Membangun Karakter Siswa Melalui Olah Raga dan Olah Rasa - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Bek Lazio, Patric. Retuers

Agus Triyanto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Juli 2020

Jumat, 10 Juli 2020 06:51 WIB
  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Membangun Karakter Siswa Melalui Olah Raga dan Olah Rasa

    Dibaca : 1.010 kali

    MEMBANGUN KARAKTER SISWA MELALUI OLAH RAGA DAN OLAH RASA

    Drs.Agus Triyanto

    Guru SMKN 1 Giritontro

     

    Membangun dan membekali siswa menuju generasi emas Indonesia Tahun 2045 dengan jiwa Pancasila dan pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan merupakan sesuatu keharusan yang harus dikedepankan dalam pemdidikan untuk merawat kebinekaan. Karakter merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Penguatan Pendidikan Karakter sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara ini. 

    Krisis karakter akhir–akhir ini ditandai timbulnya penggunaan alat komunikasi yang tak bertanggungjawab sehingga memicu timbul meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan terhadap anak-anak dan remaja, kejahatan antar teman, penyalahgunaan obat-obat terlarang, dan masalah sosial lainnya yang hingga kini belum teratasi secara tuntas. Dengan demikian betapa pentingnya pendidikan karakter diajarkan terutama di sekolah.

    Bagaimanakah Mengimplementasikan Pendidikan Karakter disekolah?Model Pendidikan Karakter tidak mengharuskan siswa untuk terus menerus belajar di kelas. Namun mendorong agar siswa dapat menumbuh kembangkan karakter positifnya melalui berbagai kegiatan seperti halnya intrakurikuler, ekstrakurikuler dalam pembinaan guru. Perlu dipahami, bahwa pendidikan karakter sudah dilaksanakan di seluruh sekolahan. Namun perlu dilakukan terobosan agar pendidikan karakter ini bisa dilaksanakan secara konsisten oleh sekolah yang berdampak nyata.

    Guru dapat mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran di kelas dan mampu mengelola manajemen kelas.

    Kepala Sekolah dapat mendesain budaya sekolah yang menjadi ciri khas dan keunggulan sekolah tersebut. Selanjutnya sekolah mampu mendesain pelibatan publik guna meningkatkan peran serta orang tua dan masyarakat bahwa pendidikan karakter sangat penting dilaksanakan di setiap sekolah. Sebagai salah satu upaya pemerintah dalam menghadapi krisis moral yang sedang dihadapi bangsa Indonesia.

    Pengembangan karakter melalui Pendidikan Jasmani dan Olahraga selaras dengan  mementingkan keseimbangan antara moral knowing, moral feeling, dan moral action. Semboyan yang menyatakan orandum est ut sit men sana in corpore sano yang berarti didalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat merupakan semboyan pembentukan fisik merupakan bagian penting dari kesegaran pikiran atau jiwa, keseimbangan aktivitas fisik dan psikologis diperlukan.

    Pendidikan jasmani dan olahraga memiliki peran besar dalam upaya pengembangan karakter, karena kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani melibatkan; kognitif, afektif dan psikomotor. Hal tersebut selaras dengan teori belajar gerak yang meliputi tiga tahapan, pertama kognisi, kedua asosiasi dan ketiga otomatisasi.

    Pada bagian asosiasi inilah intervensi terhadap nilai-nilai karakter di asah. Kegiatan olahraga setiap komponen yang terlibat memiliki fungsi dan peran masing-masing. Ada pemain atau atlet, pelatih, masit, dan penonton. Masing-masing memiliki peran yang berbeda, dan tidak ada yang tumpang tindih, misalnya menjadi pemain sekaligus wasit, atau wasit sekaligus penonton.

    Karena kejelasan peran tersebut, maka secara ethics, olahraga dapat digunakan sebaga alat dalam membangun karakter bangsa. Pemain, pelatih, masit, dan penonton ketika berada di lapangan mematuhi peraturan yang berlaku, kesadaran mematuhi aturan tersebut menumbuhkan sikap disiplin, sportif dan bertanggung jawab.

    Seseorang yang melakukan aktivitas tersebut secara berulang-ulang, maka akan menumbuhkan kesadaran taat pada aturan yang berlaku, dan akhirnya memunculkan kebiasaan untuk hidup disiplin, sportif dan bertanggung jawab terhadap apa yang dia lakukan. Karakter akan kelihatan dari dimensi afektif dan tidak dapat diwakili oleh dimensi afektif.

    Karakter seseorang akan kelihatan dari kehidupan sehari-hari. Sikap jujur, disiplin, sportif, kerja sama dan bertanggung jawab dibangun melalui perilaku, “bukan teoritik” Dengan harapan dapat menguatkan karakter siswa melalui harmonisasi antara olah hati, olah rasa, olah fikir, dan olah rasa. Semoga harapan pemerintah bisa terwujud untuk mewujudkan Indonesia emas ditahun 2045.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.