Kontroversi Anies Baswedan di Antara Janji dan Reklamasi - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Pendemo berorasi dalam aksi menolak reklamasi Pantai Ancol di depan Balaikota Jakarta, Rabu, 8 Juli 2020. Pemberian izin reklamasi tersebut dinilai sebagai ironi dan melanggar janji kampanye Anies Baswedan. TEMPO/Muhammad Hidayat

Adjat R. Sudradjat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 13 Juli 2020 06:16 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Kontroversi Anies Baswedan di Antara Janji dan Reklamasi

    Dibaca : 895 kali

    Beruntunglah seorang yang menduduki jabatan Gubernur di DKI Jakarta - ibu kota negara Republik Indonesia. Karena paling tidak  Gubernur DKI Jakarta lebih banyak muncul dalam pemberitaan di media mainstream, baik media televisi, media cetak, maupun online, bila dibandingkan dengan kepala daerah lainnya.

    Setiap hari warga +62 selalu saja menemukan berita tentang kegiatan, kebijakan, sampai kontroversi sikap dan ucapan seorang Gubernur DKI Jakarta yang kebetulan sekarang ini dijabat oleh mantan Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan (Mendikdasbud) di dalam Kabinet Jokowi-JK, yakni Anies Rasyid Baswedan.

    Sehingga tidak heran kalau Anies  Baswedan selalu dianggap memiliki tingkat popularitas yang tinggi bila dibandingkan dengan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, atawa Ganjar Pranowo yang menjabat Gubernur Jawa Tengah, misalnya.

    Hanya saja apabila dicermati, popularitas Gubernur yang satu ini sepertinya cenderung lebih banyak hal yang kontroversinya,  ketimbang kebijakannya yang berpihak kepada rakyat banyak.

    Sebagaimana halnya dengan kebijakan ijin reklamasi pantai Ancol yang tengah menjadi sorotan sekarang ini yang mendapatkan kritikan dari berbagai pihak. Termasuk para pendukungnya sendiri yang merasa telah dibohongi.

    Para pendukungnya  yang habis-habisan memperjuangkan pasangan Anies-Sandi dengan segala cara agar memenangkan kontestasi Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, ahirnya harus menelan kekecewaan.

    Betapa tidak, sekarang ini Anies dianggap telah mengingkari kontrak politiknya, yakni menolak reklamasi pantai teluk Jakarta, dan dalam kenyataannya justru mengingkarinya.

    Sebagaimana yang diungkapkan KoordinatorRelawan Jaringan Warga (Jawara) Anies-Sandi,  Sanny A Irsan.

    Ia mengaku, para pendukung Anies merasa kecewa karena dulunya Anies pernah berjanji akan menghentikan semua reklamasi yang ada di Ibu Kota. Namun ternyata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengizinkan reklamasi kawasan Ancol dan Dunia Fantasi (Dufan).

    Atas kekecewaannya itu, Jawara bersama Forum Lintas Masyarakat Jakarta Utara dan Forum Komunikasi Nelayan Jakarta membuat pernyataan bersama, menolak Kepgub Nomor 237 Tahun 2020 itu. Kepgub itu telah bertolak belakang dari janji kampanye Anies yang dulu membuat para relawan mendukung Anies-Sandiaga Uno. Anies dinilai telah ingkar janji.

    Demikian juga halnya dengan Badan Musyawarah Masyarakat Betawi (Bamus Betawi). Melalui Ketua Badan Musyawarah Suku Betawi (Bamus Betawi), Zainuddin, meminta Anies Baswedan mengingat kembali memorinya saat kampanye Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI 2017.

    "Saya hanya mengingatkan. Anies-Sandi miliki jargon, tolak reklamasi. Saya inget betul, Anies sampaikan: Reklamasi tak lebih hanya membawa kemudaratan. Kalau kata orang Betawi, iya ilokan dah, sekarang malah dilanjutkan itu barang," kata Oding -- sapaan akrab  -- Zainuddin, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (3/7).

    Suatu hal yang wajar bila warga di DKI Jakarta harus kecewa, dan merasa telah dibohongi oleh Anies Baswedan. Bisa jadi karena warga Jakarta pun seakan-akan baru terbangun dari mimpi indah dalam tidurnya.

    Kita mengenal budaya suku Betawi selama ini yang begitu kental dengan nuansa Islami. Maka ketika 2015 mereka memiliki seorang Gubernur yang berasal dari golongan masyarakat minoritas, ditambah lagi dengan karakternya yang tegas dan tidak bisa diajak kompromi, yaitu Ahok, atawa BTP, warga pun tercengang, kaget bukan alang-kepalang. 

    Di satu sisi ada rasa bangga  lantaran menjanjikan banyak pembaharuan, sementara di sisi lain dihembuskan isu sentimen SARA  dari kelompok yang merasa asap dapurnya tak bisa mengepul lagi.

    Apalagi saat menjelang Pilgub selain muncul isu-isu negatif yang membabi-buta, hadir juga  janji-janji manis selezat hidangan dari sorga dari lawan politiknya yang dianggap lebih menjanjikan, karena berasal dari golongan minoritas yang kental dengan budaya Islami dari Timur Tengah sana.

    Apa boleh buat, warga Jakarta pun terkesima, dan kagum dibuatnya. Terlebih lagi tutur kata dan sikapnya yang menawan, ditambah dengan janji-janji yang banyak diobral, warga Jakarta pun terhipnotis seketika itu juga.

    Anies-Sandi pun langsung meraih 57,96 persen dukungan suara, dengan menyingkirkan pertahana, pasangan Ahok-Djarot yang harus jadi pecundang.

    Euforia kemenangan pun membahana saat itu dari 3.240.987 pendukungnya. Sementara Ahok, alias Basuki Tjahaja Purnama, selain harus menelan kekalahan, juga terpaksa harus meringkuk di penjara sebagai terpidana kasus penistaan agama.


    Lalu sekarang ini pendukung fanatiknya itu justru berbalik menggugatnya. 

    Yang menjadi pertanyaan, sejauh mana Anies Rasyid Baswedan mempertanggungjawabkan janji-janji manisnya itu?

    Itulah masalahnya.

    Anies tidak mencabut izin reklamasi pantai Ancol Jakarta itu. Sebaliknya mantan menteri pendidikan dasar dan kebudayaan itu berkelit dengan menyebut kegiatan yang dilaksanakan di pantai Ancol itu bukan reklamasi, melainkan hanya pengerukan muara sungai demi melindungi warga Jakarta dari bahaya banjir yang seringkali melanda wilayahnya.

    Apa tidak salah lumpur dari pengerukan muara sungai dibuang ke lahan seluas 155 hektar, dan disebut Anies bukanlah reklamasi melainkan perluasan daratan?

    Entahlah. Warga Jakarta pun geleng-geleng kepala. Bahkan menolaknya, dan meminta  Anies membuktikan janji-janjinya. ***


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.