Ibuku Seorang Feminis - Analisa - www.indonesiana.id
x

Wanita Tangguh

Bunk ham

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Januari 2020

Rabu, 15 Januari 2020 13:48 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Ibuku Seorang Feminis

    Dibaca : 377 kali

    Tidak ada yang tahu bahwa perjuangan, keringat dan jerih payah mereka adalah energi yang tidak bertepi. Semangat yang tak terhingga dan tubuhnya tak lekam membuat dirinya tanpa mengenal panas. Untuk itu sebagai sosok seorang anak, tentu banyak hal yang harus dilakukan. Selain sebagai pribadi yang baik, juga harus taat, tundut atau pun patut padanya. 

    Bagi dia dan aku, adalah seorang "anak" bisa lahirkan, bila tahu antara kebiadapan dan kelumrahan itu jalan kanan kenormalan manusia. Tidak ada yang lebih naif, baik ataupun sakral tentang kemanusiaan semasih nafas dan denyut masih berbunyi.

    Sebagai anak normal, aku hanya saja, lahir dari rahim seorang ibu; penuh keringat dan darah yang mengguyur. Tapi Tuhan masih berkenan dan memberi aku untuk hidup. Di atas teras kefasikan dan memori kelumpuhan akalku.

    Semasih aku hidup, dunia hanya berarti “tikar” bukan rumah tempatku berteduh. Yang paling surya mengantarkan aku untuk mengenal alam, Tuhan, dan langit bukan pahlawan, aktifis, dan cendekiawan. Melainkan dia seorang feminis.

    Darahku mengalir di setiap sekujur keringatnya. Mataku tercerabit melihat kepedihan. Dan tubuhku tercambuk mendengar keperihan dan kesakitan hidup. Walau dia bukan aktifis, dan pahlawan namun lebih layak aku panggil dia seorang “ilmuan” ya, seorang ilmuan.

    “Aku mengenal Tuhan karena akal, dan aku mengenal ibu karena hati”.

    Berkat pendidikanya, dia tahu bagaimana menanamkan cinta, dan membuahkan perasaan. Ia tidak pernah tidur dan malas beristirahat walau hanya kecapain itu sakit. Bagi dia keringat adalah do’a dan harapan itu cinta. Cinta dimana mimpi mengantarkan dia umrah, haji atau bahkan ke surga.

    Sungguh indahnya dunia bagi mereka bila hati mendamaikan perasaan dan menyejukan pikiran. Tapi apa boleh buat manusia tidak bersahabat dengan bumi. Cukup bagi mereka bergelut dengan akal, iman dan kecerdasan hatinya “berbicara”. Segala kadar emosi, seni dan cinta telah tertabur dan tertuai kedalam hatinya.

    Kalau memang kita cerdas dan berpengetahuan tinggi, kira-kira siapa yang tahu hatinya sedang merasakan apa? Atau jiwa, pikiran sedang berkecamuk?

    Apakah ia sedang bahagia atau gelisah?

    Tentu, tidak setiap seorang anak mampu menakar dan membunuh perasaan orang tuanya. Terkadang seorang anak taat, tunduk, dan patut pada orang tua. Tetapi justru berubah menjadi pembangkang. Dan banyak seorang anak pembiadab, laknat dan kekejian pada seorang ibunya, justru halus, berubah selembut kain sutra.

    Itulah manusia, jika dilahirkan banyak pertanyaan dan jika ditelusururi, pasti banyak jawaban. Kontradiksi dan perselisihan anak adalah dialektika perubahan etik, sikap dan kecendrungan karakter yang tidak akan selesai.

    Bila dongeng dan cerita “malin kundang” diputarkan kembali maka lebih baik aku tidak dilahirkan saja. Tetapi aku berkata lain! untuk apa hidup bila nasib dipatahkan dan dibodohi.

    Orang cerdas itu adalah orang percaya kemampuan diri, orang bodoh adalah orang mudah percaya nasib, dan orang cerdas itu orang yang mampu bertahan, dan orang bodoh adalah orang cepat putus asa.

    Mungkin mereka tidak akan paham, di balik kesengsaraan ada kekuatan dan janji yang diuji oleh tuhan. Bersama itu, segala keresahan dan kesulitan bisa ditukar dan diciptakan kembali. Ada imajinasi yang tersembunyi dan ada harapan yang dibawakan kepuncak langit.

    Bila usaha, iman, dan belajar membuat aku bangit maka semangatlah “menggantungkan aku berdiri”.

    Ini yang kemudian saya katakan dan merenungkan kembali, begitu lekam, berharga dan pentingnya pendidikan orang tua. Sehingga tidak pernah menjadi soal bahwa hal mengasuh, mengasih dan mengasah itu hanya terbatas pada pekerjaan ibu, namun ada yang lebih abadi yaitu, keluasan cinta atas kepedulian dan hak akan kemanusiaan dengan manusia lainnya.

    Dia bukan R.A Kartini seorang pahlawan nasional, yang berfikir atas kebebasan dan hak-hak perempuan, harus diperlakukan dengan hal yang sama, dan dia bukan juga Leo Tolstoy penulis ternama asal Rusia yang bisa mengatakan “perempuan hanya bisa mengabdikan diri bagi suami dan anak-anaknya".

    Tetapi dia seorang “buta aksara”, yang setelah disematkan oleh orang tuanya tamat disekolah pendidikan dasar, maka disitulah pengetahuan melangit, hati yang merendah dan semangat penuh cinta.

    Semua beban, tanggung jawab dan pengalaman diambil dari keringat dan di lingkungan tidak mengenal siapa. Semua harus di pertanggungjawabkan kembali. Bagi mereka seorang anak adalah harta yang paling berharga, bukan tanah, emas, dan warisan yang menjulang tinggi.

    Dari sejak itu terlihat, jiwa feminis “memanusiakan manusia’’ harus dinobatkan pada kecerdasan akal, pikiran dan pengetahuan bukan uang berlipat, rumah yang mewah, dan istana yang mencakar atau sejenis apapun lainya.

    Ini yang Kemudian soal-soal kekayaan, kemanusian, keadilan, kebebasan, kemiskinan dan kebodohan melingkar dan bahkan melangit. Untuk apa semua itu jika tidak ada jawaban. Lebih baik retakan pendidikan, bunuhlah orang tua dan matikan lingkungan.

    Untuk apa hidup kalau tidak bermakna dan berarti!

    Mungkin 300 ribu tahun yang akan datang manusia tidak menganggap lagi bahwa dirinya tidak dilahirkan oleh ibunya didunia melainkan produktifitas mesin dan hasil temuan biotek dan infotek. 

    Seperti gemparnya ucapan yang diungkapkan oleh seorang ahli fisika modern, Stephen Hawking menyatakan "tidak ada lagi tempat untuk Tuhan ". Seluruh neoron otak dan tubuh manusia diproduksi oleh biokimia dan diolah oleh bioteknologi.

    Oleh karena itu, tidak ada lagi ibu ataupun orang tua. Yang ada hanya seorang dokter digantikan oleh kiyai, pilot digantikan oleh robot, begitu pula uskup ataupun pendeta. Dan seorang manusia juga digantikan oleh mesin dan sistem aplikasi.

    Lagi-lagi sekarang Program Google Alphazero memiliki koneksi dan link 700 juta miliaran pengalaman manusia. Melalalui kecerdasan, segala pengalaman dan kejeniusan. Ia canggih dan mampu menyelesaikan masalah dalam waktu empat jam perhari.

    Dan begitu pula sistem program Stockfish 8, memiliki keunggulan 40 juta pengalaman manusia. Baik melalui pengalaman,  maupun penguasaan pengetahuan. Manusia, alam, hasil dan pekerjaan tidak digunakan lagi. Yang bekerja hanya  kecerdasan biotek dan infotek.

    Ini yang Kemudian ditaklukan, akhir cerita dan harapan telah tunda. Manusia hanya hidup diambang kekecewaan.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.