Pada Sebuah Kapal - Ketika Pernikahan Menjadi Kungkungan - Analisa - www.indonesiana.id
x

Cover buku pada Sebuah Kapal

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 29 November 2019 16:09 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Pada Sebuah Kapal - Ketika Pernikahan Menjadi Kungkungan

    Dibaca : 493 kali

    Judul: Pada Sebuah Kapal

    Penulis: Nh Dini

    Tahun Terbit: 2018 (cetakan kesepuluh)

    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama                                                                    

    Tebal: 356

    ISBN: 978-979-22-4972-9

     

     

    Dalam novel ini, NH Dini sepertinya menggunakan sebgaian dari kisah hidupnya sebagai bahan alur novel. Nh Dini memang pernah menjadi penyiar RRI di Semarang. Setelahnya ia menjadi seorang pramugari Garuda Indonesia. Saat menjadi pramugari inilah ia bertemu dengan seorang diplomat Perancis bernama Yves Coffin, yang kemudian menjadi suaminya. Dari perkawinannya tersebut Dini dikaruniai dua anak. Seorang anak perempuan dan seorang anak lelaki. Setelah menikah dengan sang Diplomat, Dini mengikuti suaminya tinggal di Jepang. Ia kemudian melanglang hidup di Eropa.

    Kisah hidup inilah yang dijadikan alur dalam novel berjudul “Pada Sebuah Kapal.” Tentu kita tidak pernah tahu apakah Dini pernah mempunyai pacar serius seorang penerbang. Pacar yang sangat dikasihinya sehingga Dini rela menyerahkan kegadisannya kepadanya. Sayangnya sang kekasih ini gugur dalam sebuah penerbangan.

    Kita juga tidak tahu apakah pilihannya menikah dengan sang Diplomat adalah disebabkan oleh gagalnya pernikahannya dengan sang Penerbang. Namun dalam novel ini Dini jelas sekali menggunakan kisah hidupnya untuk dijadikan bahan cerita. Selanjutnya, seperti galibnya sebuah novel, karya Dini ini memberikan lika-liku kehidupan seorang perempuan yang ingin bebas dari kungkungan tradisi.

    Tokoh “Sri” dalam novel ini digambarkan sebagai seorang perempuan muda yang pandai menari. Sri sangat ingin melihat dunia-dunia lain, diluar tempat hidupnya selama ini: Semarang. Sri rajin belajar Bahasa Inggris. Ia ikut seleksi menjadi pramugari. Meski dia gagal karena memiliki masalah di paru-paru, namun diatnya untuk tinggal di Jakarta tidak terbendung. Ia menumpang di rumah pamannya di Jakarta. Kadang-kadang Sri datang ke rumah Sutopo, kakaknya lelaki yang lebih dulu meniti karier di Jakarta sebagai seorang pelukis.

    Sri pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai penyiar sekaligus sebagai penari. Sri sering menari di Istana. Di Jakarta Sri berkenalan dengan teman-teman Narti. Narti adalah teman Sri yang lolos jadi pramugari. Salah satu penerbang itu – Saputro, jatuh cinta kepada Sri. Mereka saling suka. Dalam sebuah kesempatan, Saputro dan Sri menikmati cintanya di rumah pamannya yang kebetulan kosong. Mereka memang sudah merencanakan pernikahan. Namun sayang, Saputro gugur dalam sebuah penerbangan.

    Carl seorang pemuda kaya teman Sutopo jatuh cinta kepada Sri. Namun Sri lebih memilih Charles Vincent, seorang diplomat Perancis yang tidak terlalu dikenalnya. Sri hanya mengenal Charles dari surat-surat yang saling dikirimnya. Sri berkeputusan untuk memilih Charles karena Charles lebih perhatian kepada Sri dan tidak suka menonjolkan kekayaannya, seperti halnya Carl. Pernikahan Sri dengan Charles segara dilakukan karena Charles mendapat tugas ke Jepang.

    Sayang sekali, ternyata Charles adalah seorang lelaki yang kasar. Charles suka sekali memarahi Sri untuk hal-hal sepele. Bahkan memarahi Sri di depan teman-teman Charles. Kejadian makan malam dengan teman-teman Charles membuat Sri begitu marah. Sejak kejadian itu hubungan Charles dan Sri menjadi dingin. Kalau Sri masih mau melayani Charles itu disebabkan karena ia melakukan kewajibannya sebagai istri. Tidak lagi karena cinta. Tidak lagi ada gairah.

    Dalam perjalanan dari Jepang ke Eropa, Charles memilih untuk mampir ke India. Sri dan anak perempuannya yang masih kecil dibiarkan naik kapal sendiri. Di kapal inilah akhirnya Sri membiarkan dirinya menikmati kesenangan bersama salah satu kru kapal bernama Michel. Sri merasa bahwa ia juga punya hak untuk menikmati hidupnya. Meski awalnya dia mempertanyakan apakah dia telah mengkhianati kesetiaannya kepada suami, tetapi kemudian Sri berpendapat bahwa apa yang dilakukannya adalah sesuatu untuk menikmati haknya sebagai manusia perempuan.

    Setelah kembali berkumpul dengan Charles, Sri berupaya untuk memperbaiki hubungannya dengan suaminya tersebut. Namun ternyata sang suami memang tidak bisa berubah. Meski sang suami sangat mencintai Sri, tetapi perilakunya sangat tidak disukai oleh Sri. Sementara Sri yang meragukan cintanya kepada suaminya justru berupaya untuk memperbaiki hubungan.

    Setelah yakin bahwa hubungan suami istri tak lagi bisa dipertahankan, Sri minta cerai. Proses cerai belumlah sampai terjadi. Namun Sri sudah merasa menjadi perempuan bebas untuk menentukan hidupnya sendiri. Ia kembali menari, membantu organisasi-organisasi sosial dan menikmati kesenangan dengan melakukan perjalan-perjalan. Saat itulah kegundahan untuk memformalkan hubungannya dengan Michel terjadi. Apakah memformalkan cinta dalam pernikahan adalah sebuah keputusan yang tepat? Atau membiarkan hubungan cinta terjadi di luar pernikahan sehingga tidak terjadi saling menuntut kewajiban kepada pasangan untuk bersikap dan menunjukkan rasa cintanya?

    Pada bagian kedua dalam novel ini, Dini bercerita dari sudut pandang Michel. Diawali dengan masalah pernikahan Michel yang tidak bahagia, sampai dengan pertemuannya dengan Ny. Vincent yang adalah Sri. Persahabatannya selama perjalanan kapal membuat Michel jatuh cinta kepada Sri.

    Pada Sebuah Kapal mengisahkan dua insan yang tidak bahagia dalam perkawinannya. Sri yang tergesa-gesa menikah dengan Charles Vincent dan Michel yang menikah dengan Nichole. Sri menemukan bahwa Charles tidak seperti yang dibayangkan sebelum menikah. Demikian pula dengan Michel yang kecewa dengan Nichole. Kedua insan yang kecewa dengan perkawinan ini tetap mempertahankan keluarga. Namun mereka mencari cinta di luar pernikahan.

    Menarik untuk melihat mengapa Sri dan Michel tidak bahagia dalam pernikahannya. Ternyata keduanya menemukan bahwa pasangannya tidak lagi menghargai. Tidak ada lagi kemesraan yang dulu sangat mewarnai hubungan sebelum menikah. Baik Sri maupun Michel mempunyai persepsi yang salah terhadap pasangannya. Harapan untuk diperlakukan dengan cara tertentu ternyata tidak didapat dari pasangannya. Hubungan menjadi hambar setelah pernikahan. Dalam kondisi yang demikian wajarlah jika masing-masing mencari cinta di luar keluarga.

    Jika pernikahan menjadi sebuah kungkungan, apakah yang harus dilakukan?


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.