Ulah Corona, Pendapatan Pegawai Pabrik Menurun

Jumat, 10 April 2020 11:59 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Aby Putri Wijaya (IK2B)

Fakultas Komunikasi dan Desain

Universitas Informartika dan Bisnis Indonesia

Bandung- Pandemi Covid-19 atau yang lebih dikenal dengan wabah virus corona mulai memasuki Indonesia pada awal bulan Maret 2020. Wabah ini tidak hanya menimbulkan dampak bagi kesehatan, namun berdampak pula pada perekonomian. Dampak perekonomian ini sangat terasa bagi masyarakat, terutama masyarakat tingkat menengah kebawah. Hal ini disebabkan karena keputusan pemerintah untuk me lockdown beberapa kota Di Indonesia.

Wabah virus corona ini pun, berdampak pada ekonomi pegawai pabrik. Termasuk Juju, salah satu pegawai pabrik yang terkena dampak wabah ini. Juju, seorang karyawan pabrik di PT Papillon Panca Jaya Kecamatan Bojongloa Kidul Kota Bandung. Ia mengatakan bahwa semenjak wabah melanda, dirinya harus menerima kenyataan pahit berkurangnya nominal pendapatan karena gaji yang dipotong perusahaan akibat jam kerja yang dikurangi.  “Sangat merugikan bagi kami sebagai pegawai, karena yang biasanya gaji pokok ditambah lemburan itu bisa sedikit diatas UMK. Namun karena sekarang gaji dipotong, dapat setengahnya pun tidak.” ujarnya saat ditemui Senin (06/04/2020).

Juju mengatakan bahwa kenyataan pahit lainnya, tak hanya berkaitan dengan gaji. Pendapatan tambahan yang biasa ia dapatkan pun ikut menurun drastis. Hal ini dikarenakan, pendapatan lainnya, ia dapatkan dengan menjual roti atau jajanan kecil kepada rekan kerja nya. Dengan adanya, peraturan shift kerja membuat ia kehilangan konsumen atau teman-teman kerja nya.
"Sebelum kerja di shift kaya gini, teteh biasanya jualan roti atau jajanan kecil ke pegawai lain, lumayan kan buat tambah tambah pendapatan. Tapi semenjak di shift, susah untuk bertemu pegawai yang lain karena yang biasanya ramai ini bisa hanya 5 orang dalam satu ruangan." Sambungnya.

Perubahan jam kerja yang kini ditetapkan oleh pabrik, sudah sesuai dengan prosedur dari pemerintah. Perubahan jam kerja pabrik yang semula 6 hari dalam seminggu, kini berubah menjadi 2 hari kerja dan 4 hari libur karena pergantian shift pegawai lainnya. Hal ini dilakukan untuk melakukan social distancing.

Adanya perubahan sistem kerja tersebut membuat perekonomian menurun, Penurunan pendapatan para pegawai pabrik ini, tentunya menghambat kewajiban pembayaran yang dimilikinya seperti cicilan rumah, kendaraan, kebutuhan sehari-hari dan lainnya.

Selain itu, kebijakan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) turut menambah biaya kebutuhan sehari hari. Tuntutan biaya internet yang dibutuhkan untuk memfasilitasi PJJ, membuat pembengkakan biaya semakin besar, sedangkan penghasilan yang didapat belum tentu terpenuhi. “belum ditambah sekarang anak dirumah kan sekolahnya online ada tugas harus dikirimkan via online yang membutuhkan internet jelas menambah biaya kebutuhan.” Tukasnya.

Tak berbeda dengan kebanyakan orang, Juju berharap, pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia segera berakhir, agar kehidupan dapat kembali normal dan perekonomian tercukupi, seperti semula.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Aby putri Wijaya

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua