x

Pemudik yang terdiri dari satu keluarga naik motor di musim libur lebaran 2018 saat melintas di kawasan Karawang, Jawa Barat. Tempo/Fakhri Hermansyah

Iklan

Luthfi Ersa Fadillah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 20 April 2020 13:39 WIB

Mudik, Memang Masih Bermakna?

Dengan adanya pandemi corona ataupun tidak, Apakah mudik masih bermakna untuk dilakukan? Yang sebetulnya memiliki misi mudik paling bermakna tiada lain selain orang tua, bukan para cucu-cucu. Sungguh, hampir-hampir tidak ada kenangan yang melekat pada generasi “cucu” yang merupakan representasi remaja milenial itu...

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tidak ada yang salah bagi mereka yang sekiranya ingin kembali ke kampung halaman. Imaji tentang kebersamaan dengan tempat di mana memori-memori masa kecil seakan seolah hadir kembali. Sungkem kepada orang tua yang dulu berjuang keras banting tulang ke sana kemari untuk biaya anaknya agar bisa pergi ke kota demi kehidupan lebih baik. Tetapi, menyoal kegetiran yang hampir satu bulan ini menderu negeri kita akibat wabah pandemi seharusnya memaksa kita wajib refleksi diri, haruskah mudik?

Ijinkan saya bertanya, kapan terakhir kali Anda benar-benar merasakan mudik itu bermakna? Yakin benar saya bahwa setiap perjalanan menggunakan moda transportasi apapun akan seasik itu. Lepas penat dari hiruk pikuknya ibu kota. Tapi, sekali lagi, benarkah perjalanan mulih dhisik itu bermakna?

Sulit mengalihkan fakta bahwa zaman telah berubah. Pun masyarakat. Jangan hanya mengira bahwa kecepatan gerak perubahan hanya terjadi di wilayah kota saja melainkan masyarakat daerah pun juga demikian cepatnya. Adanya otonomi daerah memungkinkan laju pembangunan di daerah lebih cepat dari yang kita perkirakan. Tanpa disadari, gerak pembangunan itu mengikis kenangan-kenangan kita sedikit demi sedikit. Pertanyaan saya bertambah, apa lagi yang tersisa dari kenangan itu?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Bangunan-bangunan lama sudah terpugar menjadi gedung-gedung baru dengan sentuhan arsitektur yang lebih modern, hotel menjamur dimana-mana, mal sudah menjulang tinggi, kelompok-kelompok menengah atas mulai bermunculan. Dan, tak lupa terkadang jalan sudah sama macetnya meski tak separah ibu kota karena banyak kendaraan.

Tidak kah kita sering bergumam secara otomatis ketika melihat perubahan ini? “Ooh, dulu di sini ada ini nih...”, “dulu di sini tempat ini...sekarang sudah jadi ini...”.

Sekarang, mari kita cermati sedikit lebih mikro. Yang sebetulnya memiliki misi mudik yang paling bermakna tiada lain selain orang tua, bukan para cucu-cucu. Sungguh, hampir-hampir tidak ada kenangan yang melekat pada generasi “cucu” yang merupakan representasi remaja milenial dan ini mengkhawatirkan. Alih-alih ingin menikmati kenangan masa lalu, acap kali yang terlihat hanya imaji jarak antara “orang kota”-“orang daerah”.

Berapa banyak remaja-remaja yang dibawa ikut serta mudik dan sesampainya di sana hanya bersemedi dengan keasyikan personalnya sendiri. Terus berfokus dengan gadget masing-masing. Tetap menunduk mengalihkan basa-basi perbincangan dengan scrolling instagram atau toko online kesayangannya.

Ya, tak sulit memperkirakan situasinya: kalau dia anak yang supel, dia akan membaur dengan saudaranya yang lain atau bila sedikit “pemalu” ia akan duduk dekat-dekat dengan orang tuanya sembari mengicip suguhan kue-kue di meja tamu rumah kakek-neneknya.

Saya agak penasaran, seberapa banyak remaja-remaja ini ketika tiba di rumah kakek-neneknya lalu kemudian bercengkrama, berdialog tentang apapun. Sekedar bertanya kabar itu jelas hanya basa-basi. Satu-satunya dalam situasi absurd demikian, bentuk kerekatan sosial yang paling bisa dilakukan dengan saudara lain, apa lagi kalau bukan: Mabar.

Beberapa meme yang tersebar di internet lepas Hari Raya pun, ironinya, mengungkapkan sisi gelap para anak “pemalu” ini yang ternyata terpukau dengan perubahan-perubahan fisik saudarinya. “Mereka pikir, aku anak yang pendiam, mereka hanya tidak tahu sisi liarku,” begitu kira-kira.

Alih-alih menyusun pengalaman bermakna, tindakan masyarakat kota hanya mengobjektivasi kehidupan masyarakat di daerah. Lebih banyak keinginan bukan untuk bersilahturahmi dan bertemu sanak saudara sebetulnya, melainkan keinginan memenuhi stok foto di galeri untuk nanti mempercantik tampilan sosial media dan kegagahan atas pencapaian-pencapaian yang sudah didapat di kota.

Barangkali, terakhir adalah kebosanan yang paling fenomenal dari ujung mulih disik adalah ketika acara kumpul keluarga sebelum jepret sana jepret sini, yaitu makan bareng. Itulah momen percakapan kepo, sekali lagi basa-basi, tersebar menyerang tanpa arah. Anda mungkin salah satu korban yang pernah mengalaminya. Atau jangan-jangan Anda yang bertanya pertanyaan yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap diri Anda sendiri? Ups.

“Mau ambil jurusan apa nanti? Ambil yang pasti-pasti aja, sekarang orang lagi banyak masuk jurusan ini, loh.. Jangan lupa ambil kursus bahasa,”, “Gimana kuliahnya?”, “Udah punya pacar belum?”, ”Kerja dimana sekarang? Anak om / tante sekarang udah kerja di...”, “Udah ancang-ancang kapan nikah?”.

Bila katakanlah kita harus meringkas kebermaknaan mulih disik yang asli di era modern ini sebetulnya tidak akan lebih dari satu hari. Bersama kakek/nenek yang masih hidup dengan sungkem, mendengar seksama apa yang wejangan orang tua kita, dan sedikit memberikan timbal balik dalam bentuk oleh-oleh cerita perkembangan cucu seapa adanya, sembari mendoakan kesehatan di usianya yang renta. Pertanyaannya, perlu kah datang ke kampung halaman?

Ayolah, sungguh, sudah ada teknologi sudah mempermudah kita. Baik melalui suara dari telepon atau video calling agar canggihan sedikit. Di tengah wabah pandemi ini, jangan kita mempersulit hidup orang-orang yang kita sayangi, hidup masyarakat banyak hanya demi ego dan ambisi pamer kita saja.

Lagi pula, bahkan puasa aja belum, udah mikirin mudik...

Ikuti tulisan menarik Luthfi Ersa Fadillah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler