x

Kawasan Tugu Jogja menjadi persinggahan sebelum wisatawan menyambangi Malioboro. TEMPO/Pribadi Wicaksono

Iklan

fancy mili

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 Desember 2019

Senin, 16 Desember 2019 12:53 WIB

Mengintip Keunikan Angkringan Khas Yogyakarta

Angkringan identik dengan makanan tradisionalnya serta gerobak kayunya yang unik. Salah satu kota yang identik dengan angkringan adalah Yogyakarta. Angkringan di Yogyakarta memiliki suasana tradisionalnya yang khas dengan makanan dan minuman tradisionalnya serta gerobak kayunya yang masih di dorong.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Udara malam menemani langkahku menuju sudut-sudut Kota Yogyakarta. Di kejauhan terlihat warung makan sederhana dengan cahaya remang-remang.Terlihat banyak pengunjung yang duduk beralaskan tikar sedang bercakap-cakap ditemani secangkir minuman hangat. Langkahku tertuju pada sebuah warung makan gerobak dorong dengan atap ditutupi terpal plastik.

Angkringan adalah warung makan sederhana dengan menggunakan gerobak dorong dan ditutupi terpal plastik sebagai atapnya. Keunikan dari angkringan ini terletak pada gerobak dorongnya yang serba guna.

Selain digunakan untuk memanaskan air dan memasak, gerobak angkringan ini juga berfungsi sebagai tempat menaruh makanan dan sebagai meja makan para pembeli. Angkringan ini sangat terkenal di Yogyakarta, dan menjadi salah satu ikon kuliner di Yogyakarta.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Awal berdirinya angkringan bermula dari para pedagang minuman dan makanan kecil yang tidak menggunakan gerobak, melainkan pikulan dahulu yang disebut pedagang hik. Nama hik bermula pada tradisi malam selikuran (malam ke-21) di Keraton Surakarta.

Pada malam tersebut kota berhiaskan lentera yang dibawa para pedagang makanan. Para pedagang itu biasanya berteriak “Hiik……. iyeeeek…”. Sampai sekarang istilah tersebut masih dipakai di Solo. Namun, di Yogyakarta mereka populer dengan nama angkringan atau warung kucing.

Nama angkringan diambil dari Bahasa Jawa, yaitu ngankring yang artinya duduk dengan posisi salah satu kaki lebih tinggi dari kaki lainnya. Di dalam budaya Jawa, cara duduk seperti ini biasanya tidak diperbolehkan karena dianggap tidak etis apalagi bila dilakukan pada saat makan.

Seperti yang disebutkan di atas, biasanya ada juga beberapa orang yang menyebut angkringan dengan nama warung kucing.

Kata “warung kucing” diambil dari porsi makannya yang seperti porsi makan kucing. Porsi nasinya kira-kira hanya 1/3 porsi nasi pada umumnya dengan berbagai macam lauk pauk yang terdapat di dalam nasi angkringan tersebut.

Makanan dan minuman yang dijual di angkringan ini kalau dilihat, sebenarnya bukanlah makanan cepat saji. Bukan halnya seperti masakan cepat saji pada umumnya seperti KFC atau MCD.

Meskipun konsumen dapat langsung mengkonsumsi makanan atau minuman yang tersaji di sana saat angkringan tersebut dibuka. Akan tetapi, ada beberapa makanan dan minuman yang tetap membutuhkan proses yang memakan waktu sebelum dijual.

Berbagai macam makanan yang ada di angkringan, antara lain, nasi kucing yang berisi sambal teri/oseng tempe, aneka gorengan seperti tempe, tahu, pisang, bakwan, risol, risoles, lumpia, dan martabak. Serta tidak lupa ada aneka sate-satean, seperti usus, telur puyuh, kerang, hati, ampela, jantung, dan kulit. Ada juga beberapa baceman seperti tahu, tempe, gembus, dan kepala ayam.

Aneka gorenngan dan sate-satean tesebut dapat dibakar. Selain makanan yang sudah disebutkan di atas terdapat minuman yang menjadi kekhasan angkringan, yaitu wedang jahe.

Tentunya minuman yang lain seperti teh, jeruk, susu jahe, kopi, lemon tea, dan susu. Minuman yang ada di atas dapat disajikan panas maupun dingin tergantung keinginan konsumen.

Harga makanan dan minuman di angkringan relatif murah. Namun, harga setiap angkringan berbeda-beda, untuk gorengan dibandrol dengan harga Rp500,00, nasi kucing Rp2.000,00, sate-satean Rp1.500,00-Rp2.000,00, baceman Rp1.000,00, kepala ayam Rp3.500,00, wedang jahe Rp2.500,00 jeruk dan teh Rp2.000,00.

Hal yang harus diingat oleh wisatawan yang ingin mencoba angkringan adalah hidangan yang disajikan tidak sama antara angkringan satu dengan yang lainnya seperti halnya yang dijelaskan di paragraf sebelumnya. Kesamaan angkringan satu dengan angkringan lainnya adalah mudah sekali ditemukan karena ciri khasnya, yaitu gerobak kayu yang didorong dengan atap berlapis terpal plastik. Selain itu juga makanan dan minuman dengan harga yang relatif murah, dan terdapat bungkusan nasi kucing yang membuat kekhasan bagi pedagang angkringan.

Dalam menunjang kenyamanan konsumen, pedagang angkringan juga menyediakan beberapa fasilitas yang dapat memberikan kesan santai dan nyaman seperti tenda, dingklik (kursi panjang tanpa sandaran), tikar bagi pengunjung yang ingin lesehan, dan lampu yang remang-remang.

Kondisi yang seperti inilah yang memberikan kekhasan bahwa angkringan berbeda dengan warung tenda pada umumnya. Kekhasan angkringan yang lainnya adalah pembeli dan pengunjung bebas untuk nongkrong atau duduk-duduk sembari membicarakan hal-hal apa pun.

Di angkringan ini pula sering menjadi tempat berkumpulnya berbagai komunitas mulai dari pelajar, tukang becak, pekerja kantoran, hingga mahasiswa. Dan tempat ini biasanya sering menjadi salah satu sumber informasi terbaru bagi para konsumen.

Pelanggan tetap angkringan pada umumnya ialah mahasiswa. Mahasiswa dan angkringan menjadi hal yang sulit untuk dipisahkan. Batas sosial tidak berlaku lagi di tempat ini. Semua kalangan berbaur menjadi satu, saling berinteraksi satu sama lain tanpa memandang kelas sosial para konsumennya.

Ikuti tulisan menarik fancy mili lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Interpolasi

Oleh: Taufan S. Chandranegara

22 jam lalu

Terpopuler

Interpolasi

Oleh: Taufan S. Chandranegara

22 jam lalu