Kongres Biasa Askot PSSI Depok 2020 dan Sepak Bola Akar Rumput akan Disentuh dengan Tertib - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Kongres PSSI Depok 2020

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 9 Agustus 2020 06:16 WIB

  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Kongres Biasa Askot PSSI Depok 2020 dan Sepak Bola Akar Rumput akan Disentuh dengan Tertib

    Di tengah kondisi prihatin, sebab Covid-19, dengan protokol kesehatan yang ketat, Asosiasi PSSI Kota Depok berhasil menyelenggarakan Kongres Biasa (KB) Sabtu, 8 Agustus 2020, di Gedung Dibaleka 2 Lantai 10 Kantor Wali Kota Depok, Jalan Margonda No. 54 Kota Depok.

    Dibaca : 1.386 kali


    Di tengah kondisi prihatin, sebab Covid-19, dengan protokol kesehatan yang ketat, Asosiasi PSSI Kota Depok berhasil menyelenggarakan Kongres Biasa (KB) Sabtu, 8 Agustus 2020, di Gedung Dibaleka 2 Lantai 10 Kantor Wali Kota Depok, Jalan Margonda No. 54 Kota Depok.

    Kendati pandemi corona masih melanda dan semakin merajalela di seluruh dunia tak terkecuali Indonesia, namun khususnya olah raga sepak bola di seantero dunia sudah memasuki normal baru. Terbukti Liga-Liga di Eropa, Kompetisi Klub Eropa dan Amerika pun telah kembali bergulir. AFC dan FIFA pun juga sudah menjalankan program-programnya.

    Pun PSSI, yang telah kembali melaksanakan pemusatan latihan timnas U-16, U-19, dan senior, serta akan menggulirkan Liga 1 dan 2.

    Sementara, berbagai klub amatir di luar Liga 1, 2, dan 3 serta sekolah sepak bola di seluruh Indonesia pun juga telah merumput.

    Karenanya, KB Asosiasi PSSI Kota Depok yang sejatinya terprogram pelaksanaannya di awal tahun 2020, ikut terimbas dan mundur hingga sekarang baru terlaksana.

    Meski saat ini, sesuai catatan Satuan Gugus Tugas Covid-19,
    Kota Depok juga masih menjadi satu-satunya Zona Merah Covid -19 di Provinsi Jawa Barat, namun dengan disipilin protokol kesehatan yang diterapkan, semoga usai KB, tidak terjadi hal yang tidak kita inginkan. KB Asosoasi PSSI Kota Depok tidak menjadi klaster baru penyebaran corona di kota zona merah ini. Aamiin.

    Mengingat KB dilaksanakan dalam kondisi pandemi, maka agenda KB pun hanya dibagi kedalam dua sesi, yaitu sesi pertama (Persiapan dan Pembukaan) dan sesi kedua adalah Sidang. Kedua sesi ini dilaksanakan sangat taat waktu. Secara keseluruhan KB yang dimulai tepat pukul 07.00 diakhiri pada pukul 12.00 WIB.

    Peserta kongres PSSI Depok, tertib protokol Covid-19

    Secara protokoler, KB dibuka dengan Doa, Menyanyikan Lagu Indonesia Raya, Menyanyikan Mars PSSI, Laporan Panitia Pelaksana, Sambutan Ketua Asosiasi PSSI Kota Depok, Sambutan Ketua KONI Kota Depok, Sambutan Wali Kota Depok, dan Sambutan Ketua Asprov PSSI Jawa Barat sekaligus membuka Kongres secara resmi.

    Kongres yang diikuti oleh seluruh Voter anggota Asosiasi PSSI Kota Depok yang terdiri dari 2 Klub Liga 3 Asprov PSSI Jabar (Depok United dan Persipu), 16 Klub Divisi Utama, 16 Klub Divisi I, 20 Klub Divisi II, dan 1 Asosiasi Futsal Kota Depok, berjalan lancar.

    Secara inti, KB juga telah mengesahkan Program Kerja Tahun 2020, dari hasil Review Program Kerja Tahun 2019, pengesahan perubahan nama klub dan akuisisi klub, serta pengesahan amandemen Statuta PSSI Kota Depok. Semoga program-program Askot PSSI Depok dapat berjalan sesuai rencana di tengah pandemi corona.

    Atas lancar dan suksesnya KB yang dibuka secara resmi oleh Ineu Nur Illah A, Md. mewakili Assosiasi Provinsi (Asprov) Jawa Barat, juga meminta agar semua agenda program tetap mematuhi protokol Covid-19 dan rekomendasi.

    Sementara, seusai Kongres ditutup, Ketua Umum Askot PSSI Depok, Mayadi Rakasiwi pun menyambut baik harapan yang saya sampaikan menyoal program afiliasi, pembinaan, dan kompetisi sepak bola kelompok umur/akar rumput (usia dini dan muda) yang akan digulirkan, sebab Askot PSSI Depok dapat menjadi contoh untuk Askot/Askab /Asprov di seluruh Indonesia yang menjadikan Klub dan SSB dalam satu wadah resmi, tidak terpisah/sendiri-sendiri.

    Afiliasi, pembinaan, dan kompetisi akar rumput.

    Terkait Program Kerja Tahun 2020 tentang kompetisi tingkat kelompok umur atau usia dini dan muda (akar rumput) baik tingkat internal maupun tingkat Asprov Jawa Barat. Saya menaruh harapan agar Askot PSSI Depok menjadi contoh menyoal afiliasi, pembinaan, dan kompetisi sepak bola akar rumput yang benar dan resmi dan Mayadi pun akan berupaya mewujudkan hal tersebut.

    Sehingga dalam pelaksanaan program nanti, semua klub anggota Asosiasi PSSI Kota Depok sudah memiliki SSB.

    Semisal, 2 Klub Liga 3, 16 Klub Divisi Utama, 16 Klub Divisi I, dan 20 Klub Divisi II, semuanya wajib memiliki SSB. Jadi secara otomatis, SSB di kota Depok akan ada 54.

    Sehingga saat digulirkan Piala Suratin berbagai kelompok Umur, maka meski namanya atas nama Klub, namun, semua klub sudah memiliki SSB.

    Setiap klub dapat melahirkan SSB atau melakukan kerjasama dengan SSB yang sudah ada, namun SSB tersebut tidak memiliki klub sebagai lanjutan pembinaannya.

    Ini adalah mimpi dan harapan yang sudah berulang kali saya sampaikan kepada PSSI melalui berbagai artikel yang sudah saya tulis, pun sudah lekat saya bicarakan dengan Direktur Teknik sebelumnya, Danurwindo, dan penerusnya, Indra Sjafri. SSB harus satu pintu, terafiliasi di PSSI (Askot/Askab/Asprov, dan PSSI pusat).

    Sebagai contoh, SSB di Kota Depok saat saya dirikan Asosiasi SSB Kota Depok (ASSBD) pada 2001, teregistrasi dan terafiliasi ada 30 SSB. Namun, saat SSB tersebut dinaikkan pangkatnya, diregistrasi dan diafiliasi oleh Pengcab PSSI Kota Depok (sebelum jadi Askot) pada tahun 2012, hanya tersisa 15 SSB yang bertahan secara administrasi maupun manajemen.

    Catatan saya, dari 15 SSB itu, kini di antaranya juga sudah menjadi bagian dari klub-klub anggota Asosiasi PSSI Kota Depok. Namun, dari 54 Klub yang ada, 2 Klub Liga 3, tak memiliki SSB, Berikutnya di Divisi Utama, dari 16 Klub, hanya 5/6 Klub yang memiliki SSB. Begitu pun di Klub Divisi II, tak lebih dari 5 Klub yang memiliki SSB. Pun di Klub Divisi II.

    Padahal, ASSBD masih diandalkan oleh Askot PSSI Kota Depok sebagai patner untuk pembinaan dan kompetisi SSB. Perlu dicatat, SSB anggota ASSBD, bukanlah anggota Askot PSSI Kota Depok bila tak diregistrasi dan afiliasi.

    Dari deskripsi tersebut, bila Klub Liga 1 PSSI, Liga 2, dan Liga 3 semua tertib memiliki SSB atau akademi misalnya, maka, menyoal sepak bola akar rumput, sejatinya telah tersolusikan.

    Dan, di Indonesia, SSB itu secara otomoatis ada menjadi bagian dari Klub anggota Askot/Askab, Asprov untuk Liga 3, dan PSSI pusat untuk Liga 1 dan Liga 2.

    Selama ini, banyak klub dan SSB yang didirikan bebas, maka, bila klub dan SSB itu bukan menjadi anggota resmi Askot/Askab/Asprov/PSSI, maka biarkan saja sebagai klub/SSB umum yang bukan menjadi tanggungjawab Askot/Askab/Asprov/PSSI.

    Jadi, kelengkapan sebuah klub adalah memiliki pembinaan dari akar rumput, sehingga pembinaan sepak bola akar rumput tidak akan lagi berceceran tak beraturan, menjamur begitu bebas karena tak diatur dan teratur.

    Bila selama ini SSB tak ada ujung pangkalnya menyoal subsidi dan bantuan anggaran pembinaan dan pelatihan, maka bila SSB resmi menjadi bagian dari sebuah klub, maka tidak akan ada lagi benang kusut menyoal sepak bola akar rumput.

    Dengan demikian, SSB tidak akan dapat didirikan bebas dan seenaknya sendiri tanpa ada regulasi seperti misalnya, klub anggota resmi PSSI dari tingkat Askot/Askab/Asprov/PSSI, wajib memiliki pembinaan SSB atau setiap SSB yang berdiri wajib ada klub di atasnya yang menaungi.

    Semoga Askot PSSI Depok dapat menjadi contoh dan pilot project dari hal ini. Imbasnya, nanti saat Piala Suratin di gelar di kelompok umur 13/15 tahun, secara internal di Askot/Askab/Asprov, maka setiap klub sudah memiliki SSB.

    Selanjutnya, saat Piala Suratin U-17/18 setiap Klub Liga sudah punya tim binaan dalam wadah SSB/akademi, dan Liga 1 dan Liga 2, saat menggulirkan Kompetisi Elite Pro Academy juga sudah memiliki SSB atau akademi sendiri.

    Dalam perjalanannya, setiap pemain binaan SSB/akademi di tingkat Askot/Askab/Asprov Liga 3/PSSI Liga 1 dan 2, Akan saling meminjam/mentransfer, tentunya akan ada kejelasan aturan dan regulasinya, tidak akan asal comot, dan kemudian mengaku-aku menjadi pembina gratisan.

    Bila selama ini sudah ada kompetisi SSB yang diselenggarakan oleh operator swasta, biarkan operator tersebut tetap berjalan demi menambah jam terbang dan pengalaman pemain, regulasinya tinggal menambahkan prasyarat SSB harus terafiliasi dengan sebuah klub yang menjadi anggota resmi Askot/Askab/Asprov/PSSI.

     

     

     

     

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.