Hanya Ada Satu Kata Kerja di Teks Pancasila Itu - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Garuda Pancasila

Hasan Aspahani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 9 Maret 2020 07:42 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Hanya Ada Satu Kata Kerja di Teks Pancasila Itu

    Hanya ada satu kata kerja pada teks Pancasila kata penyair M Aan Mansyur. Dan dia jeli. Memang hanya ada satu kata kerja dan itupun dalam bentuk pasif "dipimpin". Selain itu pancasila disusun dalam kata sifat, kata benda, kata benda yang dibendakan, kata sandang, kata sifat yang dibendakan.

    Dibaca : 3.167 kali

     

    ITU kata penyair M Aan Mansyur. Dan dia jeli. Memang hanya ada satu kata kerja dan itupun dalam bentuk pasif "dipimpin".

    Selain itu Pancasila disusun dalam kata sifat, kata benda, kata benda yang dibendakan, kata sandang, kata sifat yang dibendakan.

    Benda. Benda. Benda. Konsep-konsep abstrak seperti kemanusiaan, keadilan, ketuhahan, persatuan, kerakyatan, dulu mungkin dibayangkan sebagai kehendak untuk menghadirkan, mewujudkan, mengadakan, apa yang abstrak dan selamanya abstrak itu.

    Kata "dipimpin" itu ada di sila ke-4, sila terpanjang, 9 kata, yang rumit dan sulit ditangkap konsepnya apa.

    Coba kita ingat:


    Kerakyatan
    yang
    dipimpin
    oleh
    hikmat
    kebijaksanaan
    dalam
    permusyawaratan/
    perwakilan.

    Saya lupa apa yang dulu diajarkan dalam penataran P4 di SMP, SMA hingga kuliah dulu. Oh ya, sekadar mengingatkan bagi yang pernah tahu, P4 itu singkatan dari Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila.

    Isinya adalah bagaimana rakyat berperilaku dalam negara persatuan Republik Indonesia ini, menurut penguasa, tentu saja.

    Itulah yang diajarkan dalam penataran bagi murid baru, mahasiswa baru, pegawai baru, pegawai yang hendak naik jabatan.

    Pihak yang kritis dulu menyebutnya indoktrinasi. Melawannya bisa dicap subversi. Negara sedang kuat sekali. Jargonnya saya ingat: stabilitas dan pertumbuhan. Hankamrata. Sesekali terdengar ekonomi kerakyatan. Juga kembang pemanis trickle down effect.

    Kebulatan tekad.

    Gebuk!

    Saya mencoba mengingat dan alhamdulillah saya masih hapal Pancasila. Saya mengingat lagi apakah perilaku saya hari ini masih sesuai dengan P4? Alhamdulillah masih. Dan hidup saya nyaman sekali. Kecuali bahwa saya ini penggerutu, tak tahan melihat negara dikelola dengan serampangan.

    Itulah rasanya yang menggiring saya menjadi jurnalis, saya ingin tetap menjaga elan kritis saya.

    Atas nama kecintaan saya pada Pancasila maka saya ingin menyusun ulang Pancasila menjadi teks yang lebih banyak kata kerjanya.

    Begini hasilnya:

    1. Aku bertuhan pada Tuhan yang Maha Esa.
    2. Aku hidup sebagai manusia yang memperlakukan sesama manusia dengan adil dan beradab.
    3. Aku mempertahankan persatuan Indonesia sampai kapanpun itu.
    4. Aku percaya pada sistem demokasi dan mewakilkan kepemimpinanku dan menuntut pengelola negara untuk berhikmat pada tindak yang bijaksana, dan selalu mengingat bahwa kekuasaan bersumber dari rakyat.
    5. Aku bersama seluruh rakyat Indonesia menuntut, memperjuangkan dan hidup dalam situasi sosial yang adil seadil-adilnya.

    Dengan lebih banyak kata kerja, rasanya saya lebih terbayang apa yang harus saya lakukan.

    Mohon maaf, Sukarno, Hatta, Soebardjo, mohon maaf bagi seluruh Panitia Sembilan. Tapi ini mungkin bisa membantu agar Pancasila itu lebih "terbeli" dan lebih "bunyi" bagi rakyat Indonesia hari ini. Tak usahlah dijajakan ke Korea Selatan dan Utara. Tak usahlah diketeng ke India juga.

     

                                                                              Jakarta, 8 Maret 2020.

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.