Sumber Daya Manusia dalam Industri Pariwisata - Analisa - www.indonesiana.id
x

Kawasan wisata Malioboro, Yogyakarta, yang selalu dipenuhi wisatawan. Foto: Tulus Wijanarko

Amelia Syafarani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 Maret 2020

Jumat, 27 Maret 2020 11:19 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Sumber Daya Manusia dalam Industri Pariwisata

    Dibaca : 1.453 kali

     

    Berdasarkan data edaran World Economic Forum (WEF) pada tahun 2019, pariwisata Indonesia menempati posisi peringkat keempat puluh dari seratus empat puluh negara yang terdaftar. Hal ini merupakan suatu peningkatan yang diraih cukup baik oleh Indonesia setelah tahun sebelumnya menempati posisi keempat puluh dua. Salah satu tolak ukur daya saing pariwisata dunia adalah kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang bergerak di industri pariwisata. Indonesia memiliki nilai 4.9 dari total nilai 7, dan memiliki tanda hijau muda yang berarti memiliki kualitas cukup baik.

    Beberapa hal yang berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia di industri pariwisata adalah mengenai pemahaman, kepekaan, dan kemampuan masyarakat dalam mengelola industri pariwisata. Seperti yang tengah terjadi selama kurun waktu kurang lebih enam tahun terakhir, pemerintah tengah gencar meningkatkan, dan mempromosikan industri pariwisata Indonesia. Kebijakan pemerintah yang mulai memprioritaskan industri pariwisata membuat para generasi muda melihat peluang yang cukup besar untuk bekerja di industri pariwisata. Hal ini mendorong banyak siswa lulusan sekolah menengah atas memilih pariwisata sebagai program studi untuk pendidikan lanjutan mereka.

    Fenomena tersebut relatif memberikan dampak positif terhadap industri pariwisata Indonesia di masa yang akan datang. Semakin banyak masyarakat yang mempelajari dan memahami ilmu pariwisata, semakin besar pula kemungkinan meningkatnya kualitas sumber daya manusia dalam industri pariwisata.

    Naiknya peringkat daya saing pariwisata Indonesia di dunia yang semula menempati posisi ketujuh puluh hingga dapat menempati posisi keempat puluh didorong pula dengan mulai diakuinya pariwisata sebagai ilmu mandiri di Indonesia. Ilmu pariwisata baru diakui sebagai ilmu mandiri pada tahun 2009. Awalnya masyarakat yang bergerak di industri pariwisata lebih menekankan pada kemampuan praktik yang bersinggungan langsung dengan interaksi antara host dan guest. Namun, industri pariwisata saat ini mulai melihat sudut pandang keilmuan yang lebih banyak mempelajari teori dan penelitian berkaitan dengan fenomena pariwisata di Indonesia.

    Industri pariwisata tidak hanya bertolak ukur pada pengelolaan destinasi wisata. Industri-industri pendukung berperan penting bagi keberlangsungan industri pariwisata. Industri restoran, misalnya, akhir-akhir ini banyak generasi muda yang mulai membuka usaha sendiri dalam bentuk membuka sebuah kafe, restoran, atau tempat perbelanjaan. Begitupun dengan industri perhotelan. Saat ini mulai bermunculan hotel-hotel baru yang menampilkan desain modern dengan harga yang relatif terjangkau.

    Fenomena bermunculannya usaha-usaha baru dalam industri pariwisata menandakan suatu peningkatan yang cukup positif. Hal itu menandakan masyarakat Indonesia mulai peka dan peduli terhadap perkembangan industri pariwisata di Indonesia. Meskipun sebagian dari pendiri usaha-usaha tersebut kurang memahami ilmu yang berkaitan dengan dunia pariwisata, tetapi keinginan untuk mulai bergerak sudah menjadi modal yang cukup baik.

    Langkah selanjutnya yang sebaiknya diambil oleh penggerak baru dalam industri pariwisata adalah mulai membekali diri dengan ilmu-ilmu dasar yang berkaitan dengan pariwisata. Bukan hanya sekadar ilmu yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dari sektor pariwisata melainkan sejarah munculnya pariwisata di Indonesia hingga kebijakan-kebijakan pemerintah yang mengatur mengenai kepariwisataan Indonesia. Hal tersebut dilakukan agar industri pariwisata berjalan dengan lancar dan tetap menjunjung tinggi serta melestarikan budaya Indonesia.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.