Para Elite Politik Sudah Ngebet Pilkada - Analisa - www.indonesiana.id
x

ilustr: Sinode GKJ

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 27 Juli 2020 09:34 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Para Elite Politik Sudah Ngebet Pilkada

    Dibaca : 1.078 kali

    Mereka yang berpolitik ingin agar pemilihan kepala daerah atau pilkada diselenggarakan tahun ini. Walaupun pandemi mungkin belum selesai 100 persen pada Desember nanti, mereka ingin pergantian kepemimpinan daerah tetap berlangsung. Para petahana butuh kepastian legitimasi agar kepemimpinannya di periode berikutnya tidak diganggu gugat. Di sisi lain, mereka yang kebelet menjadi pejabat publik ingin segera terpilih, karena pilkada kali ini merupakan momen spesial.

    Mengapa spesial? Sebab, pilkada kali ini sangat mungkin akan lebih mengandalkan kekuatan media virtual, teknologi media sosial, maupun jejaring netizen ketimbang bentuk-bentuk media konvensional seperti kampanye lapangan maupun arak-arakan yang berisiko bagi penularan Covid-19. Bentuk-bentuk kampanye konvensional akan dibatasi, kecuali mungkin pemasangan alat peraga baliho, spanduk, dan bendera partai yang bersifat pasif dari partisipasi publik.

    Kecerdikan dalam memanfaakan media online akan memberi kontribusi bagi keunggulan kandidat kepala daerah. Bagaimana para kandidat mengeksplorasi media online, media sosial, serta televisi akan memengaruhi tingkat popularitasnya. Media-media ini juga menjadi sarana untuk menyampaikan visi misi maupun program—walaupun secara faktual mungkin hal-hal yang lebih substansial seperti ini kalah pamor dibanding popularitas dalam memengaruhi persepsi calon pemilih. Dalam situasi pandemi, rakyat boleh jadi tidak akan terlampau mempedulikan isu-isu visi, misi, dan program.

    Tidak mengherankan bila popularitas tetap menjadi isu penting bagi partai dan menjadi pertimbangan partai politik dalam memilih calon kontestan yang hendak diusung dan didukung. Raffi Ahmad, umpamanya, diincar oleh putri Wapres Ma’ruf Amin, Siti Nur Azizah, untuk mendampingi pencalonannya sebagai walikota Tangerang Selatan. Terlebih karena nama putri Wapres ini belum populer di masyarakat. Kehadiran Raffi Ahmad diharap mampu mendongkrak popularitasnya, walaupun keduanya sama-sama belum berpengalaman dalam politik maupun pemerintahan.

    Keterbatasan ruang kampanye dan sandaran pada popularitas dapat dimanfaatkan oleh elite politik untuk mendorong ke atas calon-calon yang mereka usung. Sulit dipungkiri bahwa figur-figur populer, baik anak atau kerabat elite politik serta selebritas, akan memperoleh liputan lebih sering dibandingkan calon lainnya. Media televisi akan menyediakan ruang lebih banyak bagi sosok Raffi Ahmad, seandainya ia memang serius terjun ke gelanggang, dibandingkan calon lain.

    Elite politik memiliki akses kepada media, sebab sebagian mereka juga pemilik media. Pada ahirnya, independensi media memang sulit dipertahankan manakala pemiliknya sekaligus orang penting partai politik. Keterbatasan akses kepada media maupun ketiadaan figur populer akan menyulitkan calon-calon lain untuk mampu bersaing. Elite politik memiliki keunggulan dalam perkara ini dan akan mengeksplorasinya semaksimal mungkin di tengah keterbatasan ruang kampanye secara fisik.

    Karena itulah, dalam rangka pilkada, konsolidasi politik di antara elite politik akan lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan jika situasi betul-betul normal. Perlawanan calon-calon yang berusaha memberi alternatif pilihan dalam pilkada akan relatif lebih sukar dilakukan kecuali mereka memiliki jejaring sosial yang kuat ikatannya dan luas distribusinya. Bagi elite politik, pilkada pada saat pandemi masih berlangsung akan lebih menghemat biaya pula. Bagi mereka, inilah momen konsolidasi yang terbaik dan mereka tidak akan menyia-nyiakannya. >>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.