilan sampel dapat menjadi alternatif terbaik. Tergantung pada jumlah rekaman catatan yang ada. Terlepas apakah auditor memeriksa semua atau sebagian dari data yang tersedia. Tidak seperti pemeriksaan/pengkajian rekaman catatan di lokasi, pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh biasanya tidak memungkinkan untuk memberikan pertanyaan langsung pada saat yang sama. Auditor harus mencatat ataupun menulis hal-hal yang patut dipertanyakan pada klien saat melakukan proses pemeriksaan/pengkajian dokumen, dan dapat ditanyakan saat wawancara jarak jauh. Kerja Lapangan/Pengamatan Hal ini mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit bagi audit jarak jauh, pasalnya hal ini biasanya dilakukan dengan menyambangi perusahaan klien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan vidio conference ataupun livestreaming. Walaupun tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada seperti ketersediaan Wi-Fi, lokasi kerja klien yang berada di tempat terpencil dan kebisingan yang mungkin akan mengganggu proses audit ini. Tidak banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan observasi jarak jauh. Sebab penayangan vidio hanya pada satu titik dan auditor akan kesulitan untuk melakukan pengamatan. Alternatif lain yang dapat diambil adalah dengan foto digital yang dapat diambil dari smartphone milik klien ataupun milik perusahaan. Hal ini dapat menimalisir kendala jaringan yang tidak memungkinkan melakukan vidio conference. Dari hasil pengamatan, audit dapat membuat catatan dan menyiapkan pertanyaan. Wawancara Terhadap Pihak yang Terkait Dalam hal ini mungkin tidak jauh beda dengan wawancara langsung, hanya perlu media penghubung seperti panggilan vidio ataupun semacamnya misalnya Google Meet, Skype dan Zoom. Auditor perlu melakukan perencanaan wawancara seperti berapa lama waktu yang diperlukan dan kepada siapa saja pihak yang perlu diwawancarai. Misalnya dengan penanggung jawab kegiatan, pemegang keluar dan masuknya kas ( kasir ), bagian gudang, penerimaan barang, dan personil lain yang bertanggung jawab dalam mendukung fokus audit. Persiapan wawancara jarak jauh membutuhkan waktu tambahan bagi auditor, serta auditor harus siap dengan daftar pertanyaan dan hal-hal terkait informasi tambahan apa saja yang dibutuhkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebelumnya. Keterbatasan wawancara jarak jauh ini juga dapat terjadi ketika personil yang diwawancarai merasa canggung, gugup atau tidak nyaman dengan panggilan vidio oleh sebab itu, pemilihan kata dan penempatan intonasi yang bagus dan tepat akan dapat membuat wawancara menjadi tidak tegang. Pertemuan Penutupan Pertemuan penutupan audit jarak jauh memiliki konsep yang sama dengan pertemuan penutupan secara langsung, mungkin memang memerlukan media penghubung. Penjadwalan penutupan ini harus dipertimbangkan oleh auditor, minimal dua hari setelah melakukan wawancara. Sehingga auditor dapat mengkaji kembali catatannya dan menyusun rancangan awal hasil audit. Pertemuan penutupan ini dimaksudkan untuk mrmpresentasikan rancangan awal hasil audit kepada klien, menyelesaikan pertanyaan/permasalahan serta melakukan pembahasan lebih lanjut untuk hasil final audit, yaitu opini dari auditor. Kesimpulan yang dapat di ambil ialah penggunaan teknologi secara praktis. Inovasi dan transformasi teknologi menjadi fokus bisnis serta progam audit di seluruh dunia. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan lebih lanjut mengenai proses audit jarak jauh. Terdapat beberapa teknologi berkembang yang dapat menunjang kegiatan tersebut antara lain vidio livestreaming, Virtual Reality ( VR ), pesawat tak berawak ( drone ) dan lainnya. Namun semua teknologi pastilah diperlukan biaya tambahan yang mungkin malah mengakibatkan auditor merugi. Jadi pilihlah teknologi yang sesuai dengan bayaran yang diterima. Proses audit jarak jauh bukanlah satu-satunya solusi yang tepat untuk semua masalah. Hal ini bukan pula sebagai pengganti pelaksanaan audit secara langsung. Namun sebagai bagian dari alternatif yang dapat dilakukan di masa pandemi ini.